SUKABUMIUPDATE.com - Petani jagung di Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, hanya bisa pasrah saat babi hutan merusak lahan pertanian mereka dalam dua bulan terakhir. Serangan tersebut terjadi di Desa Mekarjaya yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung di wilayah Sukabumi Selatan.
Wilayah yang terdampak cukup parah berada di Kampung Cicurug RT 18 dan RT 19, Desa Mekarjaya. Padahal, daerah tersebut memiliki rekam jejak membanggakan sebagai penghasil jagung unggulan hingga pernah meraih prestasi di tingkat Provinsi Jawa Barat.
Kini, reputasi tersebut terancam akibat risiko gagal panen yang terus menghantui para petani. Bahkan, jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi yang efektif, para petani mengaku khawatir enggan kembali menanam jagung pada musim tanam berikutnya.
Baca Juga: Ruas Jalan Parungkuda-Bojongpari Direkonstruksi, Pengerjaan Ditargetkan Rampung 120 Hari
Ketua Kelompok Tani Mekarjaya, Darus, mengatakan serangan babi hutan telah berdampak besar terhadap kondisi ekonomi dan psikologis para petani. Menurutnya, kerusakan tanaman jagung di wilayah Kampung Cicurug sudah mencapai hampir 50 persen.
"Kerusakan yang cukup parah terjadi di RT 18 dan RT 19. Luas lahan yang terdampak hampir 100 hektare dan saat ini siang maupun malam masih terus diserang kawanan babi hutan," ujar Darus kepada sukabumiupdate.com, Rabu (17/6/2026).
Ia menjelaskan, tanaman jagung saat ini telah memasuki usia sekitar tiga bulan dan diperkirakan satu bulan lagi siap dipanen. Namun karena khawatir habis dirusak babi hutan, sebagian petani terpaksa memanen lebih awal meski kualitas hasil panennya belum maksimal.
Baca Juga: Suara Sukabumi dari Tugu Adipura, Mahasiswa Nusa Putra Kritik Kebijakan Tidak Pro Rakyat
"Beberapa petani sudah memilih panen lebih cepat daripada habis dimakan babi hutan. Tetapi kualitas jagungnya tentu tidak terjamin karena belum masuk masa panen ideal," katanya.
Darus menambahkan, pada siang hari tanaman masih bisa dijaga oleh petani. Namun saat malam tiba, kawanan babi hutan datang dalam jumlah banyak dan memporak-porandakan areal pertanian.
"Kalau siang hari masih bisa dijaga, tetapi malam hari sangat sulit. Kawanan babi hutan masuk dan merusak tanaman dalam waktu singkat," ungkapnya.
Baca Juga: Anggota DPR Bongkar Ratusan Triliun Dana Pendidikan Tidak Terserap
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya dengan meminta bantuan Perbakin Kota Sukabumi untuk melakukan pengendalian populasi babi hutan di sekitar area pertanian.
"Kami sudah meminta bantuan Perbakin Kota Sukabumi. Sampai saat ini sudah lima kali turun langsung ke lokasi, termasuk rencananya malam ini. Kendalanya, area kebun sangat luas dan babi-babi itu biasanya lari ke kawasan perhutanan saat dilakukan pengejaran," jelas Darus.
Para petani berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera mencari solusi jangka panjang agar serangan babi hutan tidak terus berulang. Jika tidak, ancaman gagal panen diperkirakan akan semakin besar dan berdampak pada keberlangsungan usaha tani jagung di Desa Mekarjaya.
Editor : Ikbal Juliansyah