Sukabumi Update

Pemilik Resort Dijanjikan Rp1 M, Penginapan di Cimaja Disulap Jadi ‘Barak’ Operasi Siber WNA

Penampakan bagian dalam kamar Grand Desa Resort, Cimaja, Palabuhanratu yang disulap jadi barak operasi siber WNA. (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Tabir dugaan sindikat operasi siber ilegal yang melibatkan sejumlah Warga Negara Asing (WNA) di kawasan Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, perlahan mulai tersingkap. Fakta-fakta di lapangan mengarah pada aktivitas mencurigakan yang jauh dari klaim awal sebagai kegiatan pariwisata.

Kasus ini bermula dari tawaran menggiurkan yang diterima pemilik penginapan Grand Desa Resort, Cimaja, Palabuhanratu. Nilai sewa yang dijanjikan tidak tanggung-tanggung, mencapai Rp1 miliar per tahun untuk seluruh area penginapan yang memiliki sekitar 50 kamar.

Pemilik penginapan, Koh Leleung, mengaku sempat tergoda dengan nilai kontrak fantastis tersebut.

“Rencana yang dijanjikan Rp1 miliar setahun. Semua kamar di bawah, kurang lebih ada 50-an,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Baca Juga: Harga Aspal Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Proyek Jalan di Sukabumi Tertunda Sementara

Namun di balik nilai besar itu, terselip perubahan mencolok yang perlahan mengungkap kejanggalan. Para penyewa mengambil alih penuh pengelolaan kamar dan mulai mengubah fungsinya secara drastis. Kamar-kamar yang semestinya nyaman bagi wisatawan justru disulap menjadi ruang sempit menyerupai asrama padat.

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi yang jauh dari standar penginapan. Tempat tidur hotel digantikan kasur tipis yang dijejerkan di lantai, bantal dan selimut berserakan, sementara satu ruangan diisi banyak orang tanpa memperhatikan kenyamanan.

Meski sempat melihat aktivitas perombakan, Koh Leleung tidak menaruh curiga.

“Yang saya lihat bukan komputer, lebih banyak kasur. Mereka merombak kamar, ada juga perbaikan AC. Saya kira biasa saja, seperti kamar backpacker, tidak ada yang mencurigakan,” jelasnya.

Namun kejanggalan semakin menguat ketika ditemukan sebuah logo bertuliskan “Fengda Wealth Management” terpampang rapi di dinding salah satu kamar. Logo berwarna emas dengan simbol kunci dan roda gigi itu kini menjadi perhatian, seolah menjadi penanda aktivitas tersembunyi di balik dinding penginapan.

Alih-alih ruang istirahat, kamar tersebut diduga telah disulap menjadi pusat operasional. Petugas menemukan meja panjang, instalasi kabel internet dalam jumlah besar, hingga perangkat elektronik yang menyerupai kantor digital.

Baca Juga: Pesona Pantai Karang Haji Surga Tropis di Teluk Palabuhanratu Sukabumi

Ironisnya, janji pembayaran Rp1 miliar yang sempat dilontarkan tak pernah terealisasi. Para WNA yang diduga berasal dari China justru dilaporkan melarikan diri saat penggerebekan berlangsung.

Sebelumnya, Imigrasi Kelas I Non TPI Sukabumi telah mengamankan 16 WNA, termasuk satu perempuan, dalam operasi tersebut.

Kepada Sukabumiupdate.com, Koh Leleung mengungkap alasan yang sempat disampaikan para penyewa terkait aktivitas mereka.

“Ngakunya mau bikin tour. Jadi dia mau mengadakan tour buat orang China yang mau main ke sini, ke Sawarna, ke Ciletuh. Ngakunya seperti itu, tour leader lah,” ujarnya.

Namun fakta di lapangan berkata lain. Berbagai temuan mengindikasikan bahwa aktivitas yang dilakukan jauh dari sekadar kegiatan wisata. Keberadaan logo “Fengda Wealth Management” yang tampak profesional semakin memperkuat dugaan bahwa lokasi tersebut memang dirancang sebagai pusat operasional terselubung yang melibatkan jaringan lintas negara.

Editor : Asep Awaludin

Tags :
BERITA TERKAIT