SUKABUMIUPDATE.com - Di sebuah sudut Kota Sukabumi, di lingkungan Pondok Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka, bunyi halus bambu yang diraut menjadi irama keseharian. Dari ruang sederhana itu, jejak tinta memulai perjalanannya, melintasi batas negara, menjangkau 14 penjuru dunia.
Ialah M. Syamsudin, sosok di balik pulpen kaligrafi berbahan bambu yang kini digunakan para pecinta seni kaligrafi di Timur Tengah hingga Amerika. Di tangannya, bambu tak lagi sekadar tanaman yang tumbuh lebat di tanah Sukabumi, melainkan medium yang menghidupkan huruf-huruf.
Pulpen kaligrafi buatannya dirancang untuk menghadirkan karakter garis yang tak bisa dihasilkan oleh pulpen biasa. Ia memahami betul perbedaannya.
Baca Juga: Ditemukan Terbungkus Kresek, Bayi di Parungkuda Alami Hipotermia dan Dirawat Intensif
“Pulpen biasa hanya satu garis, kalau kaligrafi lebar,” ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Senin (2/3/2026).
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung esensi seni kaligrafi: permainan tebal dan tipis yang membentuk keindahan. Bambu menjadi pilihan utama karena daya tahannya dan kualitas goresannya.
“Pulpen kaligrafi rata-rata terbuat dari bambu, kualitasnya lebih bagus, hasil tulisannya lebih bagus. Di Timur Tengah itu nggak ada bambu,” katanya.
Ketiadaan bambu di Timur Tengah justru membuka peluang pasar. Dari Sukabumi, produk itu berlayar ke Dubai, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Mesir, Turki, Brunei, Malaysia, Singapura, India, Pakistan, Belanda, Amerika, dan Kanada. Empat belas negara yang menjadi saksi bahwa karya dari pesantren di Kota Sukabumi mampu berdiri sejajar di pasar global.
Baca Juga: Geger di Parungkuda: Bayi Laki-Laki Ditemukan Terbungkus Plastik Hitam di Kebun Warga
Permintaan datang dari toko perlengkapan kaligrafi, kolektor, hingga pembelian perorangan. Untuk pembeli individu, rata-rata pemesanan mencapai sekitar 30 item. Harganya bervariasi, mulai dari 1,5 dolar hingga 12 sampai 14 dolar per item, tergantung jenis dan kualitasnya.
“Bahan bakunya pun berakar dari tanah sendiri. Kebetulan di Sukabumi banyak sekali bambu,” tutur Syamsudin.
Ia memanfaatkan bambu berdiameter kecil sekitar 8–10 milimeter hingga bambu yang diolah dan dibentuk menjadi mata pena. Jenis seperti bambu bitung dan bambu gombong menjadi andalan dalam proses produksi. Setiap potongan dibentuk dengan ketelitian, menghadirkan mata pena yang kuat sekaligus halus saat digunakan.
Baca Juga: Bulan Merah di Malam 13 Ramadan 1447 Hijriah: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026
“Kenapa bambu itu ya karena Selain dia kuat, dan hasilnya juga lebih halus,” ujarnya.
Dari bilah-bilah bambu yang dahulu mungkin hanya menjadi bagian dari lanskap hijau Sukabumi, kini lahir karya yang menyentuh kertas-kertas di berbagai belahan dunia. Jejak tinta itu tak sekadar membentuk huruf, tetapi juga menegaskan satu hal: bahwa dari kota kecil pun, dunia bisa dijangkau.
Editor : Ikbal Juliansyah