SUKABUMIUPDATE.com - Wajah Pantai Karang Pamulang di Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kini kehilangan pesona keindahannya. Pantai yang dahulu masyhur sebagai salah satu ikon wisata unggulan sekaligus lokasi favorit latihan berselancar (surfing) bagi para pemula tersebut kini kondisinya berubah drastis.
Degradasi lingkungan ini terjadi sebagai dampak nyata dari terbengkalainya pembangunan proyek Pelabuhan Laut Pengumpan Regional (PLPR) di kawasan tersebut.
Hamparan pasir putih yang dahulu menjadi daya tarik magis bagi para pelancong, kini terpantau tertutup oleh sedimentasi tanah. Sementara itu, struktur bangunan proyek dermaga beton yang tak kunjung rampung meninggalkan kesan kumuh yang terbengkalai dan dinilai ikut memengaruhi aktivitas pariwisata di kawasan tersebut.
Imbas negatif perubahan ekosistem ini dirasakan langsung oleh Yan Sebastian, pengelola Hotel Bunga Ayu yang beroperasi tepat di sekitar Pantai Karang Pamulang. Menurut Yan, tanda-tanda kerusakan lingkungan dan penurunan kualitas pantai mulai terasa secara bertahap sejak megaproyek PLPR tersebut pertama kali digulirkan pada tahun 2015 silam.
"Dulu Pantai Karang Pamulang dikenal sebagai tempat surfing, terutama untuk latihan peselancar pemula. Banyak wisatawan, termasuk dari Jepang, menginap di hotel-hotel sekitar karena ombaknya sangat cocok untuk belajar surfing," ujar Yan kepada sukabumiupdate.com, Senin (6/7/2026).
Baca Juga: Bupati Sukabumi Tolak Keberatan Ence Benno, Sengketa Kades Babakanjaya Berlanjut ke Gubernur Jabar
Sayangnya, kejayaan sport tourism di pantai ini sekarang tinggal kenangan manis. Proses sedimentasi masif yang terus terjadi mengubah kontur dasar laut, yang pada akhirnya memicu redupnya roda aktivitas pariwisata dan geliat ekonomi masyarakat lokal. Kondisi pantai yang kian mendangkal membuat ombak terbaik untuk berselancar tidak lagi terbentuk di area ini.
"Sejak proyek itu dibangun, pantai menjadi dangkal akibat sedimentasi. Wisatawan yang datang jauh berkurang. Tingkat hunian hotel kami turun lebih dari 50 persen," ungkapnya.
Selain mematikan potensi wisata dan sektor perhotelan, Yan juga mengingatkan adanya potensi bahaya keselamatan fisik tersembunyi yang kini mengintai para pengunjung pantai. Berdasarkan pengamatannya, struktur pemecah ombak (breakwater) yang dibangun tidak sempurna justru menciptakan pola arus baru yang mematikan di luar area aman pantai.
"Kalau ombak sedang besar, arus balik di luar pemecah ombak cukup berbahaya. Kami mengimbau wisatawan agar tidak berenang terlalu jauh dari bibir pantai," kata Yan.
Ironisnya, kerusakan lingkungan ini sebenarnya sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh komunitas pengelola wisata setempat. Yan mengaku bahwa dirinya bersama sejumlah elemen masyarakat dan pelaku usaha pariwisata telah melayangkan masukan, kritik, serta catatan tertulis kepada jajaran pemerintah pusat sebelum batu pertama proyek tersebut diletakkan.
"Dari awal kami sudah menyampaikan kekhawatiran akan terjadi sedimentasi jika proyek tetap dibangun di sini. Sayangnya, sekarang proyeknya mangkrak, sementara dampaknya sudah sangat terasa bagi masyarakat khususnya wisatawan yang biasanya ramai," pungkas Yan.
Editor : Denis Febrian