SUKABUMIUPDATE.com – Kawasan Geopark Ciletuh Palabuhanratu di Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, tidak hanya menyuguhkan panorama alam yang memukau, tetapi juga menyimpan jejak sejarah dan wisata religi yang masih terjaga hingga kini. Salah satunya adalah keberadaan Makam Eyang Lamping di kawasan Gunung Tumpeng yang dipercaya sebagai salah satu tokoh cikal bakal pembukaan wilayah di kawasan Ciletuh.
Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Taopik Guntur, mengatakan selain makam Mbah Durak di Desa Makarasakti, terdapat pula makam Eyang Lamping yang memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat setempat. Eyang Lamping disebut merupakan kakak dari Mbah Durak.
Menurut cerita turun-temurun yang berkembang di masyarakat, Eyang Lamping berasal dari Cirebon dan pernah menetap di kawasan belakang Gunung Tumpeng. Kehadirannya diyakini menjadi awal munculnya permukiman warga di wilayah tersebut.
“Menurut cerita dari orang tua terdahulu, Eyang Lamping berasal dari Cirebon dan tinggal bertahun-tahun di kawasan belakang Gunung Tumpeng. Setelah itu mulai bermunculan rumah-rumah penduduk dan kawasan tersebut menjadi permukiman,” ujar Taopik kepada sukabumiupdate.com, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Ini Alasan Elza Syarief Mundur dari Pengacara Sony Sonjaya Tersangka Korupsi BGN
Ia menjelaskan, nama “Lamping” sendiri merujuk pada kawasan dataran tinggi atau perbukitan. Pada masa penjajahan, wilayah tersebut juga dikenal sebagai tempat persembunyian para pejuang yang menghindari kejaran musuh.
“Dulu di balik gunung itu sempat menjadi pemukiman warga. Namun tidak berlangsung lama karena lahannya dijual kepada perusahaan sehingga masyarakat berpindah ke tempat lain. Yang tersisa hingga saat ini hanya cerita sejarah dan makam Eyang Lamping,” katanya.
Makam Eyang Lamping yang memiliki panjang sekitar dua meter hingga kini masih menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah. Di lokasi tersebut terdapat juru kunci atau kuncen yang menjaga serta merawat area makam.
“Banyak peziarah dari luar kota datang dengan berbagai tujuan. Biasanya saat bulan Mulud jumlah pengunjung meningkat cukup signifikan. Kami bersama warga saat ini terus berupaya melakukan penataan, baik akses jalan maupun sejumlah spot penunjang lainnya,” tambahnya.
Selain dikenal sebagai lokasi wisata religi, Gunung Tumpeng juga menjadi salah satu destinasi wisata alam unggulan di kawasan Geopark Ciletuh. Berlokasi di Dusun Cikondang II RT 04, Desa Girimukti, bukit ini menawarkan pemandangan hamparan perbukitan hijau, lembah, hingga lautan lepas yang terlihat dari ketinggian.
Baca Juga: Lampaui Rata-rata, Realisasi Belanja dan Pendapatan Kota Sukabumi Moncer di Nasional
Nama Gunung Tumpeng sendiri berasal dari bentuk perbukitan di kawasan tersebut yang menyerupai nasi tumpeng atau kerucut. Keunikan bentang alam itu menjadikannya salah satu spot favorit wisatawan untuk menikmati panorama matahari terbenam.
Pada akhir pekan maupun hari libur nasional, kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus mengabadikan momen melalui fotografi.
Untuk mencapai lokasi Gunung Tumpeng, pengunjung dapat menjadikan Kantor Desa Girimukti sebagai titik acuan. Dari lokasi tersebut, perjalanan dilanjutkan sejauh sekitar 5 hingga 6 kilometer menuju Kampung Cimanggu. Akses menuju lokasi dapat ditempuh melalui jalan provinsi ruas Palangpang–Puncak Darma yang kemudian tersambung dengan jalan kabupaten ruas Ciemas–Girimukti.
Perpaduan antara keindahan panorama alam dan nilai sejarah yang tersimpan di Makam Eyang Lamping menjadikan Gunung Tumpeng bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang pelestarian budaya dan kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat Geopark Ciletuh.
Dengan mulai dilakukannya penataan akses dan fasilitas pendukung, kawasan Gunung Tumpeng dan Makam Eyang Lamping diharapkan dapat semakin dikenal sebagai destinasi wisata religi dan sejarah yang melengkapi pesona alam Geopark Ciletuh di Kabupaten Sukabumi.
Editor : Syamsul Hidayat