Sukabumi Update

Ditipu Travel Bodong, 14 Jemaah Umrah Sukabumi Sempat Terlantar, Dana Rp300 Juta Raib

Apriyanto, kuasa hukum 14 korban travel bodong saat diwawancarai. (Sumber: SU/Ilyas Supendi)

SUKABUMIUPDATE.com - Sebanyak 14 jemaah umrah asal Kabupaten Sukabumi diduga menjadi korban penipuan travel hingga harus terlantar selama empat hari di Bandara Soekarno-Hatta. Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Sukabumi sejak Desember 2025 dan kini masih menunggu perkembangan penyelidikan dari pihak kepolisian.

Kuasa hukum para korban, Apriyanto dari APR Law Office, mengatakan kedatangan pihaknya ke Polres Sukabumi untuk menanyakan perkembangan laporan yang telah diajukan beberapa bulan lalu.

“Hari ini kami sengaja datang ke Polres Kabupaten Sukabumi untuk menanyakan perkara yang telah kami laporkan di bulan Desember. Kami menanyakan SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan), dan alhamdulillah sudah diberikan oleh penyidik terkait perkembangan perkaranya yang berkaitan dengan penipuan,” ujarnya kepada awak media, Rabu (25/2/2026).

Baca Juga: Santriwati di Cicantayan Sukabumi Diduga Jadi Korban Pelecehan Dai Kondang Pimpinan Ponpes

Apriyanto menjelaskan, dugaan penipuan tersebut berkaitan dengan pemberangkatan umrah oleh travel PT Hasan Berkah Wisata. Dalam kasus ini, kliennya yakni H. Dodi dan Ulpat diduga menjadi pihak yang bekerja sama dengan travel tersebut untuk merekrut jemaah.

Menurutnya, sekitar November 2025 terdapat rencana pemberangkatan umrah setelah adanya kesepakatan antara kliennya dengan pemilik travel untuk mengumpulkan jemaah di wilayah Kabupaten Sukabumi, termasuk dari Pelabuhanratu dan sejumlah desa lainnya.

“Setelah direkrut, terkumpul 14 orang jemaah. Mereka kemudian menyetor biaya umrah ke PT Hasan Berkah Wisata yang dipimpin oleh Agung Hardiansyah,” kata Apriyanto.

Ia menyebut total dana yang disetorkan jemaah mencapai sekitar Rp300 juta, dengan kisaran biaya per orang sekitar Rp30 jutaan. Namun, permasalahan baru terungkap saat para jemaah tiba di Bandara Soekarno-Hatta.

“Klien kami baru mengetahui saat di bandara bahwa visa, tiket, dan seluruh dokumen perjalanan diduga palsu dan telah diedit,” jelasnya.

Karena merasa bertanggung jawab kepada para jemaah yang hendak beribadah ke tanah Suci, kliennya akhirnya mengambil langkah untuk menalangi biaya keberangkatan secara mendadak agar jemaah tetap bisa berangkat.

Baca Juga: Ibu Tiri Jadi Tersangka, AKBP Samian Ungkap Penanganan Laporan Dugaan Penelantaran NS oleh Ayah Kandung

“Kurang lebih sekitar Rp500 juta yang ditalangi. Dari dana awal sekitar Rp300 juta, akhirnya ditambah agar keberangkatan bisa terlaksana dalam waktu beberapa hari, karena ini menyangkut ibadah dan tanggung jawab moral kepada jemaah,” ungkapnya.

Apriyanto menambahkan, sebelumnya kliennya pernah merekrut jemaah umrah melalui travel lain dan tidak pernah mengalami permasalahan. Kerja sama dengan travel tersebut merupakan yang pertama kali.

“Kami menghimbau instansi terkait untuk mengecek PT Hasan Berkah Wisata. Jika memang bodong atau ada pelanggaran, tolong ditindaklanjuti agar tidak ada korban lain,” tegasnya.

Berdasarkan SP2HP yang diterima, kata Apriyanto, penyidik disebut telah melakukan gelar perkara dan berencana melayangkan surat panggilan kedua kepada terlapor. Bahkan, surat penjemputan juga dikabarkan telah diterbitkan. “Namun sampai saat ini terlapor belum diketahui keberadaannya. Intinya kabur,” kata dia.

Baca Juga: Ini Lokasi Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 di Kabupaten Sukabumi, Lengkap!

Sementara itu salah satu korban, Usup Junansyah, mengungkapkan bahwa awal mula kejadian bermula saat dirinya diminta oleh pihak travel PT Hasan Berkah Wisata yang beralamat di Desa Berkah, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, untuk mencari jemaah umrah di wilayah Sukabumi.

Menurutnya, travel yang dipimpin Agung Herdiansyah itu memberikan iming-iming bonus besar serta bantuan perizinan travel umrah. Tawaran tersebut membuat pihaknya percaya dan akhirnya merekrut jemaah.

“Awalnya kami disuruh mencari jemaah di Kabupaten Sukabumi oleh PT Hasan Berkah Wisata. Selain kerugian materi, kami juga sangat terbebani secara moral kepada para jemaah,” ujar Usup.

Ia menyebut, total dana awal yang disetorkan ke pihak travel mencapai sekitar Rp300 juta. Namun, karena merasa bertanggung jawab kepada jemaah yang hendak berangkat ibadah, pihaknya akhirnya harus menalangi biaya keberangkatan hingga sekitar Rp500 juta.

Usup menuturkan, para jemaah sempat mengalami tekanan batin yang berat saat mengetahui keberangkatan mereka bermasalah. Bahkan, mereka sempat menangis dan terpukul karena gagal berangkat.

“Kami empat malam di bandara. Sebelum berangkat itu kami sampai menangis. Beban moralnya luar biasa, karena jemaah sudah siap semua untuk ibadah,” ungkapnya.

Editor : Asep Awaludin

Tags :
BERITA TERKAIT