SUKABUMIUPDATE.com - Kebijakan meliburkan sejumlah sekolah di Kota Sukabumi saat berlangsungnya aksi massa 2.6.26 pada Senin (2/6/2026) turut dirasakan dampaknya oleh para pedagang yang biasa berjualan di sekitar lingkungan sekolah.
Salah satunya Muhammad Bahri (28), penjual sempol ayam yang mangkal di depan SMPN 2 Kota Sukabumi tepatnya di Jalan Ir. H. Juanda. Ia mengaku kehilangan sebagian pembeli karena mayoritas pelanggannya merupakan para siswa.
"Kalau dihitung lagi ya biasanya lumayan walau sekolah libur juga, tapi kebanyakan yang beli anak-anak sekolah," kata Bahri kepada sukabumiupdate.com, Selasa (2//6/2026).
Menurutnya, liburnya aktivitas belajar mengajar otomatis mengurangi lalu lalang pelajar yang selama ini menjadi pelanggan utama dagangannya. Meski demikian, ia masih berharap ada pembeli dari kalangan lain, termasuk peserta aksi yang melintas di lokasi.
"Kalau dampak mah pasti ada, ada yang demo jajan kesini ya lumayan lah," ujarnya.
Bahri mengatakan dirinya telah berjualan sempol di lokasi tersebut selama sekitar satu tahun. Dalam kondisi normal, pendapatan yang diperolehnya bisa mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari.
"Sehari pendapatan bisa 400-500 ribuan," ucapnya.
Baca Juga: Polemik Nafkah Anak Memanas, Kuasa Hukum Ruben Onsu Ungkap Alasan Setop Pembayaran
Terkait kebijakan peliburan sekolah untuk mengantisipasi aksi massa, Bahri menilai kegiatan belajar mengajar sebaiknya tetap berlangsung. Menurutnya, keberadaan siswa sangat berpengaruh terhadap roda usaha pedagang kecil di sekitar sekolah.
"Kalau menurut saya mending masuk ya, kan peminatnya banyaknya anak sekolah," tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi meliburkan enam SMP negeri yang berada di sekitar area aksi massa 2626.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keamanan dan keselamatan siswa selama berlangsungnya unjuk rasa yang membawa sembilan tuntutan dalam pernyataan sikap massa aksi.
Editor : Syamsul Hidayat