SUKABUMIUPDATE.com - Gelombang protes dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukabumi Raya kembali pecah di jantung Kota Sukabumi. Di tengah guyuran hujan, ratusan massa menggeruduk Balai Kota, Kamis (2/4/2026), meluapkan kekecewaan atas penolakan penggunaan Lapang Merdeka sebagai lokasi Salat Id.
Aksi yang berlangsung sejak sore itu berubah tegang. Asap hitam membumbung dari ban yang dibakar di tengah jalan, sementara massa mencoba merangsek masuk ke area Balai Kota. Aksi dorong dengan aparat pun tak terhindarkan, menciptakan situasi panas di tengah dinginnya hujan yang mengguyur.
Ketua PC IMM Sukabumi Raya, Diki Agustina, menegaskan bahwa aksi tersebut bukanlah ledakan emosi sesaat, melainkan akumulasi kekecewaan dari proses panjang yang dinilai diabaikan oleh pemerintah.
Baca Juga: Ini Target Hector Souto untuk Timnas Futsal Indonesia di Piala AFF 2026
Ia menjelaskan, Muhammadiyah sebelumnya telah mengajukan permohonan resmi untuk menggunakan Lapang Merdeka sebagai lokasi Salat Id pada 20 Maret lalu. Namun, permohonan itu justru berujung penolakan.
“Permohonan sudah ditempuh sesuai prosedur, tapi akhirnya ditolak. Ini yang memicu kemarahan kami,” ujar Diki kepada sukabumiupdate.com, Kamis (2/4/2026).
Kekecewaan semakin dalam setelah pertemuan antara Muhammadiyah dan Pemerintah Kota Sukabumi dinilai tidak menghasilkan keputusan yang jelas. Diki menyebut dialog yang terjadi hanya sebatas formalitas tanpa solusi nyata.
“Dialog yang dilakukan terkesan normatif, tidak terbuka, dan tidak memberikan solusi. Bahkan janji untuk merevisi Perwal belum terealisasi,” ujarnya.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Timnas Futsal Indonesia di Piala AFF 2026
Menurutnya, persoalan ini juga menyoroti ketidakkonsistenan kebijakan pemerintah. Ia mempertanyakan alasan di balik pelarangan penggunaan fasilitas publik untuk ibadah, sementara kegiatan lain tetap diperbolehkan.
“Kalau kegiatan hiburan bisa digelar, kenapa ibadah tidak boleh? Ini yang kami anggap tidak adil,” katanya.
Diki menilai kebijakan tersebut membuka ruang subjektivitas dalam pengambilan keputusan, seolah-olah aturan bergantung pada kehendak pimpinan, bukan pada regulasi yang tegas dan transparan.
Di tengah memuncaknya tuntutan, massa juga dibuat kecewa dengan ketidakhadiran Wali Kota Sukabumi. Harapan untuk berdialog langsung tak kunjung terwujud hingga aksi berakhir.
Baca Juga: Tudingan Aliran Dana Ilegal ke Ketua PK KNPI Cibadak Dipastikan Tidak Terbukti
“Kami ingin mendengar langsung penjelasan wali kota dan sekda. Tapi hari ini tidak hadir, ini mengecewakan,” ucap Diki.
Di sisi lain, Wali Kota Sukabumi sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Muhammadiyah. Permintaan maaf itu disampaikan saat mengunjungi pelaksanaan Salat Id di Universitas Muhammadiyah Sukabumi.
Namun bagi IMM, permintaan maaf tanpa langkah konkret belum cukup menjawab persoalan yang ada.
“Selama belum ada tanggung jawab yang jelas, kami akan terus kembali untuk menuntut kejelasan,” tegasnya.
Menjelang petang, aksi akhirnya berakhir sekitar pukul 18.00 WIB. Meski massa mulai membubarkan diri, bara tuntutan belum padam. IMM menegaskan akan terus mengawal isu ini hingga pemerintah memberikan kepastian yang mereka harapkan.
Editor : Asep Awaludin