SUKABUMIUPDATE.com – Di tengah keterbatasan akses listrik di kawasan terpencil tidak menyurutkan semangat Abah Sarnuh (80), seorang petani lansia di Kontrak Pasirdatar, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, untuk hidup mandiri.
Berbekal kreativitas dan pengalaman, ia berhasil memanfaatkan aliran sungai di sekitar tempat tinggalnya menjadi sumber energi listrik yang telah menerangi rumahnya selama belasan tahun.
Pria yang menetap di kawasan tersebut sejak 1998 itu membangun pembangkit listrik sederhana dengan memanfaatkan kincir air yang digerakkan oleh aliran sungai. Meski tidak pernah mempelajari ilmu kelistrikan secara formal, Abah Sarnuh memahami prinsip kerja dinamo dan kumparan yang mampu menghasilkan energi listrik.
Berkat inovasi tersebut, dua rumah dan sebuah mushala di kawasan Kontrak Pasirdatar dapat menikmati penerangan tanpa bergantung pada jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Bahkan, listrik yang digunakan setiap malam itu dapat dinikmati tanpa biaya bulanan alias gratis.
"Prinsipnya dinamo digerakkan kincir oleh air, gesekannya di dalam oleh kumparan, langsung menghasilkan tenaga listrik yang dialirkan ke rumah. Di sini mah listrik dipakai kalau malam saja dan bisa diatur besar kecil volumenya," kata Abah Sarnuh.
Baca Juga: Warga Kabandungan Berharap Perusahaan Geothermal Lebih Terbuka Soal Operasional dan Lingkungan
Kreativitasnya lahir dari keterbatasan. Saat pertama kali membuka lahan pertanian dan menetap di Pasirdatar pada 1998, Abah Sarnuh hanya mengandalkan lampu petromak berbahan bakar minyak tanah untuk menerangi malam.
Namun, ketika minyak tanah mulai langka pada 2007, ia dihadapkan pada pilihan sulit. Saat itu, pemasangan jaringan listrik PLN sebenarnya sempat ditawarkan. Akan tetapi, karena lokasi rumahnya yang jauh dari jaringan utama, ia diwajibkan menyediakan sendiri 32 rol kabel dengan total biaya sekitar Rp3,2 juta.
Kincir air, sebuah pembangkit listrik tenaga air karya Abah Sarnuh.
Bagi seorang petani, angka tersebut sangat besar. Belum lagi risiko kerusakan dan biaya perawatan kabel yang harus ditanggung sendiri. Alih-alih menggunakan uang tersebut untuk memasang jaringan listrik, Abah Sarnuh memilih mencari solusi lain.
"Saya kan bukan orang bergaji. Kalau pakai disel juga harus beli solar atau bensin. Akhirnya uang Rp3,2 juta itu saya pakai pergi ke Kota Sukabumi untuk membeli dinamo dan alat lainnya. Dari situ dibuat kincir air, dan Alhamdulillah sampai sekarang tidak mengeluarkan biaya listrik lagi," tuturnya.
Selama menggunakan pembangkit listrik tenaga air sederhana tersebut, Abah Sarnuh mengaku hampir tidak pernah mengalami kendala berarti, bahkan saat musim kemarau. Tantangan justru datang ketika musim hujan. Banjir kerap merusak saluran air dan penampung yang menjadi sumber penggerak kincir, sehingga ia harus memperbaikinya secara mandiri.
Editor : Asep Awaludin