Sukabumi Update

Pergerakan Tanah di Cijambe Bantargadung Meluas: Rusak 25 Bangunan Termasuk Ponpes, 4 KK Mengungsi

Kondisi bangunan Ponpes yang terdampak pergerakan tanah di Kampung Cijambe Bantargadung Sukabumi, Jumat (27/2/2026). (Sumber Foto: P2BK Bantargadung)

SUKABUMIUPDATE.com – Bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe RT 005 RW 007, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan kian meluas. Kondisi terkini menunjukkan eskalasi kerusakan yang signifikan akibat guyuran hujan deras selama hampir sepekan terakhir.

Berdasarkan laporan hasil tinjauan Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Bantargadung pada Jumat (27/2/2026), pergerakan tanah yang terpantau sejak Minggu (22/2/2026) ini telah berdampak pada puluhan rumah warga serta fasilitas pendidikan keagamaan.

P2BK Bantargadung, Sihabudin mengungkapkan, bahwa intensitas hujan sedang hingga tinggi dalam waktu lama menyebabkan kondisi tanah semakin labil.

"Bencana ini akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam waktu lama. Kondisi tanah menjadi labil karena jenuh air. Retakan pada dinding dan lantai rumah warga terus bertambah dan masih kami pantau secara berkala,” ujar Sihab dalam laporan tertulis yang diterima sukabumiupdate.com.

Baca Juga: Drainase Buruk Picu Pergerakan Tanah di Cijambe Bantargadung, 10 Rumah Warga Retak-Retak

Dampak Kerusakan Masif di Satu Wilayah RT

Sihab menyebut, total terdapat 25 unit bangunan yang terdampak dalam satu wilayah RT, dengan rincian sebagai berikut:

  • Rusak Berat (5 Bangunan): Mencakup empat rumah tinggal milik keluarga Diding S (3 jiwa), Linda Farida (4 jiwa), Muhamad Buhori (3 jiwa), dan Ade Elly Saputra (3 jiwa), serta satu bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) milik Muhamad Abdul Muizzul Falah yang dihuni sekitar 20 jiwa.
  • Rusak Sedang (6 Rumah): Menimpa enam kepala keluarga (KK).
  • Rusak Ringan (14 Rumah): Tercatat 14 unit rumah mengalami retakan di beberapa bagian struktur.

"Akibat kerusakan berat tersebut, empat kepala keluarga terpaksa mengungsi ke rumah sanak saudara terdekat demi keamanan jiwa. Sementara penghuni pondok pesantren berada dalam pengawasan dan kewaspadaan ketat," tambah Sihab.

P2BK Bantargadung telah melakukan koordinasi lintas sektor dengan perangkat desa, kecamatan, Koramil, hingga Polsek terkait kejadian ini. Ia menegaskan, pemantauan akan terus dilakukan secara kontinu guna mengantisipasi kemungkinan pergerakan tanah susulan, terutama jika hujan kembali turun deras.

“Kami mengimbau warga agar tetap waspada. Jika retakan semakin melebar atau terdengar suara pergerakan tanah, segera keluar rumah dan laporkan kepada aparat setempat. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Saat ini, lanjut Sihab, kebutuhan mendesak yang diperlukan adalah pengkajian kondisi tanah oleh pihak berwenang untuk memastikan tingkat kerawanan serta menentukan langkah mitigasi lanjutan, termasuk kemungkinan perkuatan struktur tanah atau relokasi apabila situasi dinilai membahayakan. 

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT