SUKABUMIUPDATE.com - Harapan Ikoh Mudrikoh (56), warga Kampung Sekarwangi RT 04/28, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, untuk bekerja dengan penghasilan Rp7 juta per bulan di Nusa Tenggara Timur (NTT) justru berujung telantar. Mengetahui kondisi tersebut, Pemerintah Kecamatan Cibadak bersama Kelurahan Cibadak dan warga yang tergabung dalam Kopi Masal (Kolaborasi Peduli Masalah Sosial) bergerak cepat menghimpun bantuan agar Ikoh dapat kembali ke kampung halamannya.
Camat Cibadak Mulyadi mengungkapkan, informasi mengenai Ikoh Mudrikoh yang telantar di NTT pertama kali diterimanya dari sebuah video yang beredar di media sosial. Namun, karena informasi dalam video tersebut belum jelas, pihak kecamatan tidak langsung mengambil tindakan.
"Awalnya dari media sosial. Informasi itu ada yang mengirimkan videonya ke saya. Namun, karena videonya kurang jelas, kami tidak langsung bertindak," kata Mulyadi kepada sukabumiupdate.com, Kamis (9/7/2026).
Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, pada Sabtu (4/7/2026) Mulyadi menginstruksikan stafnya, Fredy, melakukan asesmen dengan mendatangi keluarga Ikoh di Kelurahan Cibadak.
Baca Juga: Bapenda Sukabumi Ungkap Filosofi Logo Baru, Simbol Transformasi Pelayanan dan Integritas
Dari hasil penelusuran diketahui Ikoh berangkat ke NTT pada Senin malam, 29 Juni 2026, setelah diajak rekannya bekerja dengan iming-iming gaji sekitar Rp7 juta per bulan. Sebelum berangkat, Ikoh bekerja sebagai sopir kendaraan berat di proyek pembangunan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi).
Menurut Mulyadi, Ikoh berangkat melalui jalur perorangan, bukan melalui perusahaan resmi. Ia dijanjikan pekerjaan serta biaya perjalanan yang ditanggung perusahaan. Namun, setelah tiba di NTT, pekerjaan yang dijanjikan ternyata tidak ada.
"Berdasarkan informasi yang kami terima, dugaan kuatnya seperti itu. Beliau diajak ke NTT karena dijanjikan gaji Rp7 juta per bulan dan ongkos perjalanan ditanggung perusahaan. Namun setelah sampai di sana, perusahaan dan pekerjaan yang dijanjikan itu sama sekali tidak ada. Akibatnya beliau merasa menyesal dan ingin pulang, tetapi sudah tidak memiliki ongkos sama sekali," ujarnya.
Hasil asesmen juga mengungkap kondisi ekonomi keluarga Ikoh tergolong terbatas. Ikoh diketahui sudah tidak lagi memiliki istri. Dari pernikahan pertamanya, ia memiliki enam orang anak. Mantan istri pertamanya saat ini tinggal di rumah kontrakan dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Dari enam anak tersebut, tiga orang telah bekerja di Bogor dan Depok, sedangkan tiga lainnya masih ada yang belum bekerja dan masih bersekolah.
Baca Juga: Hutan Damar Sukabumi, Lorong Hijau yang Menenangkan di Kaki Gunung Gede Pangrango
Selain itu, Ikoh sudah lama tidak lagi tinggal di alamat Kampung Sekarwangi RT 004/028, Kelurahan Cibadak karena tidak lagi memiliki rumah di lokasi tersebut. Selama ini ia lebih sering pulang ke rumah ibunya, Uun (82), di Kampung Bojong Duren RT 002/019, Kelurahan Cibadak. Keluarga juga menyampaikan bahwa Ikoh memiliki riwayat penyakit jantung.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kecamatan Cibadak memilih bergerak cepat tanpa menunggu proses bantuan formal.
"Karena saya tahu prosedur mengajukan bantuan formal ke atasan terkadang membutuhkan waktu yang agak lama, maka saat itu kami berinisiatif menggerakkan warga setempat. Kami melakukan galang dana dan iuran sukarela dari warga serta memanfaatkan dana infak dari pihak kecamatan yang biasa digunakan untuk kegiatan aparatur. Alhamdulillah akhirnya terkumpul sekitar Rp2 juta," kata Mulyadi.
Dana tersebut berasal dari gotong royong masyarakat, Pemerintah Kelurahan Cibadak sebesar Rp500 ribu, infak Kecamatan Cibadak Rp500 ribu, serta bantuan dari lingkungan RW 28 sebesar Rp1 juta. Bantuan kemudian diserahkan oleh Lurah Cibadak melalui Ketua RW 28 dan dikonfirmasi langsung kepada Ikoh melalui sambungan video call.
Baca Juga: Justin Bieber Meriahkan Halftime Show Final Piala Dunia 2026, Bersama BTS hingga Shakira
Menurut Mulyadi, seluruh bantuan tersebut diperuntukkan sebagai ongkos perjalanan pulang ke Sukabumi.
"Benar, sepenuhnya untuk ongkos perjalanan pulang ke sini. Seharusnya hari ini beliau sudah bisa memesan tiket perjalanan karena dananya sudah dikirimkan. Kemungkinan besar hari ini beliau sudah bisa jalan pulang. Kami akan terus memantau perkembangannya," ucapnya.
Ia mengatakan, berdasarkan komunikasi terakhir, Ikoh dalam kondisi sehat dan telah mengirimkan video yang menunjukkan dirinya dalam keadaan baik.
"Kondisinya sehat. Beliau juga sudah membuat kiriman video pendek yang memperlihatkan dirinya dalam keadaan sehat walafiat. Beliau merasa sangat bahagia karena sudah dibantu dan difasilitasi untuk bisa segera pulang ke rumahnya di Cibadak," tuturnya.
Setelah Ikoh tiba di Sukabumi, pihak kecamatan akan kembali berkoordinasi untuk memantau kondisi kesehatan maupun kebutuhan lanjutan yang diperlukan.
"Untuk masalah kesehatan, nanti setelah beliau tiba di sini tentu akan kami pantau dan periksakan secara berkala. Namun kalau melihat dari video terbaru yang beliau kirimkan hari ini, kondisi fisiknya tampak sehat dan baik-baik saja," katanya.
Baca Juga: Eks Ajudan Prabowo Disebut Pimpin Puluhan Prajurit TNI Geruduk Polda Metro Jaya
Mulyadi menegaskan langkah cepat yang dilakukan merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap warganya yang mengalami kesulitan.
"Ketika ada warga yang mengalami kesulitan, tentu kami harus berusaha semaksimal mungkin membantu di tengah segala keterbatasan yang ada. Setelah dipastikan layak dibantu, kami berkoordinasi dengan Pak Lurah dan RT/RW sehingga bantuan bisa segera terkumpul," ujarnya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di luar daerah yang menjanjikan penghasilan besar.
"Kalau ada yang diajak bekerja ke luar daerah, apalagi sampai beda provinsi, dipastikan dulu benar atau tidak pekerjaannya. Jangan mudah tergiur dengan gaji yang besar tanpa melakukan verifikasi. Karena kalau sudah seperti ini, keluarga di rumah juga ikut khawatir. Intinya tetap waspada," pungkasnya.
Editor : Syamsul Hidayat