SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah operasi penyelamatan manusia di kawasan hutan lindung kaki Gunung Salak, Blok Cipari Girang, Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, berjalan dramatis pada Senin (25/5/2026) pagi. Seorang pria paruh baya ditemukan dalam kondisi lemas tak berdaya di pinggir aliran sungai.
Belakangan, setelah proses identifikasi dilakukan, terungkap fakta mengejutkan bahwa pria bernama Ayi Solehudin (49) tersebut merupakan warga Kabupaten Cianjur yang telah dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak sekitar empat tahun lalu.
Berikut kronologi lengkap penemuan hingga proses penjemputan korban oleh pihak keluarga.
Ditemukan Lemas di Pinggir Sungai dan Dikerubuti Lalat
Keberadaan Ayi pertama kali diketahui warga sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu, seorang warga tengah menuju kawasan kaki gunung untuk memeriksa pipa saluran air bersih.
Anggota Forum Relawan SAR Sukabumi Utara, M. Irfan Maulana, mengatakan saksi mata awalnya tidak menyadari ada seseorang di area vegetasi lebat tersebut.
“Awalnya warga mau ngecek air ke atas, enggak tahu ada korban di situ. Pas dilihat, korban sudah lemas di sungai, sudah dikerubutin lalat juga,” ujar Irfan kepada sukabumiupdate.com, Senin sore.
Baca Juga: Pria Cianjur yang Lemas di Hutan Gunung Salak Ternyata Sudah 4 Tahun Hilang
Karena medan cukup sulit, warga tidak langsung mengevakuasi korban seorang diri. Ia memilih turun kembali ke permukiman untuk meminta bantuan sekaligus membawa makanan agar korban memiliki tenaga untuk berkomunikasi.
Evakuasi Dramatis di Medan Curam
Sekitar pukul 07.00 WIB, tim SAR gabungan yang terdiri dari warga, jajaran Pemdes Cisaat, relawan Ambulans Sukabumi Bersatu (ASB), relawan Sosial Tangan Peduli, serta Forum Relawan SAR Sukabumi Utara tiba di lokasi penemuan. Saat itu, korban dalam keadaan sadar namun bicaranya melantur dan tubuhnya terus bergetar hebat.
“Informasinya korban hilang dari hari Minggu, jadi sekitar satu hari satu malam. Pas evakuasi korban sudah menggigil,” kata Irfan.
Medan yang curam, licin, dan berada jauh di dalam kawasan hutan lindung membuat operasi penyelamatan ini memakan waktu berjam-jam. Tim rescue terpaksa membuka jalur baru dan menebang beberapa batang pohon di lokasi untuk dirakit menjadi tandu darurat guna menggotong tubuh korban secara bergantian.
“Kita buka jalur dulu, bikin jalur baru. Cari pohon yang bisa dibikin tandu dadakan,” ujarnya.
Perjalanan menanjak dari pemukiman menuju lokasi penemuan menghabiskan waktu hampir 1,5 jam. Sementara itu, proses pengangkutan tubuh korban dari area sungai menuju titik aman di perkampungan membutuhkan waktu ekstra hingga 2 jam lamanya akibat jalur perbukitan yang terjal.
Identitas Terungkap Lewat Pemindaian Biometrik KTP-el
Setibanya di titik evakuasi utama pada Senin siang sekitar pukul 14.00 WIB, pihak Pemdes Cisaat langsung melarikan pria linglung tersebut ke Kantor Kecamatan Cicurug karena korban tidak mengantongi selembar pun kartu identitas.
Melihat kondisi psikisnya yang labil, Sekretaris Kecamatan (Sekmat) Cicurug, Anton Ardiansyah, berinisiatif melakukan pelacakan identitas menggunakan teknologi perekaman KTP elektronik (KTP-el) melalui pemindaian sidik jari dan retina mata, bekerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil).
“Dari hasil otentikasi data biometrik tersebut, pria itu diketahui bernama Ayi Solehudin, 49 tahun, warga asal Kampung Subela RT 03/05, Desa Sukajadi, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur,” ungkap Anton, Selasa (26/5/2026).
Baca Juga: Jadwal dan Petugas Salat Idul Adha 1447 H di Lapang Merdeka Kota Sukabumi
Keluarga Datang Menjemput, Fakta 4 Tahun Hilang Terungkap
Setelah identitas korban diketahui, pihak Kecamatan Cicurug langsung berkoordinasi dengan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sukabumi dan Cianjur untuk melacak keberadaan keluarganya.
Tak lama kemudian, keluarga korban berhasil dihubungi dan langsung berangkat menuju Sukabumi bersama Pemerintah Desa Sukajadi. Rombongan tiba di Kantor Kecamatan Cicurug sekitar pukul 23.00 WIB.
Suasana haru pecah saat keluarga melihat kondisi Ayi yang selama ini telah lama dicari.
“Pihak keluarga mengucapkan terima kasih karena dia diindikasikan sudah empat tahun menghilang. Sudah dicari ke mana-mana,” kata Anton.
Saat pertama tiba di kantor kecamatan, kondisi korban terlihat sangat lemas diduga akibat kelaparan dan dehidrasi setelah berada di kawasan hutan. Namun, petugas memastikan tidak ditemukan luka fisik serius pada tubuh korban.
“Kelihatannya sangat lemas, kemungkinan kelaparan. Tapi setelah diberi makan dan istirahat, alhamdulillah kondisinya membaik,” jelasnya.
Diduga Memiliki Gangguan Psikis
Hingga kini, belum diketahui secara pasti bagaimana kronologi maupun alasan Ayi bisa berada di tengah hutan kaki Gunung Salak.
Pihak kecamatan mengaku belum sempat menggali keterangan lebih jauh karena kondisi korban masih belum stabil untuk diajak berkomunikasi secara normal.
“Dia ditemukan di pinggir aliran sungai, memang di tengah hutan,” kata Anton.
Melihat kondisi psikis korban, pihak kecamatan menduga Ayi memiliki riwayat gangguan mental. Karena itu, keluarga diminta memberikan pendampingan dan pengawasan lebih lanjut setelah korban kembali ke rumah.
Editor : Denis Febrian