SUKABUMIUPDATE.com - Dalam penggerebekan Warga Negara Asing (WNA) yang diduga terlibat sindikat operasi siber ilegal di kawasan Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, ditemukan adanya sebuah logo bertuliskan “Fengda Wealth Management”. Hal tersebut menjadi sangat krusial dalam pengungkapan kasus tersebut.
Logo tersebut ditemukan petugas di salah satu kamar Grand Desa Resort, yang diduga kuat telah disulap menjadi pusat operasional terselubung. Temuan ini langsung memicu kecurigaan, mengingat ruangan yang semestinya digunakan untuk beristirahat justru dipenuhi meja panjang, instalasi kabel internet dalam jumlah besar, serta perangkat elektronik layaknya kantor digital.
Berwarna emas dengan simbol kunci dan roda gigi. logo itu kini menjadi sorotan. Keberadaannya seolah menjadi “saksi bisu” aktivitas mencurigakan yang diduga melibatkan jaringan lintas negara.
Baca Juga: Pelarian Berakhir di Cisolok, 16 WNA Terduga Sindikat Siber Ditangkap Imigrasi Sukabumi
“Ngakunya mau bikin tour. Jadi dia mau mengadakan tour buat orang China yang mau main ke sini, ke Sawarna, ke Ciletuh. Ngakunya seperti itu, tour leader lah,” ujar Koh Leleung kepada Sukabumiupdate.com, Selasa (14/4/2026).
Namun fakta di lapangan berkata lain. Indikasi kuat menunjukkan bahwa aktivitas yang dilakukan para Warga Negara Asing (WNA) tersebut jauh dari sekadar urusan wisata. Apalagi, pemasangan logo “Fengda Wealth Management” yang tampak profesional semakin memperkuat dugaan bahwa tempat itu memang dirancang sebagai pusat operasional.
Koh Leleung sendiri mengaku tidak mengetahui aktivitas sebenarnya para tamunya. Ia menyebut para WNA tersebut sudah menempati kamar sejak sebelum Lebaran, bahkan berencana menyewa lebih dari 10 kamar untuk jangka waktu satu tahun.
Baca Juga: Penggerebekan WNA Diduga Sindikat Siber Ilegal di Cimaja Sukabumi
“Enggak tahu (aktivitas siber), kan katanya belum aktivitas. Baru mau aktivitas di situ,” katanya.
Secara umum, istilah wealth management merujuk pada layanan pengelolaan keuangan atau investasi. Namun dalam konteks penggerebekan ini, nama tersebut diduga hanya menjadi kedok untuk menutupi aktivitas siber ilegal.
Kasus ini semakin terang setelah Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Sukabumi mengamankan total 16 WNA usai pengejaran dramatis di sejumlah titik. Penangkapan merupakan tindak lanjut dari penggerebekan dini hari di lokasi yang sama.
Tim intelijen Imigrasi bergerak cepat menyisir kawasan pesisir hingga jalan raya berdasarkan laporan masyarakat. Dari operasi tersebut, lima orang diamankan di lokasi awal, sementara 11 lainnya ditangkap di berbagai titik pelarian, termasuk saat berada di minimarket di kawasan Cisolok.
“Kita kejar berdasarkan informasi dari masyarakat sampai ke beberapa titik di pesisir pantai hingga ke jalan raya. Total ada 16 orang yang sudah kami amankan, terdiri dari 15 laki-laki dan satu perempuan,” ujar Kasubsi Intelijen Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Sukabumi, Daniel Putra.
Baca Juga: Perbaikan Jalan KH Zejen ZA Ruas Nyangkokot - Perbawati: Anggaran Rp372 Juta
Meski demikian, operasi belum sepenuhnya selesai. Petugas menemukan 19 paspor yang ditinggalkan di lokasi, mengindikasikan masih ada tiga orang lain yang kini masuk dalam daftar pencarian.
Selain itu, sejumlah barang bukti elektronik turut diamankan, mulai dari puluhan ponsel, perangkat komputer, hingga instalasi jaringan internet yang diduga digunakan untuk mendukung aktivitas ilegal tersebut.
“Barang buktinya berupa handphone, paspor, peralatan PC, dan jaringan internet. Masih dugaan, tapi mengarah ke pelanggaran siber,” ungkap Daniel.
Kini, logo “Fengda Wealth Management” yang masih menempel di dinding kamar menjadi kunci penting bagi aparat untuk menelusuri lebih jauh dugaan jaringan internasional di balik operasi siber terselubung yang bersembunyi di balik kedok wisata tersebut.
Editor : Ikbal Juliansyah