Sukabumi Update

NS Meninggal dengan Luka Bakar, Pihak Ponpes Ungkap Kondisi Terakhir

Dokumentasi terakhir memperlihatkan NS sedang berjalan beriringan bersama teman sebaya di Ponpes Darul Ma'arif, Cibitung, Kabupaten Sukabumi dalam acara libur menjelang Ramadan. (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga besar Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) dan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Cibitung, Kabupaten Sukabumi, atas meninggalnya NS (13), siswa kelas 1 SMPIT Darul Ma’arif, pada Kamis (19/2/2026) di RSUD Jampangkulon.

Kepergian santri kelahiran 21 Januari 2013 itu meninggalkan kesedihan mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi guru, pengurus pondok, serta rekan-rekannya. NS tercatat sebagai siswa SMPIT Darul Ma’arif yang berlokasi di Kampung Cileungsir RT 05/02, Desa Cibodas, Kecamatan Cibitung.

Belum genap satu tahun menuntut ilmu di pesantren tersebut, NS berpulang dalam kondisi mengenaskan dengan luka bakar di hampir seluruh tubuhnya.

Baca Juga: Ayah NS Ungkap Dugaan Kekerasan Sempat Dilaporkan Tahun Lalu, Damai Usai Dimediasi

Pimpinan Ponpes Darul Ma’arif, Abdurrahman, mengaku terkejut saat menerima kabar kondisi kritis almarhum.

“Kami sangat kaget saat mendapat informasi pada Kamis pagi dari ayahnya bahwa NS dirawat di RSUD Jampangkulon dalam kondisi kritis. Sore harinya kami kembali mendapat kabar bahwa almarhum telah meninggal dunia. Saya langsung berangkat ke rumah sakit,” ujar Abdurrahman kepada Sukabumiupdate.com, Sabtu (21/2/2026).

Pertemuan terakhir pihak pondok dengan NS terjadi pada 15 Sya’ban atau Selasa, 3 Februari 2026. Saat itu, pesantren menggelar kegiatan menjelang libur Ramadan. Karena asrama tengah dalam tahap pembangunan, seluruh santri dipulangkan ke rumah masing-masing.

NS kemudian kembali ke Kampung Talagasari, Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, dan tinggal di rumah ibu sambungnya. Para santri dijadwalkan kembali ke pesantren pada 1 Ramadan untuk melanjutkan kegiatan belajar.

Baca Juga: Ayep Zaki Beberkan Keberhasilan Pimpin Kota Sukabumi dalam 1 Tahun

Menurut Abdurrahman, selama mondok tidak pernah ada keluhan terkait almarhum.

“NS itu santri yang aktif, pintar, sopan, dan humoris. Bahkan sehari sebelum libur panjang, dia masih bermain bola di halaman sekolah bersama teman-temannya,” kenangnya.

Selama masa liburan, pihak pondok sempat menerima informasi dari ayahnya bahwa NS pernah berobat ke Puskesmas Jampangkulon. Bahkan lima hari sebelum meninggal dunia, almarhum masih diajak berkunjung ke rumah keluarga di Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, dalam kondisi sehat.

Namun kondisi yang dilihat pihak pesantren saat menjenguk di RSUD Jampangkulon sangat memprihatinkan.

“Saat kami melihat langsung di rumah sakit, kondisi tubuhnya cukup mengkhawatirkan dengan luka bakar,” ungkap Abdurrahman.

Baca Juga: Sembari Menangis, Ayah NS Ceritakan Cita-cita Sang Anak yang Ingin Jadi Kiyai

Operator SMPIT Darul Ma’arif, Sogirin, juga mengenang almarhum sebagai siswa yang aktif dan mudah bergaul.

“Almarhum anak yang baik dan disayangi banyak pihak, baik oleh teman-teman, pengurus, maupun warga sekitar pondok. Setiap ada yang berkunjung ke pesantren, banyak yang menanyakan kabarnya,” ujarnya.

Sebagai bentuk perhatian, pihak pesantren bahkan memberikan keringanan biaya pendidikan serta bantuan kebutuhan belajar, termasuk kitab, karena melihat semangat dan kepribadian almarhum.

Kini suasana duka masih terasa di lingkungan SMPIT dan Ponpes Darul Ma’arif. Doa terus mengalir untuk almarhum, sementara pihak pesantren berharap peristiwa yang menimpanya dapat terungkap secara jelas.

“Kami sangat kehilangan. Semoga almarhum husnul khatimah dan semoga kejadian ini bisa terungkap dengan terang,” tutup Abdurrahman.

Editor : Asep Awaludin

Tags :
BERITA TERKAIT