Sukabumi Update

Menghijaukan Kembali Hulu Sungai Cikaso Sukabumi, Dihancurkan Tambang dan Penebangan Liar

Kondisi Leuweung Kabuyutan hulu DAS Cikaso yang tidak lagi jadi hutan (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Gerakan penanaman 15 ribu pohon di kawasan hulu Sungai Cikaso, Kabupaten Sukabumi,  mendapat apresiasi dari Kementerian Kehutanan RI. Kegiatan yang digagas Komunitas Pegiat Lingkungan Umbara Cikaso itu dinilai sebagai langkah nyata dalam memulihkan tutupan hutan sekaligus mengurangi risiko banjir yang selama ini kerap melanda dampak meluapnya Sungai Cikaso. 

Kepala Bidang Fasilitasi Penerapan Pengembangan Hutan Berkelanjutan Kementerian Kehutanan RI, Pratiara Lamin, mengatakan kawasan hutan di Sukabumi yang dikelola pemerintah memiliki beberapa fungsi, mulai dari kawasan konservasi untuk perlindungan flora dan fauna, hutan lindung, hutan produksi, hingga kawasan yang dikelola Perum Perhutani.

Menurutnya, banjir yang sering terjadi di Kabupaten Sukabumi tidak hanya dipengaruhi tingginya curah hujan, tetapi juga menurunnya kemampuan lahan dalam menyerap air. "Tanah memiliki kapasitas infiltrasi atau daya serap dan porositas sebagai ruang antar-pori. Ketika debit air hujan melebihi kapasitas tersebut, tanah menjadi jenuh sehingga memicu genangan hingga banjir," ujar Pratiara.

Ia menegaskan, penanaman 15 ribu pohon di kawasan hulu Sungai Cikaso merupakan upaya penting untuk mengembalikan tutupan vegetasi yang terus berkurang. "Kami sangat mengapresiasi kegiatan tanam pohon 15 ribu yang diinisiasi Pegiat Lingkungan Umbara Cikaso dan didukung Anggota Komisi IV DPR RI drh. Slamet, RPH Sukabumi, Forkopimcam, serta para relawan. Kawasan hulu Sungai Cikaso menjadi lokasi yang sangat strategis karena selama ini dampak banjir justru dirasakan masyarakat di wilayah hilir. Dengan penanaman pohon, diharapkan dampak dari terbukanya tutupan hutan dapat diminimalisasi," katanya.

Baca Juga: Benarkah 7 Dari 10 Lajang di Kota Sukabumi Belum atau Kesulitan Menikah?

Selain rehabilitasi lahan melalui penanaman pohon, Kementerian Kehutanan juga terus mendorong program pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis masyarakat. Program tersebut memberikan akses legal kepada masyarakat untuk mengelola kawasan hutan negara tanpa mengubah status kepemilikannya.

"Sebagai bentuk komitmen kami, pengelolaan hutan berkelanjutan dilakukan bersama masyarakat setempat. Tujuannya memberikan akses kelola lahan negara untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Masyarakat tidak memiliki lahan tersebut sebagai hak milik, tetapi memperoleh hak akses untuk memanfaatkannya secara lestari," jelas Pratiara.

Kementerian Kehutanan tanam 15 ribu pohon di hulu DAS Cikaso SukabumiKementerian Kehutanan tanam 15 ribu pohon di hulu DAS Cikaso Sukabumi

Leuweung Kabuyutan Dirusak Tambang dan Tebang Liar

Sementara itu, Kepala Desa Tegallega, Fuad Abdul Latif, mengakui kondisi kawasan hulu Sungai Cikaso sempat mengalami kerusakan yang cukup serius akibat berbagai faktor, termasuk aktivitas penebangan liar dan tambang ilegal.

Menurutnya, saat ini aktivitas tambang ilegal mulai berhasil ditekan berkat kerja sama seluruh unsur pemerintah, aparat, dan masyarakat. Meski demikian, dampak kerusakan lingkungan masih sangat terasa, terutama bagi masyarakat yang berada di sepanjang aliran sungai hingga wilayah hilir.

Baca Juga: 1,3 Juta Anggota Mundur Setelah Presiden Partai Buruh Gabung Pemerintah

"Kalau berbicara kondisi di hulu Sungai Cikaso, memang cukup parah. Alhamdulillah sekarang aktivitas tambang ilegal sudah bisa ditekan berkat kerja sama semua elemen. Namun dampaknya masih terasa, terutama ke wilayah hilir karena sumber airnya berasal dari hulu Cikaso ini," ujar Fuad.

Ia mengungkapkan, dahulu kawasan hulu Cikaso dipenuhi berbagai jenis pohon endemik. Namun kini hanya tersisa tiga pohon endemik yang masih bertahan.

"Dulu di sekitar hulu sungai tumbuh banyak pohon endemik, sekarang yang tersisa hanya tiga pohon. Penebangan yang tidak resmi dan tidak teratur menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah lagi aktivitas tambang ilegal beberapa tahun lalu yang mengambil manfaat tanpa melakukan penanaman kembali," katanya.

Fuad berharap gerakan penghijauan seperti penanaman 15 ribu pohon tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan untuk memulihkan fungsi kawasan hulu sebagai daerah resapan air.

Baca Juga: Petak Umpet Dimensi Mulai Syuting di Sukabumi, Pesona Alam Dalam Film Petualangan Anak

Berdasarkan pantauan Sukabumiupdate.com, kawasan Leuweung Kabuyutan yang berada di blok hutan pinus dan damar Perhutani Hanjuang Tengah masih menyisakan sejumlah lahan terbuka di sekitarnya. Padahal, kawasan tersebut sebelumnya dikenal sebagai hutan belantara yang memiliki sumber mata air berupa kolam alami seluas sekitar dua meter persegi.

Kondisi itu menunjukkan masih besarnya kebutuhan rehabilitasi kawasan hutan secara berkelanjutan. Upaya pemulihan tutupan vegetasi di daerah tangkapan air dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan sumber air sekaligus mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor, di Kabupaten Sukabumi.

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT