SUKABUMIUPDATE.com – Dua tahun telah berlalu sejak bencana pergerakan tanah menerjang Kampung Cihurang, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Namun hingga kini, puluhan warga masih hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian.
Di antara rumah-rumah yang retak dan bangunan yang mulai miring, sebagian warga memilih bertahan, sementara lainnya terpaksa menumpang di kediaman kerabat.
Bencana yang terjadi pada Desember 2024 itu meninggalkan luka yang belum juga pulih. Hingga April 2026, harapan akan bantuan hunian tetap (Huntap) maupun hunian sementara (Huntara) belum kunjung terwujud bagi warga terdampak.
Camat Kecamatan Bantargadung, Syarifuddin, mengungkapkan bahwa dari total 30 kepala keluarga yang terdampak, baru sebagian kecil yang mampu bangkit secara mandiri.
"Dari 30 KK, sudah ada 8 KK bangun mandiri di area lahan relokasi dari perkebunan PT Citimu. Sementara 22 KK lainnya ada yang tetap tinggal di lokasi bencana dan sebagian lagi mengungsi di rumah sanak keluarganya," kata Syarifuddin, pada Senin (20/4/2026).
Baca Juga: Persib Bandung Ditahan Imban Dewa United, Ini Komentar Bojan Hodak
Kondisi ini semakin memprihatinkan karena seluruh korban bencana hingga kini belum menerima bantuan dana tunggu hunian (DTH) yang seharusnya dapat digunakan untuk menyewa atau mengontrak tempat tinggal sementara.
"Korban bencana 2024 semua yang ada di wilayah Bantargadung tidak menerima bantuan uang sewa atau kontrak, dan belum dapat bantuan bangunan Huntap maupun Huntara," katanya.
Tak hanya merusak puluhan rumah warga, bencana tersebut juga meninggalkan dampak pada fasilitas umum, termasuk satu bangunan masjid di kawasan tersebut.
"Sudah ada lahan relokasinya di Kampung Cikobak, Desa Limusnunggal dari Perkebunan PT. Citimu seluas 2 hektare," ungkapnya.
Baca Juga: Dugaan Penyebab Santri di Parakansalak Jatuh dari Lantai 2 Hingga Meninggal Dunia
Di tengah situasi serba terbatas, warga hanya bisa bertahan dengan kondisi yang ada. Jamal, salah satu warga terdampak, mengaku tak memiliki pilihan selain tetap menempati rumahnya yang rusak parah.
"Ini rumah sudah parah, tapi belum roboh. Sebagian sudah dikosongkan," ujarnya.
Nada pasrah sekaligus harapan tersirat dari ucapannya. Ia berharap ada langkah nyata dari pemerintah untuk memberikan kepastian bagi warga yang hingga kini masih hidup dalam ancaman bencana susulan.
"Ya mau gimana lagi, ada tempat rumahnya ada juga yang engga ditempati. Saya berharap kepada pemerintah segera ada solusi," tandasnya.
Editor : Asep Awaludin