SUKABUMIUPDATE.com - Keluhan terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di TK Kartini 1 Nagrak, Lapang Gumbira, Desa Nagrak Selatan, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, diungkapkan oleh salah satu orang tua murid berinisial M. Sebagai orang tua, ia mengkritik kualitas menu yang diterima anaknya semakin menurun dan akhirnya berdampak pada kebiasaan makan sang buah hati.
M mengatakan, anaknya merupakan salah satu penerima MBG yang dibagikan setiap hari. Pada awal pelaksanaan, menurutnya menu masih cukup baik. Namun belakangan, ia menilai kualitas makanan yang diberikan semakin tidak sesuai.
“Dulu masih lumayan bagus, sekarang makin carut marut. Saya sebenarnya bukan tipe yang suka komplain, walaupun ada beberapa ibu-ibu yang sempat mengeluhkan rasa,” ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (27/2/2026).
Baca Juga: Waspada! Hoaks Nomor Telepon Catut Nama Kadistan dan Staf Dinas Pertanian Sukabumi
Ia mengaku mulai merasa keberatan setelah beberapa kali menemukan menu yang dinilai kurang layak, mulai dari sayuran yang sudah tua hingga olahan yang menurutnya tidak tepat untuk anak usia taman kanak-kanak.
“Dari mulai buncis tua yang dimasak, sampai sekarang anak saya jadi trauma makan sayur. Padahal sebelumnya dia termasuk anak yang apa saja dimakan,” katanya.
Menurutnya, salah satu menu yang diterima berupa olahan seperti spageti atau bento yang dicampur dengan toge dan saus. Ia menilai sajian tersebut tidak sesuai dengan selera dan pemahaman anak terhadap jenis makanan tersebut.
Baca Juga: Pedagang Roti Asal Purabaya Meninggal Saat Singgah di Warung Warga Cibadak
“Anak sekarang kan sudah paham rasa spageti itu seperti apa. Masa spageti dicampur toge,” ujarnya.
Ia juga menyoroti beberapa menu sebelumnya yang dinilai tidak layak disajikan untuk anak-anak TK, seperti bagian tunggir ayam, kulit ayam yang diolah menyerupai ayam krispi namun tanpa daging, hingga tulang kerongkong ayam.
Selain itu, M juga mengaku pernah menemukan roti dalam kondisi sudah berjamur yang diterima anaknya. “Anak saya kebagian roti berjamur,” katanya.
Baca Juga: Warganet Ragukan Kesiapan Tol Bocimi Seksi 3 Bisa Dilintasi Arus Mudik Lebaran
Keluhan tersebut, lanjut M, sudah beberapa kali disampaikan kepada pihak sekolah. Ia bahkan mengaku sempat meminta waktu untuk bertemu dengan kepala sekolah. Namun hingga kini, ia belum berhasil melakukan pertemuan langsung.
“Saya sudah beberapa kali komplain dan minta waktu ketemu, tapi belum ketemu juga,” ujarnya.
Ia juga menyebut sebelumnya ada pembagian tugas pengawasan dari koordinator kelas, namun beberapa bulan terakhir dapur penyedia disebut berpindah dan orang tua tidak lagi memantau secara langsung.
Menurutnya, keluhan tidak hanya datang darinya. Ia menyebut banyak orang tua lain yang juga menyampaikan keberatan terkait rasa dan kualitas makanan.
M berharap pelaksanaan MBG di sekolah anaknya dapat dievaluasi agar kualitas makanan lebih diperhatikan dan sesuai untuk anak usia dini. “Harapannya dievaluasi. Jangan makin carut marut,” pungkasnya.
Editor : Ikbal Juliansyah