SUKABUMIUPDATE.com – Massa aksi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Wilayah Sukabumi akhirnya membubarkan diri setelah bertahan hingga menjelang petang di depan Pendopo Sukabumi, Senin (22/6/2026).
Mahasiswa memutuskan mengakhiri aksi sekitar pukul 18.30 WIB setelah tidak berhasil bertemu langsung dengan Bupati Sukabumi maupun Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi.
Sebelumnya, aksi demonstrasi sempat diwarnai ketegangan antara peserta aksi dan aparat keamanan. Massa juga melakukan pembakaran ban sebagai bentuk protes atas berbagai persoalan yang mereka soroti, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Meski demikian, puluhan mahasiswa tetap bertahan di depan gerbang Pendopo Sukabumi selama berjam-jam. Mereka menegaskan tidak akan meninggalkan lokasi sebelum tuntutan disampaikan langsung kepada pimpinan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.
Koordinator Wilayah Priangan Barat BEM Nusantara, Rahmadi L. Makin, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk mosi tidak percaya mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak kepada masyarakat.
"Kondisi bangsa hari ini sedang tidak baik-baik saja dan warga terdampak. Kami melihat Bupati seolah-olah abai dan tidak mendengarkan," ujar Rahmadi kepada sukabumiupdate.com di sela aksi.
Baca Juga: Kantor Bupati Sukabumi Didemo, BEM Nusantara Soroti Pelemahan Rupiah hingga RSUD Palabuhanratu
Dalam demonstrasi tersebut, BEM Nusantara membawa tujuh tuntutan, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga BBM, evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), evaluasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), reformasi dan supremasi sipil, hingga persoalan kebersihan dan tata kelola parkir di RSUD Palabuhanratu.
Rahmadi menilai sejumlah program prioritas pemerintah perlu dievaluasi karena belum berjalan optimal di lapangan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kami menyoroti program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang hari ini kami nilai kurang efektif dan efisien. Program MBG yang seharusnya fokus pada penanganan stunting di wilayah 3T justru diterapkan secara merata sehingga berpotensi tidak tepat sasaran," katanya.
Selain itu, mahasiswa juga mengkritisi pelaksanaan Program Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai perlu dievaluasi agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa.
Baca Juga: Ultimatum 5x24 Jam, BEM UBK Ancam Gelar Aksi Berjilid-jilid Jika Gibran Abaikan Tuntutan
BEM Nusantara turut menyoroti keterlibatan aparat dalam sejumlah program sipil yang menurut mereka berpotensi mengurangi semangat reformasi.
"Ketika TNI-Polri ditarik terlalu jauh masuk ke ranah sipil, ini memperkuat status quo dan mencederai reformasi yang dulu diperjuangkan dengan darah dan nyawa. Karena itu kami mendukung penuh gerakan Reformasi Jilid Dua untuk evaluasi total kabinet," tegas Rahmadi.
Sebelum aksi berakhir, mahasiswa sempat menyatakan hanya bersedia berdialog langsung dengan Bupati Sukabumi atau Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi dan menolak perwakilan lainnya.
"Kami tidak akan menerima perwakilan lain selain Bupati atau Pak Sekda, dan kami siap bertahan di sini hingga malam sampai ada iktikad baik," ujarnya.
Namun hingga massa membubarkan diri sekitar pukul 18.30 WIB, baik Bupati Sukabumi maupun Sekretaris Daerah tidak terlihat hadir menemui peserta aksi.
Meski aksi telah berakhir, BEM Nusantara menegaskan akan terus mengawal berbagai tuntutan yang telah disampaikan kepada pemerintah sebagai bentuk kontrol sosial terhadap kebijakan publik.
Editor : Denis Febrian