SUKABUMIUPDATE.com - Di bawah terik Matahari siang, seorang bocah dengan karung di pundaknya menyusuri ruas-ruas jalan di pusat Kota Sukabumi. Tangan mungilnya cekatan memungut botol plastik bekas yang tergeletak di sembarang tempat, sesekali ia menghampiri kendaraan yang berhenti.
Bocah yang dipanggil dengan nama R ini usianya baru 11 tahun. Teman sebayanya mungkin tengah sibuk sekolah atau bermain. Namun R, harus membanting tulang untuk bisa menyambung hidup. Dari balik karung lusuh yang dibawanya, ia sedang mengumpulkan bukan hanya barang bekas, tetapi juga harapan.
Siang itu, saat R beristirahat tepat di depan Gedung DPRD Kota Sukabumi di Jalan Ir. H. Juanda. Ia mengungkap aktivitasnya bukan sekedar sambilan, tetap rutinitas yang dijalani setiap hari. “Keluar dari jam 9, sampai jam 2-an,” katanya singkat saat ditemui sukabumiupdate.com.
Botol-botol bekas yang ia kumpulkan kemudian dijual dengan harga yang jauh dari kata layak. “Sekilo cuma 2 ribu. Kadang 6 ribu, kadang 7 ribu,” ujarnya. Uang itu menjadi salah satu sumber penghidupan bagi dirinya dan keluarga.
R mengaku berasal dari Bogor dan kini tinggal bersama ibunya di wilayah Tipar, Kota Sukabumi. Sosok ayah tak lagi ia ketahui keberadaannya. “Enggak tahu ke mana,” ucapnya lirih. Sejak usia lima tahun, ia sudah mulai memulung, sebuah fase hidup yang datang terlalu cepat bagi anak seusianya.
Baca Juga: RUPST Bank BJB 2026: Susi Pudjiastuti Jadi Komisaris Utama, Ayi Subarna Dirut
Namun, cerita R tak berhenti saat matahari terbenam. Ketika malam tiba, ia berganti peran. Karung diganti kostum, wajahnya dihias, dan ia kembali ke jalan kali ini sebagai badut yang berdiri di lampu merah. “Kalau malam ngabadut,” katanya.
Peran itu menuntutnya tersenyum dan menghibur orang-orang yang melintas. Tapi di balik tawa yang ia tampilkan, R mengaku tak benar-benar menikmati. “Nggak senang-senang gitu,” ujarnya jujur.
Pendidikan yang seharusnya menjadi haknya kini terhenti. Ia putus sekolah sejak kelas dua sekolah dasar. Berbagai persoalan, termasuk tidak adanya kartu keluarga, membuatnya kesulitan melanjutkan. “Aku teh disekolahin sama orang sini... pas kelas 2 pindah,” katanya, mencoba merangkai kembali ingatan masa kecilnya.
Ketika ditanya tentang pentingnya sekolah, R memahami hal itu. “Ya penting,” ucapnya. Namun saat ditanya apakah ingin kembali, jawabannya menggantung. “Nggak tahu.” lanjutnya.
Di jalanan, R justru menemukan dunia yang sudah ia kenal. Panas, lelah, dan jarak bukan lagi hal asing. “Enggak apa-apa, udah biasa,” katanya.
Di rumah, ia hidup bersama ibunya yang juga bekerja sebagai badut jalanan. Mereka berbagi peran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, adiknya pun mulai ikut turun ke jalan. “Mama juga ngabadut,” tuturnya.
Baca Juga: Respons Aksi Warga, Penindakan Truk ODOL di Jalur Jampang–Kiaradua Segera Digelar
Di tengah kerasnya hidup, R tetap menyimpan mimpi. Ia ingin menjadi seorang kreator konten, bahkan pemain profesional gim. “Aku mau jadi pro player FF,” ucapnya dengan nada yang lebih hidup dan senyum optimis.
Di balik botol bekas yang ia kumpulkan dan kostum badut yang ia kenakan setiap malam, R adalah potret seorang anak yang tumbuh dalam keterbatasan. Ia mungkin kehilangan banyak hal yang seharusnya dimiliki anak seusianya yakni bangku sekolah, waktu bermain, dan rasa aman dalam keluarga. Namun, ia belum kehilangan satu hal yang paling penting: harapan.
Editor : Syamsul Hidayat