SUKABUMIUPDATE.com - Lampu di Sukabumi Coffee Center (SCC) Capitol Plaza, Jalan Mayawati, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, perlahan diredupkan pada Rabu (13/5/2026) malam. Suara obrolan yang sejak tadi memenuhi ruangan mulai menghilang ketika layar besar di depan penonton menyala.
Di kursi-kursi yang hampir penuh itu, bukan hanya anak muda yang datang. Sejumlah teman tuli tampak duduk berdampingan dengan penonton lain, menatap layar dengan serius. Sebagian datang karena penasaran. Sebagian lain datang karena ingin memahami sesuatu yang selama ini terasa jauh: Papua.
Film Pesta Babi malam itu diputar di tengah polemik yang sebelumnya ramai terjadi di sejumlah daerah. Namun di Sukabumi, suasananya berbeda. Tidak ada keributan. Tidak ada teriakan maupun larangan. Yang terdengar hanya suara film dan sesekali napas panjang penonton yang larut dalam cerita.
Baca Juga: Fenomena Super New Moon 17 Mei, Waspada Potensi Banjir ROB di Pesisir Sukabumi
Salah satu inisiator kegiatan, Edwin Do, mengaku acara itu bermula dari obrolan dengan rekannya Indra Risandi, ia melihat film tersebut ramai diperbincangkan di media sosial hingga banyak orang ingin menontonnya.
“Saya dengan Indra Risandi, Karena memang film Pesta Babi ini sedang ramai, banyak dibahas, banyak orang nonton, banyak orang penasaran, akhirnya kita cari-cari tahu gimana caranya kita bisa nonton juga,” ujar Edwin kepada Sukabumiupdate.com sesaat setelah mobar, Rabu (13/5/2026).
Dari rasa penasaran itu, Edwin kemudian mencari akses resmi agar film bisa diputar di Sukabumi. Ia menghubungi pihak Watchdoc yang membuka kesempatan bagi komunitas untuk menyelenggarakan nobar secara mandiri.
Baca Juga: Larangan Pawai Samenan di Cicantayan Diprotes Warganet, Sebut Sudah Jadi Tradisi
Namun bagi Edwin, acara itu bukan sekadar pemutaran film biasa. Ia ingin teman-teman tuli juga bisa menikmati cerita yang sama. Karena itu, ia meminta agar film dilengkapi subtitle bahasa Indonesia.
“Saya komunikasikan itu kepada teman-teman tuli. Saya kasih informasi film tentang Pesta Babi ini, saya jelaskan semuanya supaya teman-teman paham. Dan saya minta ke watchdoc-nya sendiri supaya ada disediakan subtitle Indonesia agar teman tuli juga bisa ikut menikmati,” katanya.
Pilihan lokasi pun tidak datang dengan mudah. Edwin mengaku sempat mencoba dua tempat lain sebelum akhirnya SCC bersedia menjadi ruang pemutaran film tersebut.
Baca Juga: Mahasiswa Nusa Putra University Nobar Film “Pesta Babi”, Bahas Kolonialisme Gaya Baru
“Ini tuh pilihan terakhir sebetulnya. Saya sudah nyoba ke dua tempat, cuma ada banyak pertimbangan akhirnya jadinya alhamdulillah di sini di SCC,” ucapnya.
Meski acara berjalan terbuka untuk umum, rasa khawatir tetap menghantui sebelum pemutaran dimulai. Edwin memahami film itu sedang menjadi perbincangan sensitif di banyak tempat. “Tentu saja rasa khawatir ada,” katanya pelan.
Namun sejak awal, ia menekankan kepada seluruh peserta bahwa tujuan acara hanya satu: menonton dan memahami isi film.
Baca Juga: Lowongan Kerja Sukabumi Sebagai Staff di Gerai Minuman, Minimal Lulusan SMA/SMK
“Saya tekankan dari awal buat teman-teman, kita tujuannya adalah ingin tahu isi dari film itu, ingin tahu pesan dari film itu sendiri. Saya nggak mau acara ini ditunggangi oleh pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
Kekhawatiran itu perlahan mencair seiring film berjalan. Penonton tetap tertib hingga acara selesai. Edwin memperkirakan sekitar 200 orang hadir malam itu.
“Sampai akhir alhamdulillah acaranya berjalan dengan kondusif, semua nggak ada masalah,” katanya.
Baca Juga: Kasus Korupsi Chromebook, Nadiem Dituntut 18 Tahun Bui dan Denda Rp5,6 Triliun
Di antara penonton malam itu, Regi dari komunitas Teman Tuli Berkarya menjadi salah satu yang paling larut dalam cerita film. Baginya, Pesta Babi bukan hanya tentang konflik atau Papua semata, tetapi tentang manusia yang ingin didengar.
“Kami ingin orang-orang di Sukabumi terbuka kalau kondisi di Papua belum ada keadilan, terutama untuk suku Papua pedalaman,” ujar Regi.
Ia mengaku tersentuh melihat bagaimana masyarakat Papua dalam film tersebut tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin alam yang menjadi sumber hidupnya tetap dijaga.
Baca Juga: Awas Salah Pilih! Ini 8 Cara Memastikan Hewan Kurban dalam Kondisi Sehat
“Mereka tidak meminta kemewahan, tapi mereka meminta alamnya dijaga. Bahkan menurut aku, alam itu adalah paru-paru dunia yang harus kita jaga,” katanya.
Bagi Regi, apa yang dialami masyarakat Papua terasa dekat dengan perjuangan kelompok disabilitas, termasuk teman tuli, yang hingga kini masih memperjuangkan akses pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan yang layak.
Di ruangan SCC malam itu, layar film memang akhirnya padam. Namun percakapan tentang keadilan, tentang Papua, dan tentang suara-suara yang selama ini jarang didengar, tampaknya belum benar-benar selesai.
Editor : Ikbal Juliansyah