SUKABUMIUPDATE.com – Hari kedua paska kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax belum memberikan dampak signifikan terhadap tingkat penjualan di STTU SPBU 34-43101 yang berlokasi di kawasan Ciseureuh atau Situ Awi, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi. SPBU yang dikenal masyarakat sebagai Pom Bensin Warung Adang itu masih mencatat penjualan Pertamax yang relatif stabil.
Pengawas SPBU, Iman Sulaeman, mengatakan pasca kenaikan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, volume penjualan belum mengalami penurunan dibanding hari-hari biasa.
"Penjualan Pertamax masih di kisaran 3.000 liter per hari. Sampai saat ini belum ada penurunan yang signifikan setelah harga naik," ujar Iman kepada sukabumiupdate.com, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi pada produk Pertamax Turbo. Meski harganya lebih tinggi, tingkat penjualannya tetap berada di angka 100 hingga 200 liter per hari.
Tidak hanya itu, penjualan Pertalite juga terpantau stabil. Iman menyebutkan, pasca kenaikan harga Pertamax, belum terlihat adanya peralihan konsumsi yang signifikan dari pengguna Pertamax ke Pertalite.
"Penjualan Pertalite masih berkisar antara 11.000 sampai 12.000 liter per hari, sama seperti sebelumnya," katanya.
Baca Juga: Target UHC 80 Persen, Kadinkes Kabupaten Sukabumi Ungkap Dampak Penonaktifan JKN
Sementara itu, penurunan justru terjadi pada produk Pertamina Dex. Setelah harga BBM jenis tersebut naik menjadi Rp24.800 per liter, volume penjualannya mengalami penurunan.
Namun demikian, Iman menilai penurunan tersebut lebih dipengaruhi oleh karakteristik pengguna Pertamina Dex yang memang terbatas dibandingkan jenis BBM lainnya.
"Sekarang Pertamina Dex terjual sekitar 700 liter per hari. Sebelum harga naik, bisa mencapai 1.000 hingga 1.500 liter per hari," ungkapnya.
Meski penjualan Pertamina Dex menurun, kondisi tersebut tidak berdampak pada penjualan Biosolar. BBM bersubsidi untuk kendaraan diesel itu masih mencatat penjualan yang cukup tinggi.
"Penjualan Biosolar tetap stabil di kisaran 6.000 sampai 8.000 liter per hari," tambahnya.
Iman menduga kenaikan pertamax akan berpengaruh pada tingkat penjulan namun prosesnya tidak serentak.
"Pengaruhnya pasti ada, tapi (seperti pada penjualan pertamina dex) dampaknya tidak sekaligus, akan terlihat setelah beberapa bulan, (misalnya pada perbandingan penjualan bulanan)," tuturnya.
Baca Juga: Dinas Pertanian Sukabumi Raih Penghargaan Kementan, Produksi Padi Tembus 633 Ribu Ton
Tanggapan warga
Pantauan sukabumiupdate.com di SPBU Jalan Siliwangi No. 30, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Rabu (10/6/2026), sejumlah pengemudi mengaku harus menyesuaikan pengeluaran setelah harga Pertamax mengalami kenaikan signifikan.
Salah seorang pengemudi ojol, Randi (31), mengaku selama ini memilih Pertamax karena dinilai lebih baik untuk performa sepeda motor yang digunakannya bekerja setiap hari. Namun, kenaikan harga membuatnya berpindah ke Pertalite.
"Jadi ayeuna mah ngalih ka Pertalite. ka Pertalite ayeuna mah," ujar Randi kepada sukabumiupdate.com.
Menurutnya, sebelum harga naik, pengisian Pertamax senilai Rp25 ribu masih cukup memenuhi kebutuhan berkendara. Namun kini jumlah BBM yang didapat jauh berkurang sehingga membuatnya mempertimbangkan pengeluaran harian.
Meski demikian, Randi mengaku tidak memiliki keluhan khusus terhadap kebijakan kenaikan harga tersebut. Ia hanya menyayangkan harga Pertamax yang terus meningkat. "Oh, menyayangkan, iya," katanya.
Editor : Syamsul Hidayat