Sukabumi Update

Aksi Heroik Ressi Monica, Detik-detik CPR Selamatkan Bocah yang Tenggelam di Kolam Renang Oasis

Ilustrasi - Teknik Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP) kepada bocah yang terpeleset dan di kolam wisata Oasis Sukabumi. (Sumber : AI/ChatGPT).

SUKABUMIUPDATE.com - Aksi sigap seorang pengunjung bernama Ressi Monica (35) menjadi kunci penyelamatan nyawa bocah berusia lima tahun yang sempat tenggelam di kolam renang Wisata Alam Oasis, Desa Sukajaya, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, pada Minggu 14 Juni 2026.

Berbekal latar belakang pendidikan keperawatan, Ressi bergerak cepat memberikan pertolongan pertama berupa Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP) hingga korban kembali menunjukkan respons.

Ressi menceritakan, insiden tersebut terjadi sesaat setelah ia dan keluarganya tiba di lokasi wisata sekitar pukul 10.00 WIB. Kala itu, dirinya sedang menyiapkan pakaian ganti untuk mendampingi buah hatinya berenang.

Namun suasana santai itu mendadak berubah menjadi genting ketika suaminya datang setengah berlari dan mengabarkan ada seorang anak kecil yang tenggelam di kolam renang.

Baca Juga: Deklarasi Amsterdam: Masyarakat Sipil Indonesia di Belanda Dukung Pembentukan Blok Politik Alternatif

"Pada hari Minggu tanggal 14 Juni 2026, sekitar pukul 10.00 WIB. Saya dan keluarga baru saja sampai tempat wisata, sedang siapkan baju ganti karena mau mendampingi anak-anak berenang. Tidak lama, suami datang setengah lari dan menginfokan saya ada anak kecil tenggelam, suami meminta untuk segera berikan pertolongan pada anak tersebut," ujar Ressi kepada Sukabumiupdate.com, Selasa (16/6/2026).

Mendapat informasi tersebut, Ressi langsung bergegas menuju lokasi korban. Saat tiba, ia melihat korban sedang diangkat oleh seorang pria dengan posisi kepala berada di bawah dan kaki di atas.

Melihat kondisi tersebut, Ressi segera menginstruksikan agar korban dibaringkan di area yang datar untuk memudahkan pemeriksaan dan penanganan. Saat itu, kondisi korban dinilai sangat mengkhawatirkan.

Baca Juga: Gempa M6,7 Guncang Tenggara Palu Sulteng, Kedalaman 10 Km

"Melihat penanganan seperti itu saya langsung menginstruksikan bapa tersebut untuk meletakkan anak di lantai area datar. Kondisi anak tersebut tidak ada respon, lemah lunglai, nadi lemah hampir tidak teraba, akral dingin, bibir sianosis biru keunguan," tuturnya.

Setelah melakukan pemeriksaan awal, Ressi langsung mengambil tindakan penyelamatan dengan melakukan CPR atau Resusitasi Jantung Paru sesuai kondisi korban.

"Segera anamnesa korban, dan melakukan pertolongan sesuai dengan kondisi korban yaitu segera melakukan CPR/RJP Resusitasi Jantung Paru," katanya.

Ressi menjelaskan, proses CPR berlangsung sekitar empat hingga lima menit. Dalam kurun waktu tersebut ia melakukan empat hingga lima siklus kompresi dada dengan kecepatan sekitar 100 hingga 120 kompresi per menit hingga korban mulai menunjukkan respons.

Baca Juga: Makan Bergizi Gratis Bakal Disetop Sementara oleh BGN Saat Libur Sekolah

"Sekitar 4-5 menit, dengan melakukan CPR kurang lebih 4-5 siklus atau setara dengan 100-120 kompresi permenit. Saya lakukan sampai korban menunjukan adanya respon dan bantuan medis lainnya datang," ungkapnya.

Di tengah upaya penyelamatan, Ressi mengaku menghadapi tantangan karena tidak ada tenaga medis lain yang langsung membantu. Padahal, menurutnya, CPR idealnya dilakukan secara bergantian setiap dua menit agar kualitas kompresi tetap optimal.

"CPR harus bergantian setiap 2 menit untuk mencegah kelelahan, karena kompresi dada yang efektif membutuhkan tenaga dan ritme yang kuat. Kelelahan akan membuat kedalaman dan kecepatan kompresi menurun," jelasnya.

Bahkan, ia mengaku sempat berteriak mencari tenaga kesehatan lain karena mulai kelelahan. Namun bantuan baru datang setelah korban mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Baca Juga: Ultimatum 5x24 Jam, BEM UBK Ancam Gelar Aksi Berjilid-jilid Jika Gibran Abaikan Tuntutan

"Kemarin sebetulnya saya sudah kelelahan dan meneriakan apa ada nakes lainnya disini? Namun sampai CPR yang saya lakukan berhasil baru ada seseorang yang mengaku perawat juga baru datang," ujarnya.

Menurut Ressi, saat proses penyelamatan berlangsung sempat ada beberapa orang yang meminta agar korban segera dibawa ke rumah sakit. Namun ia memilih tetap melanjutkan CPR karena menilai kondisi korban belum memungkinkan untuk dipindahkan.

"Alhamdulillah korban sudah menunjukkan ada reflek batuk, keluar cairan banyak dari hidung & mulut dan disertai ada reflek anggota tubuh lainnya. Baru saya mengizinkan korban untuk dibawa ke RS. Sebelumnya ada yang meminta untuk cepat-cepat dibawa ke RS, namun melihat kondisi korban tidak memungkinkan saya tidak mengizinkan," katanya.

Meski suasana di sekitar lokasi sempat panik, Ressi mengaku dirinya dan sang suami berusaha tetap fokus memberikan pertolongan. Ia juga mendengar suaminya mengimbau para pengunjung untuk tidak berkerumun agar proses penyelamatan berjalan lancar.

Baca Juga: Refleksi 1 Muharram 1448 H, Kepala Bapperida Sukabumi: Momentum untuk Perubahan yang Lebih Baik

Setelah korban berhasil menunjukkan respons dan kondisinya berangsur membaik, rasa lega pun menyelimuti dirinya.

"Saya bersyukur dan merasa lega, alhamdulillah korban tertolong," ucapnya.

Peristiwa tersebut membuat Ressi menyoroti pentingnya kemampuan pertolongan pertama dan CPR dimiliki masyarakat umum. Menurutnya, keterampilan tersebut tidak hanya penting bagi tenaga kesehatan, tetapi juga masyarakat luas yang bisa sewaktu-waktu menghadapi situasi darurat.

"Sangat penting, sebaikan pelatihan CPR diberikan pada masyarakat umum, bukan hanya tenaga kesehatan saja. Karena sedikit pertolongan pada korban, dengan teknik dan waktu yang tepat dapat menyelamatkan banyak nyawa," tegasnya.

Ia pun berpesan kepada para orang tua agar tidak lengah mengawasi anak saat bermain di area perairan. Selain itu, Ressi juga mendorong pengelola tempat wisata untuk memastikan kesiapan penanganan darurat, termasuk memberikan pelatihan Bantuan Hidup Dasar kepada seluruh karyawan.

"Untuk orangtua sebaiknya tidak lepas pengawasan saat anak bermain di arena air. Untuk pengelola tempat wisata, saya mempertanyakan apakah ada tim medisnya? Dan sebaiknya seluruh staff karyawan diberikan pelatihan Bantuan Hidup Dasar agar dapat melakukan CPR jika ada kejadian darurat," pungkasnya.

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT