SUKABUMIUPDATE.com - Pagi itu, 24 Desember 2024, sekitar pukul 05.00 WIB, warga Kampung Selajambe, Desa Lengkong, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, dikejutkan oleh pergeseran tanah. Selama puluhan tahun tanah yang menjadi tempat berpijak mendadak tak lagi memberi rasa aman.
Kholis, salah seorang penyintas, masih mengingat betul momen ketika retakan tanah mulai muncul. Bagi dirinya dan puluhan kepala keluarga lainnya, kejadian tersebut bukan hanya bencana alam, tetapi juga awal dari mimpi buruk akan ketidakpastian.
“Saya di sini hanya mau menginformasikan kondisi kampung kami. Setelah kejadian itu, kampung kami sudah tidak layak lagi dihuni,” ujar Kholis kepada Sukabumiupdate.com, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Misteri Leuweung Angker Kisodra: Lansia Hilang Berhari-hari, Ditemukan Lemas dan Membisu
Gerak cepat dilakukan oleh Pemerintah Desa dengan merelokasi warga ke lahan kosong milik desa yang terletak di kawasan Puncak Sempur. Namun, harapan untuk memiliki hunian sementara yang layak huni hingga kini belum juga terwujud.
Lebih dari satu tahun berlalu, pembangunan tempat tinggal sementara tak kunjung dimulai. Janji bantuan uang kontrakan sebesar Rp600 ribu dari BNPB yang sempat diberikan satu kali, juga tidak berlanjut.
“Kami hanya ingin kepastian, kapan rumah itu dibangun. Banyak warga yang tidak mampu mengontrak, jadi terpaksa kembali ke rumah lama walaupun berbahaya,” tuturnya.
Baca Juga: Camat Ungkap Dugaan Pemicu Hilangnya Pemancing di Muara Curug Sodong Sukabumi
Kondisi ini memaksa warga berada dalam dilema. Di satu sisi, mereka memahami risiko tinggal di tanah yang sudah labil. Namun di sisi lain, keterbatasan ekonomi membuat pilihan mereka menjadi sangat terbatas.
Sebagian warga memilih bertahan di kontrakan dengan segala keterbatasan. Namun tak sedikit yang akhirnya kembali ke rumah lama yang retak dan rawan longsor.
“Karena tidak ada biaya, mau tidak mau mereka kembali lagi. Padahal mereka tahu itu berbahaya,” kata Kholis.
Baca Juga: Kepala Samsat Soekarno-Hatta Dinonaktifkan, KDM Ingatkan Kemudahan Bayar Pajak Kendaraan
Tak hanya persoalan hunian, akses jalan menuju kampung pun menjadi keluhan lain. Jalan yang rusak dan cepat kembali berlubang meski sudah diaspal, membuat aktivitas warga semakin terhambat.
“Setiap saya pulang, jalan di sini rasanya tidak pernah membaik. Kalau pun diaspal, hanya bertahan beberapa bulan saja,” tambahnya.
Kepala Desa Lengkong, Sulaeman, membenarkan kondisi yang dialami warganya. Ia menyebut hingga kini belum ada kelanjutan bantuan dari pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat.
Baca Juga: Hilang Misterius di Leuweung Angker Kisodra, Lansia 72 Tahun Ditemukan Setengah Sadar
“Padahal kami sudah menyediakan lahan seluas 1,5 hektare di Kampung Puncak Sempur untuk relokasi. Lahan di Selajambe sudah tidak aman, apalagi saat musim hujan,” ujarnya.
Menurut Sulaeman, terdapat lebih dari 40 kepala keluarga terdampak dalam bencana tersebut. Sebagian besar dari mereka kini kembali ke lokasi semula, sementara sebagian lainnya berupaya membangun hunian secara mandiri di area relokasi.
“Lahannya sudah dilakukan cut and fill untuk relokasi, anggarannya hasil gotong royong dan dibantu pemerintah desa. Tapi pembangunan rumah belum juga berjalan,” katanya.
Di tengah kondisi yang serba terbatas, warga Selajambe hanya berharap satu hal sederhana yakni kepastian. Kepastian untuk bisa hidup aman, tanpa dihantui ancaman tanah yang sewaktu-waktu bisa kembali bergerak.
Bagi mereka, relokasi bukan sekadar pemindahan tempat tinggal, tetapi juga tentang memulai kembali kehidupan yang sempat runtuh, di atas tanah yang benar-benar bisa dipercaya.
Editor : Ikbal Juliansyah