SUKABUMIUPDATE.com – Kerusakan parah pada Irigasi Cinangsi di Desa Cikarang, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, hingga kini belum mendapatkan penanganan serius. Infrastruktur pengairan yang hancur akibat bencana longsor pada tahun 2024 tersebut menyebabkan ratusan hektare lahan pertanian milik warga telantar.
Kepala Desa Cikarang, Yudistira, mengungkapkan bahwa saluran irigasi sepanjang kurang lebih lima kilometer yang berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi tersebut hancur total. Akibatnya, pasokan air menuju persawahan warga terputus sepenuhnya.
“Dampak bencana tahun 2024, Irigasi Cinangsi sekitar sepanjang lima kilometer hancur luluh lantak. Saat ini tidak bisa mengaliri sawah seluas sekitar 140 hektare yang tersebar di sejumlah kampung,” ujar Yudistira kepada sukabumiupdate.com, Senin (4/5/2026).
Adapun wilayah yang terdampak meliputi Kampung Cibenda, Karangbolong, Paragasa, Kalapanunggal, Cipareang, hingga Cipeundeuy di Desa Cikarang.
Baca Juga: Kronologi Laka Maut di Sukalarang Sukabumi, Pemotor Tewas Ditempat
Yudistira mencatat sedikitnya ada enam kelompok tani yang terdampak langsung. Kondisi ini memaksa para petani berhenti bercocok tanam padi selama hampir dua tahun akibat ketiadaan pasokan air.
“Sudah hampir dua tahun para petani tidak bisa bertani karena lahan tidak terairi. Ini sangat berdampak terhadap ekonomi warga,” jelasnya.
Berhentinya aktivitas pertanian padi berdampak buruk terhadap stabilitas ekonomi warga. Untuk menyambung hidup dan membiayai pendidikan anak-anak, para petani terpaksa mencari mata pencaharian alternatif.
Kini, sebagian besar petani beralih menjadi kuli serabutan guna memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Selain itu, mereka yang masih mencoba mengolah lahan beralih menanam palawija yang tidak memerlukan banyak air, berbeda dengan padi yang membutuhkan pengairan stabil dari irigasi.
Baca Juga: Harga Singkong di Pajampangan Sukabumi Tak Stabil, Petani Berharap Ada Kenaikan
Pemerintah Desa Cikarang mengaku telah berulang kali mengajukan permohonan perbaikan kepada instansi terkait. Meski pihak berwenang dilaporkan sudah melakukan peninjauan lapangan, namun hingga kini belum ada langkah konkret pengerjaan fisik.
“Kami sudah mengusulkan perbaikan, dan memang sudah ada pengecekan. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Mudah-mudahan secepatnya ada tindakan nyata,” harap Yudistira.
Salah seorang petani, Aep (50), berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki irigasi tersebut agar aktivitas pertanian bisa kembali berjalan normal.
“Kami sangat berharap pemerintah segera memperbaiki irigasi ini. Kami menggantungkan hidup dari hasil pertanian, untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak,” singkatnya.
Editor : Denis Febrian