SUKABUMIUPDATE.com - Satu dekade perjalanan sandiwara Sunda Atret Jadi Potret dirayakan dalam pagelaran bertajuk “Tertarik” (Teater-Tari-Musik) di Secret Garden, Kota Sukabumi, Sabtu (14/2/2026) malam. Pementasan tersebut bukan sekadar perayaan usia karya, tetapi juga menjadi penanda hidupnya kembali denyut teater rakyat di tengah masyarakat.
Karya garapan Bob Muslim itu kembali dipentaskan di ruang terbuka dengan balutan teater rakyat yang berpadu unsur tari dan musik tradisi. Suasana intim, reflektif, dan penuh simbol terasa sejak awal pertunjukan, seolah mengajak penonton menyelami potret sosial yang ditawarkan di atas panggung.
Ketua Paguyuban Seni Budaya Kota Sukabumi, Bob Muslim, mengatakan peringatan satu dekade ini memiliki makna penting bagi perjalanan sandiwara Sunda di daerah tersebut. “Pagelaran tadi malam memperingati satu dekade sandiwara sunda Atret jadi Potret yang pernah jadi juara tingkat provinsi jabar dan 5 terbaik tingkat nasional, selain itu juga menjadi titik awal revitalisasi sandiwara sunda di kota sukabumi,” ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Minggu (15/2/2026).
Baca Juga: Razia Akhir Pekan, 84 Botol Miras Disita di Jalan Lingkar Selatan Sukabumi
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut digagas oleh Paguyuban Seni Budaya Kota Sukabumi bersama KOTAKAMI (Komunitas Teater Kota Sukabumi), serta didukung oleh Secret Garden, Museum Kipahare, Soerawoeng Warna, dan Sanggar Adijaya.
Secara artistik, Atret Jadi Potret memotret kejujuran manusia dalam bingkai teater rakyat. Tokoh Atret digambarkan sebagai sosok sederhana, jujur, dan teguh pada pendiriannya. Namun di tengah masyarakat yang sarat prasangka, kejujuran justru dipandang sebagai kekurangan.
Cara berjalan Atret yang selalu mundur menjadi metafora dramatik tentang manusia yang memilih bertahan dengan caranya sendiri ketika hidup terus diganjal tekanan sosial, stigma, dan penilaian sepihak. Gerak tubuh, dialog sederhana, serta irama musik tradisi menyatu menjadi bahasa estetik yang komunikatif dan ritmis, menjangkau penonton lintas latar belakang.
Baca Juga: Pantai Ujunggenteng Ramai Dikunjungi, Wisatawan Antusias Coba Wahana Kayak Jelang Ramadan
Seorang penonton menilai, pertunjukan ini tidak berhenti pada hiburan semata. Atret Jadi Potret menyampaikan pesan kemanusiaan yang tajam: agar masyarakat tidak terburu-buru melabeli seseorang sebagai tidak waras, sebab sering kali justru empati sosial yang lebih dulu memudar.
Pesan “Yo ODGJ” yang mengemuka dalam pementasan menjadi sindiran keras terhadap stigma yang masih lekat di ruang publik. Dalam narasi yang membumi namun reflektif, kejujuran ditampilkan sebagai sikap yang sunyi, rapuh, namun paling berani.
Selama satu dekade, Atret Jadi Potret bukan hanya menjadi karya seni pertunjukan, tetapi juga simbol perlawanan terhadap penghakiman sosial. Pementasan ulang ini sekaligus menegaskan komitmen para pegiat budaya untuk terus merawat dan merevitalisasi sandiwara Sunda sebagai warisan sekaligus medium refleksi sosial di Kota Sukabumi.
Editor : Ikbal Juliansyah