SUKABUMIUPDATE.com - Pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Cijambe RT 005 RW 007, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, diduga kuat dipicu penggundulan hutan perkebunan di kawasan atas pemukiman warga. Ada penebangan pohon skala besar, pembukaan lahan untuk pembangunan kandang peternakan yang diduga menjadi pemicu bencana.
Sejumlah warga menyebut, sebelumnya wilayah tersebut tak pernah mengalami pergerakan tanah. Sejak area perkebunan karet di atas lereng diratakan dan pepohonan ditebang, bencana mulai terjadi, terlebih saat musim hujan dengan intensitas tinggi.
“Jadi turun ke warga. Sebelumnya belum pernah kena pergerakan tanah. Semenjak ada pepohonan ditebang jadi rata, sekarang musim hujan jadi kena dampaknya,” ujar salah seorang warga terdampak, Anisa Agustina.
Menurut Anisa, aktivitas alat berat sudah berlangsung sejak 2025. Ia mengaku melihat langsung penggunaan alat berat meratakan lahan.
Baca Juga: Sinopsis Setan Alas!, Teror Mahasiswa di Villa Tua Penuh Misteri
"Beko, doser, semuanya ada. Kan kelihatan, kelihatan. Ya karena udah ada apa sih, pohon-pohon kan udah mulai ditebangin jadi udah kelihatan terbuka," ungkapnya.
Warga juga mengaku bahkan sempat melakukan aksi protes ke pemerintah desa, pada tahun 2025. Menyampaikan keberatan. namun aspirasi tersebut tak mendapat tanggapan serius.
“Warga sudah demo ke desa, tapi nggak ditanggapi. Malah katanya diizinkan. Sementara kami yang kena dampak nggak pernah dimintai izin,” ungkapnya.
Baca Juga: Komisi III DPR Bahas Kasus Kematian NS: Soroti Dugaan Keterlibatan Pihak Lain
Anisa Agustina mengungkapkan bahwa lahan tersebut rencananya akan dijadikan perkebunan buah serta proyek peternakan sapi, termasuk pembangunan kandang sapi. Namun, kata dia, tidak pernah ada sosialisasi maupun persetujuan kepada masyarakat sekitar.
“Setahu saya kalau mau bikin PT atau proyek seperti itu harus ada izin dari masyarakat. Ini nggak ada sama sekali,” tegasnya.
Kini, setelah pergerakan tanah terjadi dan berdampak pada pemukiman, warga mendesak agar aktivitas di kawasan atas segera dihentikan.
Baca Juga: Dhini Aminarti Gelar Perempuan Berlari 2026, Berikan Semangat Women Support Women
“Untuk saat ini kita mohon kepada aparat setempat pengen di-stop! STOP! Kembalikan hutan kami!” teriak warga.
Mereka juga menuntut adanya penghijauan kembali di kawasan lereng guna mencegah dampak lanjutan. Warga yang sudah terdampak pun berharap mendapatkan relokasi atau hunian layak.
“Kami yang sudah kena dampak pengen ada tanah atau pemukiman yang layak. Sekarang disuruh kumpul di pengungsian, tapi ini bulan puasa, makan nggak ada, apa-apa nggak ada,” keluh warga.
Baca Juga: IRT Tewas Terjebak Kebakaran Rumah di Pabuaran Sukabumi
Sementara itu, Camat Bantargadung membenarkan adanya kondisi lahan yang gundul di bagian lereng atas. Ia menyebut, faktor pergerakan tanah tidak hanya dipengaruhi curah hujan tinggi, tetapi juga kondisi lingkungan.
"Ya memang, karena pergerakan tanah itu selain ada pengaruh curah hujan, pengaruh kekuatan tanahnya, memang ada pengaruh juga dari lingkungan ya sekitar kaitan dengan penghijauan terutama. Dan kita kemarin dari Forkopincam sudah ngecek ke lokasi paling atas di lahan penduduk yang perkebunan perorangan, terus ada perbatasan perkebunan perusahaan," Kata dia.
"Ternyata memang di situ pas lereng juga tidak ada tanaman-tanaman, sudah terpotong habis, penggundulan istilahnya. Ya itu juga mempengaruhi lah, selain curah hujan yang intensitasnya lebih tinggi gitu," sambungnya.
Editor : Fitriansyah