Sukabumi Update

Diterjang Longsor dan Pergerakan Tanah, Desa Nangerang Dikepung Ancaman dari Berbagai Titik

Penampakan longsor di wilayah Desa Nangerang, kecamatan Jampangtengah, Sukabumi yang mengancam rumah warga. Rabu (15/4/2026). (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, pada Rabu (15/4/2026) sore, memicu bencana pergerakan tanah dan longsor di sejumlah kampung di Desa Nangerang. Dalam hitungan jam, ancaman datang dari berbagai titik, menerjang permukiman, lahan pertanian, hingga infrastruktur vital warga.

Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Jampangtengah, Dadi Supardi, mengungkapkan bahwa bencana terjadi sekitar pukul 16.30 WIB, setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejak pukul 14.00 WIB hingga 17.00 WIB.

“Curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan pergerakan tanah dan longsor di beberapa titik di Desa Nangerang,” ujar Dadi Supardi kepada Sukabumiupdate.com, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga: Kehidupan Miskin Warga Sukabumi di Lingkaran Energi Panas Bumi

Berdasarkan asesmen sementara, dampak bencana tersebar di berbagai titik. Di Kampung Cilimus RT 29/05, longsor sepanjang 10 meter dengan tinggi 4 meter mengakibatkan satu rumah warga mengalami kerusakan ringan.

Ancaman lebih serius muncul di Kampung Cilimus Girang RT 30/05. Retakan tanah sepanjang 20 meter dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter mengintai empat rumah yang dihuni 12 jiwa, menciptakan kekhawatiran akan longsor susulan.

Di Kampung Cisaat RT 28/05, longsor tak hanya mengancam satu unit penggilingan padi, tetapi juga berpotensi memutus akses jalan lingkungan sepanjang 10 meter. Material longsor turut menutup saluran irigasi Cikuya, menyebabkan sekitar 2.000 meter persegi lahan sawah terancam kekeringan.

Situasi tak kalah mengkhawatirkan terjadi di Kampung Cijiwa RT 27/05. Pergerakan tanah mengancam satu unit masjid dan satu rumah warga, serta dua rumah lainnya di sekitar lokasi. Bahkan di RT 26/05, longsor besar dengan panjang mencapai 50 meter dan tinggi hingga 120 meter memutus saluran irigasi Cibening, merusak lahan sawah seluas 2.000 meter persegi, dan mengancam sekitar 5 hektare sawah lainnya dengan potensi kekeringan.

Baca Juga: Pohon Tumbang di Ciawi: Jalan Nasional Sukabumi Bogor, Timpa Wingbox dan Mobil Patroli

Di Kampung Cigedang RT 23/04, longsor sepanjang 80 meter juga membayangi lima rumah warga dan satu bangunan masjid, memperluas daftar wilayah terdampak.

Meski dampak material terbilang luas dan ancaman masih membayangi, Dadi memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. “Tidak ada warga yang mengungsi, korban jiwa nihil, dan tidak ada korban luka,” katanya.

Saat ini, warga bersama petugas masih berjibaku membersihkan material longsoran secara swadaya. Di sisi lain, perbaikan darurat saluran irigasi mulai dilakukan oleh petugas pengairan guna meminimalisir dampak terhadap lahan pertanian.

Baca Juga: 30 Ribu Lowongan Manajer Kopdes Merah Putih, Ini Syarat dan Link Daftarnya

Pihak P2BK Jampangtengah juga telah berkoordinasi dengan berbagai unsur, mulai dari pemerintah desa dan kecamatan hingga TNI-Polri serta Tagana, untuk mempercepat penanganan di lapangan. Warga pun diimbau tetap siaga terhadap potensi bencana susulan, mengingat kondisi tanah yang masih labil.

Adapun kebutuhan mendesak saat ini meliputi pipa paralon atau terpal plastik untuk perbaikan saluran irigasi, kawat bronjong, karung plastik, serta penanganan lahan sawah yang terdampak.

Dadi Supardi menegaskan, data yang dihimpun saat ini masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan.

“Kami akan terus melakukan pemantauan dan memperbarui data sesuai perkembangan situasi,” pungkasnya.

Editor : Asep Awaludin

Tags :
BERITA TERKAIT