Sukabumi Update

Kisah Haru Eja, Anak Yatim Asal Kebonpedes yang Rindu Bertemu Keluarga

Eja Juli (15 tahun), anak yatim binaan Yayasan Rehab Hati Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi | Foto : Ragil Gilang/Sukabumiupdate

SUKABUMIUPDATE.com - Bulan Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri selalu identik dengan momen kebersamaan keluarga. Di saat sebagian orang menyiapkan perjalanan pulang kampung dan merajut kembali kehangatan keluarga, ada pula mereka yang hanya bisa menyimpan rindu dalam diam.

Perasaan itu dirasakan Eja Juli (15 tahun), seorang anak yatim asal Kampung Pamoyanan Peuntas, Desa Kebonpedes, Kecamatan Kebonpedes. Sejak usia dua tahun, Eja telah kehilangan sosok ayah yang menjadi tempat bersandar. Sementara ibunya tinggal di wilayah Takokak, Kabupaten Cianjur, dan hingga kini jarang ia temui.

Kondisi ekonomi keluarga membuat Eja harus diasuh oleh bibinya yang hidup dalam keterbatasan. Hingga akhirnya, pada bulan Ramadan tahun lalu, seorang tokoh masyarakat yang merupakan tetangga bibinya membawa Eja ke Yayasan Rehab Hati di Kabupaten Sukabumi.

Baca Juga: Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas Resmi Ditahan KPK Terkait Korupsi Kuota Haji

Di yayasan, kehidupan baru Eja dimulai.

Pengasuh sekaligus pembina harian Yayasan Rehab Hati, Entis Sutisna, menuturkan bahwa yayasan tersebut berdiri sejak 2017 di Jalan Kebon Jambu, Desa Tanjung, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi. Yayasan ini dipimpin oleh Ketua Yayasan Ustaz Jamaludin dan fokus membina anak-anak yatim.

“Di sini kami tidak hanya memberikan pendidikan agama, tapi juga membekali anak-anak dengan keterampilan hidup,” ujar Entis kepada sukabumiupdate.com, Kamis (12/3/2026).

Menurutnya, saat ini terdapat tujuh anak yatim yang dibina di yayasan tersebut. Mereka mendapatkan pendidikan agama melalui jalur tahfidz Al-Qur’an dan hadits, yang menjadi program utama pembinaan.

Selain itu, anak-anak juga diajarkan berbagai keterampilan seperti berkebun, beternak, hingga pengenalan metode pengobatan tradisional Tibbun Nabawi sebagai bagian dari pembelajaran life skill.

Selama hampir satu tahun tinggal di yayasan, Eja menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Ia telah menghafal dua juz Al-Qur’an dan terus menjalani proses pendidikan serta pembinaan.

Namun di balik semangat belajarnya, Eja tetap menyimpan kerinduan mendalam kepada keluarganya. Selama setahun berada di yayasan, ia hanya dua kali pulang ke rumah bibinya. Momen Ramadan dan Lebaran seringkali menjadi waktu paling berat bagi dirinya.

Baca Juga: 750 Personel Gabungan Siap Amankan Lebaran di Sukabumi, Polisi Antisipasi Titik Macet dan Wisata

Saat berbincang dengan Sukabumiupdate.com, Eja perlahan mengungkapkan perasaan yang selama ini ia simpan. Kerinduannya kepada sang ayah yang telah tiada, serta ibunya yang lama tak ia temui, membuat emosinya tak terbendung. Air mata pun mengalir di pipinya. Suaranya bergetar, sebelum akhirnya tangis pecah.

Di tengah suasana Ramadan yang seharusnya penuh kebahagiaan bersama keluarga, Eja hanya bisa memeluk kenangan dan harapan—bahwa suatu hari ia dapat kembali merasakan hangatnya berkumpul dengan orang-orang yang ia rindukan.

Bagi Eja, belajar di yayasan bukan hanya tentang menghafal Al-Qur’an atau menimba ilmu agama. Lebih dari itu, ia sedang berusaha membangun masa depan, sambil tetap menjaga harapan kecil di hatinya: berkumpul kembali dengan keluarga yang ia cintai.

Editor : Syamsul Hidayat

Tags :
BERITA TERKAIT