Sukabumi Update

Leuwi Dingding dan Gunung Guha, Sumber Kehidupan Warga Sukabumi yang Terancam

Leuwi Dingding Sungai Cimandiri dan Gunung Guha yang Berada di Desa Tanjungsari Kecamatan Jampangtengah. (Sumber : SU/Ragil Gilang).

SUKABUMIUPDATE.com - Bukan sekadar aliran air, Sungai Cimandiri yang melintas di Leuwi Dingding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga sekitar. Sungai ini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan dasar, mulai dari pertanian, mandi, hingga mencuci, terutama saat musim kemarau.

Hal tersebut disampaikan oleh Hamiman Juanda (37 tahun), warga Leuwi Dingding, yang menjelaskan bahwa sumber air di wilayah tersebut tidak hanya berasal dari Sungai Cimandiri, tetapi juga dari mata air Gunung Guha.

“Air di Leuwi Dingding berasal dari beberapa mata air di Gunung Guha. Ada yang mengalir melalui sungai kecil seperti Sungai Cikecil, Sungai Cidano, dan Sungai Cibogo,” ujar Hamiman kepada Sukabumiupdate.com, Senin (09/02/2026).

Ia menambahkan, hingga kini masih ada warga yang mengambil air langsung dari mata air di bawah Gunung Guha, dengan jumlah titik mata air antara tiga hingga enam lokasi. Air tersebut dialirkan menggunakan selang atau pipa paralon, meskipun sudah ada sumur bor bantuan dari program CSR PT SCG.

Baca Juga: Panen Kopi di Purabaya, Kadistan Sukabumi Dorong Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing

“Selain untuk mandi dan mencuci, air dari Gunung Guha juga dimanfaatkan untuk mengaliri sawah tadah hujan, terutama saat musim hujan. Bahkan di hulu Sungai Cimandiri, tepatnya di Bendungan Leuwi Kadu, airnya digunakan untuk irigasi sawah,” jelasnya.

Hamiman mengungkapkan bahwa sebelum adanya aktivitas pertambangan, kawasan Gunung Guha dikelola oleh Perhutani. Berdasarkan informasi yang ia ketahui, kawasan tersebut kemudian mengalami tukar lahan dengan lokasi di wilayah Tegalbuled, meskipun tahun pastinya tidak diketahui, namun diduga terjadi sebelum eksploitasi tambang dimulai.

“Di bawah Gunung Guha terdapat beberapa mata air yang digunakan warga untuk mandi, cuci, kakus, seperti Mata Air Cikubang dan mata air lainnya,” katanya.

Namun, setelah adanya aktivitas pertambangan, warga mulai merasakan perubahan kualitas dan kuantitas air. Menurut Hamiman, air kini terasa lebih kesat, dan saat musim kemarau debit mata air menurun drastis, bahkan ada yang mengering.

“Antara Gunung Guha dan Leuwi Dingding itu satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.

Baca Juga: PHK Ratusan Jurnalis Berujung Mundurnya Bos The Washington Post, Will Lewis

Selain perkampungan Leuwi Dingding di Desa Tanjungsari, wilayah yang terdampak dan bergantung pada Gunung Guha antara lain Kampung Cijambe (Desa Tanjungsari), Kampung Kadupugur (Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung), serta Kampung Cibanteng (Desa Sukamaju, Kecamatan Nyalindung).

Hamiman juga menyoroti kondisi Jembatan Gantung Leuwi Dingding yang kini putus dan belum diperbaiki. Jembatan tersebut merupakan akses penting bagi warga Leuwi Dingding (Jampangtengah), Kadupugur (Nyalindung), Leuwiliang (Cikembar), serta Kebon Jati (Gunung Guruh).

Ia menduga, intensitas dan dampak banjir yang semakin parah memiliki keterkaitan dengan kondisi Gunung Guha yang semakin gundul akibat aktivitas pertambangan bahan baku semen. 

“Dulu memang sering banjir, tapi tidak sampai membuat jembatan putus. Paling hanya perbaikan lantai jembatan saja, itu sebelum 2015,” ungkapnya.

Baca Juga: Hari Pers Nasional 2026: Sejarah HPN, Tema Tahun Ini dan Download Logo HPN

Ia mencatat, banjir terparah terjadi pada tahun 2019, disusul tahun 2022 yang menyebabkan tembok penahan tanah (TPT) jembatan jebol, hingga akhirnya pada tahun 2025 banjir kembali terjadi dan mengakibatkan jembatan gantung putus total.

Terkait jembatan roboh tersebut, Hamiman menyebut sudah ada pertemuan lintas pihak yang diinisiasi oleh Camat Jampangtengah pada Rabu, 21 Januari 2026. Salah satu kesepakatan dalam pertemuan itu adalah rencana kolaborasi pembangunan jembatan antarinstansi, termasuk melalui CSR SCG.

“Namun sampai sekarang belum ada informasi lanjutan terkait realisasi pembangunan jembatan tersebut,” pungkas Hamiman.

Sementara itu dikonfirmasi terpisah, terkait tukar lahan di wilayah Tegalbuleud, Kepala Desa Rambay, Yanto menjelaskan bahwa lahan pengganti berupa Tanah Negara (TN) berada di Desa Rambay dan Desa Calingcing, Kecamatan Tegalbuleud pada periode 2009–2010, dengan luas sekitar lebih dari 600 hektare. Saat ini, sebagian lahan tersebut telah masuk dalam program hutan sosial dan digarap oleh warga.

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT