Sukabumi Update

Barongsai Gie Say Ikon Sukabumi, Warisan Budaya yang Tak Ditemukan di China

Gie Say, atraksi barongsai Widhi Sakti saat membuka pawai budaya Cap Go Meh 2023 lalu di Kota Sukabumi. (Sumber : (Sumber: sukabumiupdate/saddam).

SUKABUMIUPDATE.com - Malam menjelang Imlek di Sukabumi selalu punya denyutnya tersendiri. Tabuhan tambur menggema, aroma dupa perlahan memenuhi udara, dan barongsai bersiap menyambut pergantian tahun di pelataran vihara.

Namun di antara barongsai yang kini tampil ringan dan atraktif, ada satu yang tetap bertahan dengan bentuk lama—lebih berat, lebih sederhana, dan menyimpan jejak sejarah panjang: Barongsai Gie Say.

Bagi Persaudaraan Gie Say Sukabumi, barongsai bukan sekadar hiburan tahunan. Ia adalah warisan yang tumbuh dari perguruan, dari latihan fisik, dan dari proses akulturasi budaya yang berlangsung di Kota Sukabumi.

Sesepuh Persaudaraan Gie Say Sukabumi, Wan Gus Halim, menuturkan bahwa barongsai di komunitasnya berawal dari perguruan silat. “Kalau zaman dahulu itu dimulai dari perguruan silat. Mereka menggunakan barongsai untuk permainan otot. Gie Say itu akulturasi antara China dan Indonesia,” ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Senin (16/2/2026).

Baca Juga: Polemik Huntap dan Ajukan 5.360 Rumah Rusak, BPBD Sukabumi-Pemdes Lembursawah Temui BNPB

Dari awal itulah karakter Gie Say terbentuk bukan sekadar meniru tradisi Tiongkok, tetapi berkembang melalui tafsir lokal masyarakat Sukabumi.

Menurut Wan Gus Halim, bentuk barongsai Gie Say memiliki ciri khas yang tidak ditemukan di tempat lain, bahkan di pusat kebudayaan Tiongkok sekalipun. “Karena ini dibuat di Sukabumi dengan bentuk begini saya cari ke pusatnya nggak ada satu pun mirip. Kita ambil lambang dari abu dupa, pinggirnya ada gambar singa. Orang tua kita dulu,” katanya.

Detail abu dupa dan ornamen singa menjadi identitas visual yang membedakan Gie Say dengan barongsai modern. Ia lahir dari kreativitas generasi terdahulu, bukan dari pabrikan atau standar kompetisi.

Persaudaraan Gie Say sendiri disebut telah berdiri sebelum tahun 1952. Pada masa itu, barongsai yang dimainkan masih berbentuk asli dari China. Perubahan terjadi ketika generasi lama mulai membuat bentuk baru yang khas. “Berdirinya sebelum tahun 1952 cuman pada saat itu barongsai bukan seperti ini tapi barongsai asli dari China. Setelah dibuat, kita generasi penerus tidak menemukan jejak yg pasti tahun berapa, kita ambil acuan dari pembuatan barong Gie Say. Dia mengatakan dibuat tahun 1952,” ungkapnya.

Tahun 1952 kemudian dijadikan tonggak pembuatan barongsai khas Gie Say yang dikenal hingga kini.

Arsip sejarah persaudaraan Gie Say.Arsip sejarah persaudaraan Gie Say.

Bobot Berat sebagai Filosofi Latihan

Jika barongsai masa kini rata-rata berbobot 3 hingga 5 kilogram, Gie Say bisa mencapai 12 sampai 15 kilogram. Perbedaan bobot ini membuat gerakannya tidak selincah barongsai kompetisi modern. “Pada dasarnya semua hampir sama, cuma kita polos. Karena berat jadi tidak bisa selincah yang lain. Yang lain 3-5 kg, Gie Say ini 12-15 kg,” jelas Wan Gus Halim.

Namun berat itu bukan kekurangan. Dalam tradisi awalnya, barongsai memang dirancang sebagai bagian dari latihan fisik untuk membangun kekuatan dan daya tahan. “Menurut cerita orang tua dulu itu sengaja dibuat untuk melatih otot. Yang mendirikan itu Tung Gi Ken,” katanya.

Baca Juga: Muara Indah Cikaso Ramai Pengunjung, Botraman dan Mancing Daya Tarik Jelang Ramadan

Nama Tung Gi Ken dikenang sebagai tokoh yang meletakkan dasar berdirinya persaudaraan sekaligus pengembangan barongsai Gie Say di Sukabumi.

Seiring perkembangan zaman, barongsai pun berubah. Kini ia tidak hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga cabang olahraga prestasi. “Sekarang barongsai sudah berkembang. Ada yang tradisi dan prestasi. Kalau prestasi di bawah KONI, masuk ke cabor dan telah dipertandingkan di Aceh,” ujarnya.

Perkembangan itu turut memengaruhi bentuk barongsai secara umum. Pada 1957, barongsai Gie Say sempat dibuat kembali dengan ukuran yang sedikit lebih kecil. “Akibat dari perkembangan ya itu agak sedikit kecil, dibuat lagi tahun 1957,” tuturnya. Meski menyesuaikan zaman, karakter khasnya tetap dipertahankan.

Rangkaian Imlek di Vihara Widhi Sakti

Di sisi lain, perayaan Imlek di Kota Sukabumi terpusat di Vihara Widhi Sakti. Rangkaian acara telah disiapkan sejak malam pergantian tahun, dimulai dari atraksi barongsai hingga penyalaan lilin.

Staf pengurus vihara, Dani Tirta, menjelaskan bahwa rangkaian perayaan dibagi menjadi tiga sesi utama. “Untuk sesi malam ini akan dibagi menjadi 3 sesi, untuk dari jam 8 sampai jam 10 kita akan melakukan atraksi barongsai penghormatan dari Persaudaraan Gie Say terhadap Yang Mulia Kongco Han Tan Kong, lalu dilanjutkan dengan ibadah bersama, lalu jam 12 sampai jam 1 kita ada penyalaan lilin,” ujarnya.

Atraksi barongsai menjadi pembuka sebagai simbol penghormatan dan doa keselamatan. Setelah itu, umat mengikuti ibadah bersama sebagai ungkapan syukur menyambut tahun baru. Tepat saat pergantian hari, penyalaan lilin dilakukan sebagai simbol harapan dan doa untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

Perayaan tersebut tidak hanya menjadi agenda ritual, tetapi juga ruang kebersamaan bagi umat dan masyarakat sekitar.

Identitas yang Bertahan

Di tengah modernisasi barongsai yang semakin kompetitif dan atraktif, Gie Say tetap mempertahankan bentuknya. Ia mungkin tidak tampil di atas tonggak tinggi seperti barongsai kejuaraan, tetapi ia membawa sejarah yang tidak ringan.

Ia lahir dari perguruan silat, dibentuk oleh akulturasi budaya, dan tumbuh bersama komunitas Tionghoa Sukabumi lintas generasi.

Baca Juga: 45 Ucapan Tahun Baru Imlek 2026, Terselip Doa dan Harapan

Ketika malam Imlek tiba dan barongsai Gie Say kembali bergerak mengikuti irama tambur, yang ditampilkan bukan hanya seni pertunjukan. Di balik setiap langkahnya, ada jejak sejarah, latihan ketahanan, dan identitas lokal yang tak tergantikan.

Barongsai itu mungkin tak ditemukan di China. Tetapi di Sukabumi, ia menemukan rumahnya.

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT