SUKABUMIUPDATE.com – Ketengan suasana pesisir Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah mencekam setelah aktivitas mencurigakan puluhan Warga Negara Asing (WNA) di kawasan Grand Desa Resort akhirnya terkuak.
Di balik tenangnya kawasan wisata tersebut, tersimpan dugaan kuat adanya operasi ilegal terselubung yang berjalan rapi dan terorganisir. Fakta ini mencuat setelah adanya penelusuran mandiri yang mengungkap berbagai kejanggalan di dalam area penginapan.
Indikasi awal muncul dari lonjakan penggunaan listrik dan jaringan internet yang jauh melampaui kebutuhan normal sebuah resort. Temuan itu menjadi pintu masuk untuk menguak aktivitas tersembunyi di balik dinding kamar-kamar tertutup rapat.
"Kompleks ini dibagi menjadi dua zona utama. Zona komputer ditandai dengan aktivitas perangkat elektronik masif, sementara zona hijau difungsikan sebagai barak tempat tidur yang padat," kata narasumber yang melakukan penelusuran awal, pada wartawan Selasa (14/4/2026).
Baca Juga: Pemilik Resort Dijanjikan Rp1 M, Penginapan di Cimaja Disulap Jadi ‘Barak’ Operasi Siber WNA
Bukti visual dari dalam lokasi memperlihatkan pemandangan yang jauh dari kesan penginapan. Kamar-kamar yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru berubah menjadi ruang kerja penuh perangkat digital. Deretan monitor, CPU, hingga server kecil tersusun rapi, menyerupai kantor profesional yang beroperasi tanpa henti.
Beberapa kamar bahkan teridentifikasi sebagai titik aktivitas utama. Kamar bernama Kalimaya, Berlian, hingga Zamrud diduga menjadi pusat operasional, sementara kamar Topaz disebut sebagai lokasi dengan jumlah perangkat komputer terbanyak.
Di balik layar monitor, tampak antarmuka berbahasa Mandarin lengkap dengan dasbor pengelolaan data yang mengarah pada dugaan aktivitas siber. Di meja-meja kerja darurat, puluhan ponsel pintar dari berbagai merek tersambung dengan kabel pengisi daya, memperkuat kesan adanya operasi digital berskala besar.
"Kondisinya sangat tertata, seperti ruang kerja profesional, namun berada di dalam kamar hotel yang tertutup rapat," tambahnya.
Baca Juga: Harga Aspal Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Proyek Jalan di Sukabumi Tertunda Sementara
Pengungkapan ini semakin menguat setelah petugas menemukan logo bertuliskan “Fengda Wealth Management” di lokasi. Logo tersebut diduga menjadi kedok aktivitas para WNA, yang sebelumnya mengaku kepada pemilik penginapan sebagai tour leader untuk wisatawan asing asal China dan Malaysia.
Kasubsi Intelijen Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Sukabumi, Daniel Putra, membenarkan adanya temuan tersebut. Dalam penggerebekan, petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti elektronik dalam jumlah signifikan.
Selain mengamankan 16 WNA, Imigrasi turut menyita puluhan smartphone, perangkat komputer, paspor, serta peralatan jaringan internet yang sebagian sempat dikemas ke dalam kendaraan oleh para pelaku.
“Barang buktinya berupa handphone, paspor, peralatan PC, dan jaringan internet. Masih dugaan, tapi mengarah ke pelanggaran siber,” ungkap Daniel.
Kini, kasus tersebut masih dalam pendalaman. Namun rangkaian temuan di lapangan semakin memperkuat dugaan bahwa aktivitas yang berlangsung di balik penginapan itu bukan sekadar kegiatan wisata, melainkan operasi digital terselubung yang terorganisir dan berpotensi melibatkan jaringan lintas negara.
Editor : Asep Awaludin