SUKABUMIUPDATE.com - Suasana pilu dirasakan oleh Yanti Susanti (52) penyintas bencana pergerakan tanah di Desa Lembursawah, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. Di tengah kondisi rumah yang retak dan atap bocor, ia menetap meski dihantui kecemasan. Ramadan telah tiba, tetapi ia dan keluarganya masih bertahan di rumah yang tak lagi kokoh.
Desember 2024 menjadi titik balik hidupnya. Pergerakan tanah memaksa ratusan warga mengungsi. Yanti termasuk satu dari sekitar 292 kepala keluarga yang harus meninggalkan rumahnya. Berbulan-bulan ia tinggal di hunian sementara di Kampung Puncak Bitung, hingga akhirnya masa tinggal itu berakhir.
“Kemarin udah selesai tinggal di huntara. Sekarang saya harus kembali lagi ke rumah asal yang sudah rusak dan miring,” kata Yanti kepada sukabumiupdate.com, Kamis (19/2/2026).
Kini, bersama lima anggota keluarganya, ia kembali menghuni bangunan yang tak lagi sepenuhnya aman. Lantainya tak rata, dindingnya condong, dan setiap hujan turun, rasa waswas ikut mengguyur. Di atas rumahnya, sebuah batu besar sisa longsoran menggantung seperti ancaman yang tak pernah benar-benar pergi.
Baca Juga: Suasana Berburu Takjil Hari Pertama Puasa di Perum BCA Cidahu Sukabumi
“Pergeseran tanah itu menyebabkan ada batu gede yang di atas itu takut jatuh apalagi posisi rumah saya dekat dengan batu itu. Itu yang dikhawatirkan. Apalagi kalau hujan ga tenang aja. Rumah udah pada bocor apalagi sekarang bulan puasa,” ucapnya lirih.
Ramadan biasanya identik dengan kehangatan: suara azan magrib yang dinanti, aroma takjil dari dapur, dan keluarga yang berkumpul untuk berbuka. Namun bagi Yanti, Ramadan kali ini dibayangi kekhawatiran. Ia tak hanya memikirkan ibadah, tetapi juga keselamatan keluarganya saat hujan turun di tengah malam.
Padahal secercah harapan sebenarnya sudah berdiri tak jauh dari sana. Sebanyak 70 unit hunian tetap telah dibangun di Kampung Leuwimalang, Desa Lembursawah. Rumah tahan gempa (RTG) Riksa itu diproyeksikan bagi warga yang rumahnya rusak berat akibat bencana.
Baca Juga: Hari Pertama Puasa Ramadan, Kawasan Bundaran Surade Dipadati Warga Berburu Takjil
“Untuk sekarang ingin secepatnya pemerintah itu mengeluarkan uang untuk 70 unit rumah supaya kami bisa menempatkan rumah yang baru,” harap Yanti.
Baginya, menempati rumah baru bukan sekadar pindah alamat. Itu berarti memulai Ramadan tanpa rasa takut, menunaikan tarawih tanpa khawatir atap bocor, dan membangunkan sahur tanpa dihantui suara gemuruh tanah.
Ketua Forum Masyarakat Desa Lembursawah, Randi Firmansyah, mengatakan 70 unit tersebut memang diprioritaskan bagi warga dengan kategori kerusakan berat. Daftar penerima sudah tersedia dan lahan telah disiapkan. Namun hingga kini, rumah-rumah itu belum dapat dihuni.
Baca Juga: Jam Kerja ASN Kota Sukabumi Berubah Selama Ramadan, Disiplin Tetap Ditekankan
“Yang 70 sudah ada listnya itu untuk yang rusak berat. Hari ini lahan yang disiapkan pihak desa sudah ada. Akan tetapi hunian yang baru dibangun belum bisa ditempati karena belum ada pembayaran dari pihak pemerintah,” ujarnya.
Secara keseluruhan, sekitar 170 rumah terdampak akibat pergerakan tanah, dengan 292 jiwa menjadi penyintas. Warga berharap, setidaknya 70 unit yang telah rampung bisa segera ditempati, agar mereka tidak lagi menyambut bulan suci dalam kondisi serba tak pasti.
“Totalnya 170 rumah yang terdampak. Kami akan mengawal advokasi bagaimana pembangunan sampai akhir,” kata Randi.
Baca Juga: Cek Fakta: Undian Haji dan Umroh Gratis 2026 dari Kementerian Agama Itu Hoax!
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah mengajukan bantuan relokasi kepada BNPB. Namun pembangunan 70 unit hunian tetap tersebut disebut tidak melalui koordinasi dengan pemerintah daerah.
“Di sana sudah ada pembangunan (hunian tetap) ada 70 unit, tapi dari 70 unit itu tanpa sepengetahuan pemerintah daerah. Masyarakat ingin ada kepastian, karena tidak ada laporan pembangunan itu kita kan bingung pertanggungjawabannya,” ucap Ade.
Ia menjelaskan, secara mekanisme biasanya dana bantuan disalurkan lebih dulu ke rekening penerima manfaat sebelum pembangunan dilakukan. Dalam kasus ini, rumah dibangun lebih dahulu sementara anggaran belum tersedia.
Baca Juga: Syok Usai Dibegal, Pedagang Sayur Asal Bojonggenteng Sempat Enggan Berjualan
“Yang ngebangunnya ada PT ada CV, tapi enggak bilang dulu ke kita. Biasanya uang itu masuk ke rekening masyarakat, dari masyarakat mengajukan ke PT untuk dibangunkan, kalau ini kebalik dibangunkan dulu tapi uangnya belum ada. Makanya kita akan berusaha, pengusaha kasihan, masyarakat juga udah lama, apalagi sekarang menghadapi ramadan dan lebaran,” paparnya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, telah menginstruksikan BPBD untuk kembali menindaklanjuti pengajuan anggaran ke BNPB.
“Oleh karena itu besok kita akan kejar lagi ke sana, karena dulu sudah diajukan DSP (Dana Siap Pakai), tapi dari sana berubah jadi berbentuk hibah, kita udah ajukan mungkin mengajukan di Februari 2025,” ungkapnya.
Di tengah proses yang masih berjalan itu, Yanti hanya punya satu doa sederhana: bisa menyambut Ramadan di rumah yang aman. Bukan lagi di bawah atap bocor dan ancaman batu besar, melainkan di hunian yang memberi rasa tenang.
Sebab bagi Yanti, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah tentang ketenangan. Dan ketenangan itu, hari ini, masih ia tunggu bersama kunci rumah yang belum bisa diputar.
Editor : Ikbal Juliansyah