SUKABUMIUPDATE.com - Bencana pergerakan tanah yang melanda Kampung Cijambe RT 005 RW 007, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, menyisakan duka mendalam. Bangunan Pondok Pesantren Ariyadul Falah kini rata dengan tanah setelah mengalami retakan parah hingga ambruk total.
Pimpinan Pondok Pesantren Ariyadul Falah, H. Abdul Muis, menuturkan detik-detik mencekam saat bangunan mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
“Awalnya lama-kelamaan semua bangunan itu retak. Saya juga pas dengar suara retakan panik,” ujarnya, saat di temui sukabumiupdate.com pada Senin (2/3/2026).
Baca Juga: Tumbang 2-1 di Emirates, Chelsea Gagal Tembus Lima Besar Liga Inggris
Ia mengungkapkan, suara retakan terdengar jelas dan berulang kali, bahkan disertai bunyi gemuruh dari dalam tanah.
“Selalu ada suara bunyi retakan tembok ‘krek-krek’ seperti ada suara gemuruh,” katanya.
Menurutnya, tidak ada tanda-tanda gempa sebelumnya. Retakan terjadi secara tiba-tiba tanpa isyarat apa pun. “Dibilang ada isyarat gempa mah nggak ada, tiba-tiba langsung retak aja begitu,” ungkapnya.
Baca Juga: Vilmei Nangis Akun TikTok 68,8 Juta Followers Diblokir Permanen
Akibat kejadian tersebut, kata Abdul Muis, sebanyak 80 santri dan santriwati terpaksa dipulangkan ke rumah masing-masing. Mayoritas santri berasal dari luar daerah Sukabumi, sehingga situasi ini semakin menyulitkan.
“Saat ini santri dan santriwati sudah disuruh pulang dulu ke rumahnya masing-masing, karena di sini mayoritas dari luar daerah Sukabumi,” jelasnya.
Ia menambahkan, tidak ada lagi tempat yang bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar karena bangunan sudah ambruk total. “Karena nggak ada tempat juga, semenjak pergerakan tanah sudah ambruk total,” katanya.
Baca Juga: KOPKAR PT Muara Tunggal Bagikan Rp 7,13 M, Bukti Koperasi Jadi Solusi Finansial Karyawan
Bangunan pesantren yang terdampak terdiri dari 16 kamar santri laki-laki dan tiga kompleks bangunan, dua kompleks untuk santri laki-laki dan satu kompleks untuk santri perempuan, termasuk masjid yang turut terdampak pergerakan tanah.
Hingga saat ini, pihak pesantren mengaku belum mendapatkan solusi konkret terkait keberlangsungan pendidikan para santri. “Gak ada solusi,” ucapnya singkat.
H. Abdul Muis berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah maupun para dermawan agar pesantren bisa kembali berdiri dan para santri dapat melanjutkan pendidikan mereka.
Baca Juga: Bolehkah Keramas Siang Hari Saat Puasa? Berikut Penjelasannya
“Saya juga lagi memikirkan bagaimana santri dan santriwati bisa belajar lagi. Mudah-mudahan ada dermawan yang membantu,” harapnya.
Editor : Fitriansyah