SUKABUMIUPDATE.com – Retakan besar membelah dinding, lantai berlubang, dan bangunan yang perlahan miring menjadi pemandangan sehari-hari di rumah Herdi (36), warga Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Di tengah ancaman pergerakan tanah yang belum berhenti, Herdi tetap bertahan bersama keluarganya, meski rasa was was tak pernah benar-benar hilang.
Bencana pergerakan tanah yang melanda wilayah tersebut sejak Desember 2024 telah memaksa sebagian warga memilih relokasi mandiri demi keselamatan. Namun bagi Herdi, pilihan itu belum bisa diambil. Keterbatasan ekonomi membuatnya tetap tinggal di rumah yang kondisinya kian memprihatinkan dari waktu ke waktu.
Pantauan di lokasi menunjukkan kerusakan yang cukup parah. Dinding rumah dipenuhi retakan menganga, lantai tampak berlubang di beberapa bagian, sementara struktur bangunan terlihat miring akibat pergerakan tanah yang masih berlangsung.
“Kalau was-was pasti ada. Apalagi kalau musim hujan turun terus, pergerakan tanah sedikit-sedikit jalan terus. Tahu-tahu sudah berubah lagi kondisinya,” ujar Herdi kepada sukabumiupdate.com, pada Senin (27/4/2026).
Setiap kali hujan deras turun, kecemasan pun meningkat. Malam-malam panjang dilalui tanpa ketenangan, dihantui kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kapan saja.
Baca Juga: Di Antara Setir dan Aspal Rusak: Dilema Sopir ODOL dan Warga Pajampangan
Namun di balik rasa takut itu, realitas hidup memaksanya bertahan. Herdi yang sehari-hari bekerja sebagai penyadap air nira untuk diolah menjadi gula aren, hanya memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga.
“Mau pindah ke mana? Penghasilan saya adanya di sini. Mau bangun rumah juga tidak punya uang. Jadi mau gimana lagi, terpaksa tinggal begini,”
Di rumah yang nyaris tak layak huni itu, Herdi hidup bersama istri, dua anak, seorang adik, dan pamannya. Bahkan sang paman terpaksa ikut menumpang setelah rumah miliknya ikut ambruk akibat bencana yang sama.
Di tengah keterbatasan dan ancaman yang terus mengintai, harapan Herdi kini hanya tertuju pada perhatian dan kepastian dari pihak berwenang, terutama terkait relokasi bagi warga terdampak.
“Saya cuma nunggu sabar, mudah-mudahan ada dari pihak yang berwenang membantu kami warga disini yang terkena dampak pergerakan tanah. Kalau di relokasi saya mau banget, kan kalau di sini anak saya juga masih kecil ini juga terpaksa,” pungkasnya.
Editor : Asep Awaludin