Sukabumi Update

Viral Video Pasien Diduga Tak Ditangani: Ini Versi Keluarga dan Klarifikasi RSUD Palabuhanratu

RSUD Palabuhanratu. (Sumber : SU/Ilyas).

SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah video berdurasi sekitar 30 detik yang memperlihatkan keluhan keluarga pasien terkait dugaan tidak adanya penanganan di IGD RSUD Palabuhanratu viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu malam (6/5/2026).

Dalam rekaman video itu, terdengar suara seorang pria yang menggunakan bahasa Sunda mengungkapkan kekecewaannya karena pasien yang ia bawa ke rumah sakit justru diduga diminta pulang tanpa penanganan medis.

"Yeuh pasien, yeuh gering di rumah sakit kuat ditah balik deui yeuh. Allahu Akbar. Mana deui pami kieu teh? Yeuh Rumah Sakit Pelabuhanratu yeuh. Nu gering yeuh kuat ka ditah balik deui yeuh. Pak Dedi Mulyadi, aya pasien ti Citepus yeuh, ditah balik deui," kata pria dalam video tersebut, dikutip Rabu (6/05/2026).

Baca Juga: Dibawah Presiden Bukan Kementerian, 6 Rekomendasi Komisi Reformasi Polri untuk Prabowo

Saat dikonfirmasi, seorang warga Desa Citepus berinisial Mbad membenarkan bahwa pria dalam video tersebut adalah dirinya. Ia kemudian menjelaskan, pasien yang dimaksud merupakan istrinya, Sumiyati, yang telah mengeluhkan sakit selama kurang lebih tiga minggu.

Menurutnya, pada malam itu, sang istri meminta untuk dibawa ke rumah sakit karena kondisinya semakin lemas dan mengalami sakit kepala. Ia kemudian menghubungi Ambulans Desa dan membawa istrinya ke IGD RSUD Palabuhanratu.

Namun setibanya di IGD, ia mengaku tidak langsung mendapatkan penanganan. Bahkan ia sempat mempertanyakan kepada petugas di rumah sakit apakah pasien yang dibawanya akan ditangani atau tidak.

Baca Juga: Alat Berat Mulai Bekerja, TJT Jelaskan Kondisi Longsor Tol Bocimi Seksi 2

“Pas masuk ke dalam saya tanya, ‘Ini mau ditangani atau tidak?’ Baru kemudian datang dokter perempuan,” ujarnya.

Ia menuturkan, dokter sempat menanyakan keluhan pasien dan menyebut bahwa sakit kepala seharusnya ditangani di Poli Penyakit Dalam, namun, pada saat itu poli tersebut sudah tutup karena jam pelayanan telah berakhir dan waktu sudah malam.

Mbad mengaku sempat meminta agar istrinya diberikan infus sebagai penanganan awal karena terlihat lemas. Namun, menurutnya, permintaan tersebut tidak langsung dikabulkan dan justru dijelaskan fungsi infus oleh dokter.

Baca Juga: 7 Hal Sederhana Ini Hanya Dipahami Orang Sunda, Coba Cek Apa Kamu Juga Paham!

“Saya minta diinfus saja dulu, tapi dokter malah menjelaskan infus itu untuk apa. Saya bilang, saya orang awam, saya cuma ingin istri saya ditangani,” katanya.

Merasa tidak mendapatkan kepastian penanganan, ia akhirnya memutuskan membawa pulang istrinya. Dalam kondisi emosi, ia juga sempat merekam video yang kemudian viral.

Setelah keluar dari rumah sakit, ia membawa istrinya ke puskesmas. Di sana, pasien langsung mendapatkan penanganan berupa infus dan obat.

“Alhamdulillah, setelah dari puskesmas, sekarang sudah mendingan, sudah bisa jalan lagi,” ungkapnya.

Baca Juga: Longsor Tol Bocimi, Sukabumi Bogor Jakarta Dialihkan ke GT Cigombong

Klarifikasi Pihak RSUD Palabuhanratu

Menanggapi video viral tersebut, Kepala Seksi Pelayanan Medis, Penunjang Medis, dan Logistik RSUD Palabuhanratu, dr. Rizky Tanjil, memberikan klarifikasi.

Ia menjelaskan bahwa pasien datang ke IGD sekitar pukul 19.30 WIB dengan keluhan nyeri kepala sebelah yang sudah dirasakan sekitar satu minggu dan bersifat hilang timbul.

Menurutnya, dokter jaga IGD telah melakukan pemeriksaan menyeluruh, mulai dari anamnesis hingga pemeriksaan fisik. Hasilnya, tidak ditemukan tanda-tanda kegawatdaruratan pada pasien.

Baca Juga: Jelang Iduladha, Stok Beras Sukabumi 3.500 Ton

“Kondisi umum pasien baik, sadar penuh, tekanan darah 140/80, nadi 76 kali per menit, pernapasan 20 kali per menit, suhu normal, dan saturasi oksigen 99 persen tanpa bantuan oksigen,” jelas dr. Rizky.

Berdasarkan hasil tersebut, kata dr. Rizky, dokter menyimpulkan bahwa pasien tidak memerlukan penanganan darurat maupun rawat inap. Pasien disarankan untuk melanjutkan pengobatan melalui layanan rawat jalan di poliklinik, khususnya poli saraf.

"Jadi ini sebaiknya dilanjutkan berobat di rawat jalan di poliklinik, poli spesialis saraf, karena berkaitan dengan nyeri kepala yang nyeri berulang," ungkapnya.

Dr. Rizky menilai, kejadian ini dipicu oleh adanya miskomunikasi atau mispersepsi antara pihak keluarga pasien dan tenaga medis.

Ia menjelaskan bahwa keluarga pasien sempat menghubungi bidan dari Puskesmas Pembantu (Pustu) dan melakukan komunikasi melalui sambungan telepon dengan dokter IGD.

Dari hasil komunikasi tersebut, kata Rizky, bidan Pustu juga menjelaskan bahwa pasien memang disarankan ke rumah sakit, namun untuk layanan poliklinik, bukan IGD.

“Sudah dijelaskan bahwa tidak ada kegawatdaruratan dan tidak perlu dirawat inap. Tapi mungkin keluarga berharap bisa langsung dirawat atau diinfus,” katanya.

Pihak rumah sakit, menambahkan bahwa sebenarnya tetap membuka opsi penanganan di IGD dengan prosedur yang berlaku, termasuk observasi jika pasien didaftarkan. Namun, keluarga pasien memilih membawa pulang pasien sebelum proses tersebut dilakukan.

“Kalau memang ingin ditangani, silakan mendaftar dan akan kami observasi. Tapi keluarga sudah terlanjur kecewa,” jelasnya.

Dr. Rizky menegaskan bahwa RSUD Palabuhanratu tidak pernah menolak pasien. Setiap tindakan medis dilakukan berdasarkan indikasi dan kondisi objektif pasien.

​"Jadi sebenarnya kalau untuk di rumah sakit kita pasti tidak akan pernah menolak. Kita akan edukasi secara baik sesuai indikasi medis. Kalau memang tidak perlu dirawat ya tentu tidak akan kita rawatkan, juga kasihan juga sebenarnya untuk diinfus-infus itu. Tapi kan keluarganya mungkin mispersepsi aja itu," tandasnya.

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT