SUKABUMIUPDATE.com – Warga Kampung Cilampahan, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, menghadapi kesulitan serius dalam mengakses layanan kesehatan akibat kondisi jalan yang rusak parah.
Jalan darat yang berbatu, berlubang, dan berubah menjadi lumpur saat hujan membuat kendaraan, termasuk ambulans desa, tidak dapat menjangkau wilayah pelosok kampung.
Seorang warga setempat, Yusuf, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut telah lama dirasakan masyarakat.
“Kalau ada warga sakit atau ibu mau melahirkan, ambulans tidak bisa masuk. Jadi kami harus cari cara lain,” ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (27/3/2026).
Menurut Yusuf, terdapat dua alternatif yang biasa dilakukan warga dalam kondisi darurat. Bagi warga yang tinggal dekat jalan perkebunan menuju Pasir Salam, pasien biasanya ditandu dengan berjalan kaki. Sementara bagi warga yang berada di bantaran Sungai Cikaso, akses tercepat adalah menggunakan perahu.
Baca Juga: Nekat Melintas saat Arus Balik Lebaran, 35 Truk di Sukabumi Ditilang Polisi
Salah satu kasus dialami oleh seorang pasien bernama Wawan (45), warga RT 05/06 Kampung Cilampahan. Karena lokasi rumahnya dekat Sungai Cikaso, ia terpaksa dibawa menggunakan perahu menuju Rumah Sakit Jampangkulon.
Setibanya di dermaga Sungai Cikaso, Kecamatan Cibitung, pasien kemudian dijemput ambulans milik Pemerintah Desa Sumberjaya.
Pelaksana Tugas Kepala Desa Sumberjaya, Upan Supandi, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa penggunaan jalur sungai menjadi solusi paling memungkinkan dalam kondisi saat ini.
“Memang benar ada warga Cilampahan yang harus menggunakan perahu. Kondisi jalan darat sangat sulit dilalui karena bebatuan dan banyak lubang. Untuk warga yang dekat Sungai Cikaso, alternatif paling mudah adalah lewat sungai, nanti dijemput ambulans di dermaga Sungai Cikaso untuk dibawa ke RS Jampangkulon,” jelasnya.
Lebih lanjut, Upan menambahkan bahwa pasien tersebut memiliki riwayat penyakit gula kering dan telah difasilitasi oleh pemerintah desa melalui program Gakinda (Keluarga Miskin Daerah).
Baca Juga: Sanksi Disiplin Menanti ASN-P3K yang Mangkir, Pemkot Sukabumi: WFA Bukan Libur Tambahan
Pasien diketahui berangkat ke rumah sakit pada 3 Maret, kemudian menjalani tindakan amputasi pada 4 Maret. Setelah itu, pasien masuk ke rumah singgah pada 8 Maret 2026.
Proses kontrol kesehatan dilakukan secara berkala, yakni kontrol pertama pada 16 Maret, kontrol kedua pada 25 Maret, dan kontrol ketiga dijadwalkan pada 6 April 2026.
Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat akses jalan yang layak sangat dibutuhkan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan warga, terutama dalam situasi darurat.
Warga pun berharap adanya perbaikan infrastruktur jalan agar mobilitas dan akses layanan kesehatan dapat berjalan lebih optimal.
Editor : Asep Awaludin