SUKABUMIUPDATE.com - Kasus tewasnya seorang WNA (warga negara asing) asal Singapura yang jasadnya ditemukan dicor dan dibuang di aliran Sungai Citanduy, Bendung Menganti, Cilacap, Jawa Tengah, belakangan dikaitkan dengan dugaan lokasi kejadian pembunuhan tersebut di wilayah Kabupaten Sukabumi. Informasi menyebutkan, peristiwa dugaan eksekusi terjadi di salah satu rumah kontrakan yang berada di kawasan Perumahan Bumi Mutiara Indah (BMI) 5, Desa Kutajaya, Kecamatan Cicurug.
Menelusuri informasi tersebut, Sukabumiupdate.com mendatangi lokasi perumahan pada Jumat (27/3/2026) malam. Saat berada di sana, suasana di lingkungan tersebut tampak normal seperti biasa, dengan aktivitas warga yang berjalan tanpa terlihat adanya penjagaan khusus.
Ketua lingkungan setempat diketahui sedang bekerja. Di rumahnya, ditemui sang istri, Rian (35), yang kemudian memberikan keterangan terkait informasi yang beredar di lingkungan tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan bahwa rumah yang disebut-sebut berada di Blok C40 itu sebelumnya sempat kosong sebelum akhirnya dikontrak oleh seseorang yang diduga baru menempati rumah tersebut sekitar Februari 2026 lalu.
Baca Juga: H+6 Lebaran, Wisatawan Menuju Sukabumi Masih Berdatangan
“Iya, awalnya rumah itu kosong. Baru ada yang ngontrak, kayaknya sekitar Februari kemarin, pas bulan puasa,” ujar Rian, kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (27/3/2026).
Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti asal-usul penghuni rumah tersebut. Namun, menurutnya, warga yang baru datang biasanya dimintai identitas oleh pengurus lingkungan.
“Biasanya kalau orang baru suka dimintain KTP, tapi ini nggak tahu sudah ngasih atau belum, soalnya baru banget,” katanya.
Rian juga menyebut, penghuni awal yang mengontrak rumah tersebut diduga seorang perempuan. Namun, informasi yang beredar di lingkungan masih simpang siur terkait identitas maupun statusnya.
“Awalnya yang ngontrak itu katanya perempuan. Dibilang sudah menikah, tapi ada juga yang bilang belum, jadi nggak jelas,” ungkapnya.
Baca Juga: Desa di Sukabumi Dapat Mengajukan Jaling dan PJU Lewat SIPD Jabar
Menurutnya, selama tinggal di lingkungan tersebut, aktivitas penghuni rumah itu tidak banyak diketahui warga sekitar. Hal ini karena minimnya interaksi dengan tetangga.
“Jarang kelihatan aktivitasnya, soalnya di sini juga warga masing-masing sibuk, jadi nggak tahu keluar masuknya kapan,” ucapnya.
Terkait kejadian yang ramai dibicarakan, Rian mengaku warga pertama kali mengetahui adanya kasus tersebut saat aparat kepolisian datang ke lokasi pada Februari lalu.
“Pas itu tiba-tiba ada polisi datang, katanya lagi nyari orang. Jadi warga tahunya dari situ,” katanya.
Belakangan, rumah tersebut kembali ditempati oleh penghuni baru. Bahkan, menurut informasi yang diterimanya, polisi sempat kembali datang untuk mencari barang bukti.
Baca Juga: 25.664 Pengunjung Libur Lebaran di Enam Destinasi Wisata Sukabumi, Masuk PAD Rp128 Juta
“Tadi katanya ada polisi lagi ke sana minta barang bukti. Yang ngontrak sekarang juga baru, sekitar tiga hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, informasi yang beredar di masyarakat masih sebatas kabar dari mulut ke mulut. Warga pun mengaku belum mengetahui secara pasti apakah peristiwa pembunuhan terjadi di lokasi tersebut atau di tempat lain.
“Di sini mah tahunya cuma orang yang ngontrak itu terkait kejadian, tapi pembunuhannya di mana juga belum jelas, masih simpang siur,” katanya.
Hingga saat ini, warga sekitar mengaku hanya mengetahui informasi terbatas dan masih menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian.
Editor : Ikbal Juliansyah