Sukabumi Update

25 Unit Rumah untuk Korban Bencana di Cikadu Palabuhanratu Mulai Berdiri

Pembangunan Hunian Tetap (Huntap) di Kampung Mubarakah di Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi | Foto : Ilyas Supendi

SUKABUMIUPDATE.com - Pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga penyintas bencana pergerakan tanah di Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi terus berjalan. Kampung Mubarakah yang menjadi lokasi berdirinya hunian ini sebelumnya telah diresmikan ditandai dengan peletakan batu pertama pada Rabu (1/4/2026) oleh Bupati Sukabumi Asep Japar.

Dari pantauan sukabumiupdate.com, pada Selasa Selasa (19/5/2026), pembangunan hunian tetap tersebut terus berprogres. Sebanyak 25 unit rumah sudah berdiri dengan prosentasi progres bervariatif. Di lokasi nampak Trantib Kecamatan Palabuhanratu bersama P2BK tengah melakukan monitoring. 

“Hari ini kami melaksanakan monitoring pembangunan hunian tetap bagi warga penyintas bencana pergerakan tanah di Desa Cikadu,” ujar Kasi Trantib Kecamatan Palabuhanratu, Mahbubillah kepada sukabumiupdate.com.

Berdasarkan hasil monitoring, kata Mahbubillah, pembangunan huntap saat ini telah mencapai sekitar 25 unit rumah dari total rencana sebanyak 100 unit yang akan dibangun untuk masyarakat terdampak bencana. Menurutnya, kegiatan monitoring dilakukan untuk memastikan proses pembangunan berjalan sesuai tahapan dan target yang telah ditetapkan.

Baca Juga: Tagih Janji Pemkot, Pengurus RT dan RW se-Kota Sukabumi Bakal Geruduk Kantor DPRD

“Monitoring ini dilakukan agar proses pembangunan berjalan dengan baik. Diharapkan pembangunan huntap dapat segera selesai sehingga masyarakat penyintas bencana bisa kembali menempati hunian yang aman dan layak,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, setelah lebih dari dua tahun hidup dalam ketidakpastian akibat bencana pergerakan tanah, secercah harapan akhirnya datang bagi warga Desa Cikadu. Luka panjang yang mereka rasakan perlahan mulai terobati dengan dimulainya pembangunan hunian relokasi di Kampung Mubarakah.

Ketua Koordinator Posko Bencana Gempol, Asep Sofyan, yang juga menjadi salah satu penerima manfaat, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Ia mengenang perjalanan panjang penuh ujian yang harus dilalui warga sejak bencana pertama menghantam.

"Terima kasih kepada Bapak Bupati atas kepedulian kepada kami yang telah menjadi satu korban bencana ini. Atas bantuan dan dorongan dari mungkin pihak media yang mendorong dengan gebrakannya. Dan kepeduliannya, sehingga terjadi realisasi relokasi pembangunan hunian tetap di sini," kata Asep Sofyan.

Ia menceritakan, duka itu bermula sejak 4 Desember 2024, saat pergerakan tanah pertama kali terjadi. Belum pulih sepenuhnya, bencana kembali datang pada Desember 2025 dengan dampak yang lebih besar, merobohkan rumah-rumah dan memaksa warga bertahan dalam kondisi serba terbatas.

“Sudah dua tahun lebih kami bertahan. Awalnya sangat berat, bahkan kampung sempat seperti mati. Tapi kejadian kedua justru membuat kami lebih ikhlas dan sabar menghadapi kondisi ini,” tuturnya.

Editor : Syamsul Hidayat

Tags :
BERITA TERKAIT