SUKABUMIUPDATE.com – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tegalbuleud 2, Agung Nugraha, memberikan klarifikasi terkait menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi sorotan warga di Desa/Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, pada Rabu (29/4/2026).
Agung menjelaskan, menu yang dipersoalkan warga merupakan paket dengan anggaran Rp8.000 per porsi, bukan Rp10.000 seperti yang diasumsikan sebagian masyarakat. Paket tersebut diperuntukkan bagi anak PAUD, balita, serta siswa SD kelas 1, 2, dan 3.
“Menu yang disorot itu adalah paket anggaran Rp8.000, bukan Rp10.000. Untuk Rp8.000 diperuntukkan bagi anak PAUD, balita, dan siswa SD kelas 1 sampai 3,” ujar Agung kepada sukabumiupdate.com, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga: Usai Diprotes Warga, Peternakan Sapi di Purwasari Cicurug Diberi Waktu 7 Hari Kosongkan Lokasi
Sementara itu, paket dengan anggaran Rp10.000 diberikan kepada siswa SD kelas 4 ke atas, siswa SMP, SMA/SMK, hingga santri pondok pesantren. Menurutnya, secara komposisi, menu pada kedua paket relatif sama, namun terdapat perbedaan pada gramasi atau takaran makanan, khususnya nasi dan sayuran.
“Kalau menu sebenarnya sama, yang membedakan antara anggaran Rp8.000 dan Rp10.000 itu ada pada gramasi nasi dan sayuran. Jadi porsi untuk kategori kecil memang berbeda dengan kategori besar,” katanya.
Agung menambahkan, dari sisi angka kecukupan gizi, kedua kategori tersebut telah disesuaikan dengan kebutuhan usia penerima manfaat. Karena itu, nominal anggaran dan takaran makanan tidak dapat disamakan.
SPPG Tegalbuleud 2 saat ini melayani tiga desa, yakni Desa Tegalbuleud, Desa Calingcing, dan Desa Rambay, dengan total penerima manfaat sebanyak 2.200 orang, serta tambahan kategori B3 sebanyak 600 penerima.
Baca Juga: Bangunan Tua dan Perawatan Minim Picu Kerusakan Kelas SD-SMP di Sukabumi
Sebelumnya, seorang warga Kampung Karanganyar, Desa Tegalbuleud, IR (40), menyoroti menu MBG yang dibagikan berupa nasi putih, telur balado, tumis buncis dan toge, tahu, serta buah jeruk. Menurutnya, komposisi tersebut dinilai kurang sesuai jika disandingkan dengan nominal anggaran yang selama ini diketahui masyarakat.
“Kalau menunya telur, seharusnya ada tambahan susu, jangan pakai buah jeruk. Kalau menunya daging ayam atau daging sapi, baru bisa pakai buah jadi harganya masuk,” ujar IR.
Meski demikian, IR menegaskan bahwa warga tidak menolak program MBG. Ia hanya berharap adanya evaluasi terhadap kualitas serta komposisi menu agar lebih sesuai dengan nilai anggaran dan kebutuhan gizi penerima manfaat.
“Kami sebagai warga hanya minta perbaikan menu ke depannya agar sesuai dengan harga. Jangan sampai menunya minim dan terkesan dikurangi dari harga yang sudah ditetapkan,” tuturnya.
Warga pun berharap program MBG tetap berjalan optimal dengan menu yang memenuhi standar gizi seimbang, sehingga tujuan pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak dan masyarakat dapat tercapai secara maksimal.
Editor : Asep Awaludin