SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah postingan terkait kritik terhadap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Cijulang, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi viral di media sosial dan memicu pro kontra di kalangan warganet.
Dalam unggahan yang dibagikan tersebut memperlihatkan menu MBG berupa nasi putih, crispy chicken, orek tempe, rebus labu dan buncis serta buah jeruk yang disebut diperuntukkan bagi 3B yaitu ibu hamil, ibu menyusui (busui) dan balita.
Postingan itu diunggah akun Facebook bernama Abdul Hamdan pada Selasa, 26 Mei 2026, sekitar pukul 12.00 WIB. Hingga Kamis pagi (28/5/2026), unggahan tersebut telah mendapat 138 like, 109 komentar, dan 4 kali dibagikan.
Baca Juga: Abu Janda Dilaporkan ke Bareskrim usai Sebut Sumbar dan Jabar "Barbar"
Isi caption dari unggahan si pemilik akun tersebut menuliskan kritik dengan nada bahasa Sunda yang ditujukan kepada pihak SPPG Cijulang.
“Gusti iyeh MBG Desa Cijulang parah sumpah. Iye MBG kango BUSUI+BALITA. Cik atuh sing mikir kango SPPG Cijulang. Da etateh dibayar d modalan ku pemerintah, lain make duit pribadi. Bubarkeun lah SPPG Cijulang teh, bres braha bulan menu MBG-na teu pernah bener. Teu sesuai anjuran ti pemerintah kieu mah,” tulis akun tersebut.
Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, isi postingan tersebut berbunyi:
“Ya Allah, ini MBG Desa Cijulang parah, sumpah. Ini MBG untuk ibu menyusui dan balita. Tolong dipikirkan untuk SPPG Cijulang. Karena itu dibayar dan dimodali oleh pemerintah, bukan pakai uang pribadi. Bubarkan saja SPPG Cijulang itu. Sudah berapa bulan menu MBG-nya tidak pernah benar. Tidak sesuai anjuran dari pemerintah seperti ini.”
Baca Juga: Menkeu Purbaya Tak Khawatir Rupiah Tembus 17.800
Saat dikonfirmasi, pemilik akun membenarkan jika dirinya yang mengunggah foto menu MBG tersebut. Ia menjelaskan foto itu diambil di rumahnya setelah makanan dari omprengan yang dibagikan di Posyandu Anyelir Desa Cijulang dipindahkan ke wadah plastik oleh penerima manfaat.
“Jadi menu itu dibawa ke rumah. Penerima manfaat membawa wadah sendiri untuk dipindahkan dari omprengan,” ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Rabu (27/5/2026).
Ia berharap adanya evaluasi dan perbaikan menu MBG dari pihak SPPG Desa Cijulang. “Ya ini semoga ada perbaikan menu oleh SPPG Desa Cijulang,” katanya.
Jawaban Pihak SPPG Cijulang
Sementara itu, Kepala SPPG Cijulang, Hadian, memberikan tanggapan panjang saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp. Ia menyebut persoalan tersebut merupakan masalah internal SPPG dan meminta agar tidak dipublikasikan ke media.
“Sudah dinonaktifkan Penerima Manfaat (PM) tersebut, terima kasih. Yang tahu hanya saya cukup sekian dan terima kasih, tidak perlu ikut campur. Ini urusan PM saya,” tulisnya.
Baca Juga: Renzo Edupark Bantah Buaya yang Ditangkap Warga Cibadak Berasal dari Tempat Wisatanya
Alih-alih memberikan tanggapan mengenai kritik soal menu MBG 3B tersebut, justru jawaban dari pihak Kepala SPPG kepada Sukabumiupdate.com sangat menohok. Hadian menuding ada upaya menggiring opini publik untuk menjatuhkan SPPG yang dipimpinnya.
“Tidak usah menjelaskan apa-apanya, Mas. Anda sendirilah yang meng-up ke media lewat narasi Anda. Begitu pun dari Facebook, Anda sendirilah yang bekerja sama dengan mereka buat menjatuhkan SPPG saya,” tulisnya lagi.
Dalam pesan lainnya, Hadian mengaku khawatir pemberitaan tersebut bisa berdampak terhadap para relawan yang bekerja di SPPG Cijulang.
“Buat menjelek-jelekan Anda mau tanggung jawab atas relawan saya? Kalau Anda mau tanggung jawab, tidak apa-apa. Mereka akan kehilangan pekerjaan mereka dan rezeki yang sudah diberikan oleh negara,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan anggaran di SPPG dilaporkan secara resmi kepada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta Badan Gizi Nasional (BGN).
“Setiap uang yang kami belanjakan di SPPG tersebut akan dilaporkan ke BPKP, jadi aman. Setiap SPPG ada pelaporan tersendiri lewat website yang hanya bisa diakses oleh KA SPPG,” ujarnya.
Selain itu, Hadian mempertanyakan alasan kritik yang diarahkan kepada program MBG.
“Nah jika uang pajak dan APBD masih dipermasalahkan, kenapa tidak dari dulu mempermasalahkan program pemerintah sebelumnya seperti BPJS atau KIP?” katanya.
Di akhir pesannya, Hadian menegaskan tidak semua persoalan sosial perlu langsung dipublikasikan ke media. Ia juga sempat melontarkan sindiran kepada media.
Editor : Ikbal Juliansyah