SUKABUMIUPDATE.com – Sejumlah warga yang mengatasnamakan Gerakan Cirendeu Bersatu (GCRB) menggelar aksi damai dengan membawa 8 tuntutan yang ditujukan kepada pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kampung Cireundeu, Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Jumat (5/6/2026), sore hari.
Koordinator aksi, Abu Jibriel, mengatakan aksi tersebut dilakukan setelah warga memperoleh informasi dan melakukan investigasi terkait operasional dapur SPPG Girijaya yang dinilai terdapat sejumlah hal yang tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Badan Gizi Nasional (BGN).
"Hari ini adalah aksi damai terkait adanya dapur SPPG di wilayah Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan hasil informasi juga investigasi dari warga masyarakat setempat bahwa dapur SPPG ini masih banyak aturan-aturan yang dilanggar dan tidak sesuai dengan Standar Operasional Badan Gizi Nasional," kata Abu Jibriel, kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (05/06/2026).
Baca Juga: Barang Bukti 15 Motor, 9 Pelaku Curanmor Wilayah Selatan Sukabumi Dibekuk
Berikut adalah tuntutan yang dialamatkan kepada dapur SPPG Girijaya:
1. Ganti Kepala SPPG Dari Mulai Kepala SPPG, Ahli Gizi Dan Akuntansi
2. Dapur SPPG Harus Sesuai Dengan Sop
3. Tutup Dapur Yang Belum Memilik Ipal Sesuai Sop
4. Tutup Dapur Yang Belum Memiliki Sertifikat Laik Higienis Dan Sanitasi.
5. Tutup Dapur Yang Belum Memiliki Sertifikat Ahli Gizi
6. Libatkan Umkm Setempat Dalam Pemberdayaan Ekonomi Dan Kesejahteraan
7. Dapur SPPG Harus Transparansi Dan Akuntabilitas
8. Audit Dapur SPPG
Menurut Abu Jibril, salah satu keluhan utama warga berkaitan dengan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Warga menilai sistem pembuangan limbah dapur tidak sesuai standar sehingga menimbulkan bau dan diduga mencemari lingkungan sekitar.
"IPAL ini merupakan hak dan kewajiban setiap dapur. Harus punya IPAL yang sesuai standar BGN dengan menggunakan biotank sehingga tidak mencemari lingkungan sekitarnya," ujarnya.
Baca Juga: 15 Prompt AI Video Tahun Baru Islam 1448 H Lengkap dengan View Drone Shot
Selain itu, dalam aksi tersebut warga juga menyampaikan tuntutan terkait pengelolaan dapur. Abu Jibriel menyebut warga meminta evaluasi terhadap kepala dapur, bagian akuntansi, dan ahli gizi.
Ia mengaku menerima informasi bahwa menu yang disajikan kepada penerima manfaat dinilai belum sesuai dengan arahan dan standar gizi yang ditetapkan.
Tak hanya itu, warga juga menyoroti keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi dapur. Menurut Abu Jibriel, masyarakat setempat merasa belum dilibatkan dalam penyediaan bahan kebutuhan dapur SPPG.
"Banyak permasalahan terkait UMKM sehingga masyarakat sekitar sini tidak dilibatkan oleh dapur. Warga yang mempunyai modal kecil tetapi ingin ikut kerja sama dalam menyuplai barang tidak dilibatkan sama sekali," ucapnya.
Baca Juga: Google Mau Lepas 32 Juta Nyamuk, Lawan Penyakit DBD dan Virus West Nile di AS
Ia menjelaskan sebagian warga di wilayah tersebut berprofesi sebagai petani dan pedagang hasil pertanian seperti pisang, telur, daging ayam, serta sayuran. Namun, menurutnya, upaya warga untuk terlibat sebagai pemasok belum membuahkan hasil.
"Informasi yang kami dapat, kualitas barang dianggap tidak sesuai. Bahkan warga sudah membuat koperasi, tetapi kerja samanya tidak dilaksanakan," katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Girijaya, Endin Sepudin, mengatakan pada awal pembangunan dapur MBG atau Makan Bergizi Gratis, keberadaannya mendapat dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk RT, RW, dan tokoh masyarakat.
"Pertama sudah ada izin lingkungan dari RT, RW, termasuk tokoh masyarakat. Alhamdulillah terlaksana," kata Endin.
Baca Juga: Tambang Emas Ilegal di Nagawarna Lengkong, Petugas Temukan 40 Lubang Galian Berbahaya
Menurut Endin, selama lima bulan berjalan terdapat sejumlah masukan yang telah disampaikan masyarakat kepada pengelola dapur, terutama terkait kebersihan lingkungan dan kualitas menu makanan.
Ia menyebut sebelumnya terdapat kegiatan kebersihan lingkungan yang melibatkan petugas dengan kompensasi dari perusahaan. Namun, kegiatan tersebut menurutnya tidak lagi berjalan sehingga muncul keluhan terkait sampah yang menimbulkan bau.
Selain itu, Endin juga menyoroti kualitas beberapa menu buah yang diterima siswa. Menurutnya, masyarakat berharap program MBG benar-benar memberikan makanan bergizi sesuai tujuan program pemerintah.
"Yang diajukan yang pertama tolong kebersihannya. Kemudian menu yang sekarang dimakan oleh anak menurut masyarakat tidak cocok. Padahal program pemerintah itu makan bergizi," ujarnya.
Endin menambahkan berbagai keluhan tersebut telah disampaikan kepada pihak terkait. Namun, menurutnya, masyarakat merasa belum mendapatkan jawaban yang memuaskan sehingga muncul aksi penyampaian aspirasi tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan dari pihak pengelola dapur SPPG terkait tuntutan dan keluhan yang disampaikan warga.
Editor : Ikbal Juliansyah