SUKABUMIUPDATE.com - Selain pelayan kesehatan dan petugas sosial yang ada di pemerintahan Sukabumi, Yayasan Rehabilitasi Mental Pelita Jiwa Permata yang dikelola oleh swasta juga hadir dalam kepedulian terhadap penyandang disabilitas mental atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Yayasan yang beralamat di Jalan Mariuk, Kampung Tarisi, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan yang berdiri pada 23 September 2025, ini ada karena untuk memanusiakan manusia, saat penyandang disabilitas terkadang diperlakukan tidak adil, bahkan sebelah mata oleh lingkungan.
Irgi, pengelola yayasan Rehabilitasi Mental Pelita Jiwa Permata mengisahkan bagaimana usaha dan kesabaran dalam merawat teman-teman disabilitas mental dalam menata kembali kehidupannya.
Baca Juga: Memanusiakan ODGJ di Sukabumi: Mayoritas Pria, Stigma, dan Harapan
“Saya terenyuh. Saya ingin mereka bisa hidup setara, berdaya, dan bermartabat,” ujar Pengelola Yayasan Irgi, kepada Sukabumiupdate.com.
Panti sosial ini memiliki bangunan dengan dua ruangan terpisah untuk pasien laki-laki maupun perempuan. Dimana saat ini, yayasan tersebut menampung sebanyak 27 warga binaan, terdiri dari 18 laki-laki dan 9 perempuan.
Dipanti ini pun lelaki lebih mendominasi dibanding perempuan, dan para penghuninya berasal dari berbagai latar belakang yang beragam mulai dari titipan keluarga hingga rujukan dari Puskesmas dan Dinas Sosial.
Baca Juga: Rumah Panggung di Ciemas Ludes Terbakar: Diduga Korsleting Listrik, 6 Warga Mengungsi
Menurut Kang Irgi sapaan akrabnya, sebagian besar pasien yang dirawat mengalami gangguan mental seperti depresi, sementara beberapa pasien laki-laki dipicu oleh penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
Memanusiakan manusia di Yayasan Rehabilitasi Mental Pelita Jiwa Permata.
Metode Penanganan Panti Rehabilitasi Mental Pelita Jiwa Permata
Dalam proses rehabilitasi, yayasan ini menerapkan pendekatan kombinasi, meliputi metode medis, spiritual, serta bimbingan rohani serta merangkul dan menganggap mereka bagaikan keluarga.
“Kami anggap mereka keluarga sendiri. Tidak ada perbedaan, yang penting mereka merasa nyaman dulu,” katanya.
Irgi juga mengatakan jika pasiennya merupakan pasca rawat dari Rumah Sakit Jiwa. “Pasien yang masuk ke tempat kami itu kebanyakan pasca rawat dari RSJ dan paling nanti setelah itu kita kontrolkan lagi ke RSJ dan untuk selanjutnya rujuk baliknya kita alihkan ke Puskesmas terdekat yaitu Puskesmas Simpenan,”ucapnya.
Kegiatan harian yang dijalani para penghuni di panti ini meliputi olahraga pagi, pengajian, bimbingan shalat, hingga aktivitas sosial dan musik untuk melatih interaksi.
Walaupun tidak memiliki tenaga medis tetap yang berjaga, yayasan bekerja sama dengan rumah sakit jiwa dan Puskesmas Simpenan untuk kontrol dan pengobatan lanjutan pasien.
Meski demikian, Kang Irgi mengaku bersyukur karena operasional yayasan masih berjalan lancar, meskipun sebagian besar dibiayai dari dana pribadi.
Kisah Sukses Pemulihan Pasien
Dalam perjalanan merawat pasien, ada beberapa kisah pemulihan yang sangat membekas di pikiran dan di hati Irgi.
Kisah pertama datang dari seorang pasien yang sempat ditolak oleh keluarganya sendiri. Meski telah dinyatakan pulih setelah menjalani perawatan, pihak keluarga tetap enggan menerimanya kembali, kemungkinan karena trauma yang mereka alami sebelumnya.
Namun, selama menjalani perawatan di tempatnya, kondisi pasien tersebut terus menunjukkan perkembangan positif hingga akhirnya benar-benar pulih. Tidak hanya itu, ia bahkan melangkah ke fase baru dalam hidupnya dengan menikah.
Seluruh proses pernikahannya, mulai dari pengurusan surat pengantar hingga berbagai persyaratan lainnya, Irgi bantu secara langsung. Bahkan, ia turut mengantarkannya ke pihak calon mempelai wanita.
“Di situ saya ada merasa rasa puas dan bangga. Dan rasa puas dan bangga itu tidak bisa dinilai dengan nominal,” kata Irgi.
Kisah kedua adalah tentang seorang pasien yang mengalami ketergantungan narkoba dalam kondisi yang sangat parah. Saat pertama kali datang, ia bahkan tidak mampu mengingat identitas dirinya sendiri, termasuk tidak mengenali anaknya. Kondisi tersebut terjadi ketika ia bekerja di Bali, diduga akibat konsumsi narkoba yang membuatnya kehilangan kesadaran.
Pasien tersebut juga sempat melakukan upaya menyakiti diri sendiri, bahkan mencoba mengakhiri hidupnya. Kondisinya saat itu benar-benar memprihatinkan.
Namun, melalui perawatan yang telaten dan berkelanjutan, perlahan kondisinya membaik. Hingga akhirnya, ia berhasil pulih dan kembali menjalani kehidupan normal. Kini, ia sudah bisa beraktivitas, bekerja, dan kembali mengurus anaknya.
“Saya sangat bersyukur sekali,” singkatnya.
Harapan dari Irgi kepada Pemerintah
Kang Irgi berharap pemerintah dapat lebih memprioritaskan pelayanan bagi penyandang disabilitas mental, terutama dalam kemudahan akses pengobatan.
“Banyak kasus jadi kadang-kadang ketika hari ini BPJS-nya aktif dan ketika besok minggu depan mau kontrol itu tiba-tiba tidak aktif dan di situ kami akan terhambat dalam melakukan pengobatan,” ucapnya lirih.
Diakhir ia juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan tidak mendiskriminasi ODGJ.
“Jangan pernah menganggap mereka rendah apalagi sampai kita memperlakukan ODGJ dengan semenah-menah dan tidak manusiawi. Jika ada di lingkungan sekitar yang membutuhkan penanganan, segera laporkan ke pihak desa atau layanan kesehatan,” pesannya.
Keberadaan Yayasan Pelita Jiwa Permata diharapkan dapat menjadi solusi sekaligus harapan baru bagi para ODGJ untuk kembali pulih dan diterima di tengah masyarakat. Namun sorotan tajam pun dilontarkan kepada pelayanan kesehatan di pemerintahan agar akses pengobatan dipermudah.
Editor : Ikbal Juliansyah