Sukabumi Update

2031 Kerbau Diprediksi Punah? Cerita Banteng dan Hutan Cikepuh Sukabumi

Warga peternak kerbau di sekitar kawasan hutan cikepuh Sukabumi

SUKABUMIUPDATE.com - Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan, IPB, Prof Iman Supriatna pernah membahas bahwa tahun 2031 populasi ternak kerbau di Indonesia terancam punah. Prediksi ini ini berdasar pada Data BPS (Badan Pusat Statistik) soal penurunan populasi hingga satu juta ekor dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Hal tersebut diungkap Prof Iman Supriatna pada Desember tahun 2015 silam. "Kalau kita ekstrapolasikan data dari BPS, maka pada tahun 2031 populasi ternak kerbau mendekati zero, istilah lainnya punah. Anak cucu kita tidak akan melihat kerbau lagi," kata dia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) sejak 2011 hingga 2013 mencatat penurunan populasi sapi potong hingga 2,5 juta ekor dan ternak kerbau sebesar satu juta ekor. Menurut Iman, upaya mengembalikan populasi hewan ternak dapat dilakukan Indonesia karena memiliki bioteknologi reproduksi. Teknologi tersebut adalah Inseminasi Buatan (IB), transfer embrio (TE), in vitro fertilizer (IVF) dan transgenik (masih skala penelitian). 

Baca Juga: Warga Manfaatkan Pelayanan Adminduk Jemput Bola di Purwasedar Sukabumi

Cerita Banteng dan Hutan Cikepuh Sukabumi

Kerbau dengan nama ilmiah Bubalus bubalis atau Bubalus arnee untuk jenis liarnya, dalam bahasa Inggris disebut. buffalo (kerbau air), asian buffalo atau carabao, adalah salah satu satwa yang banyak diternakan oleh warga Sukabumi, khususnya mereka yang tinggal di sekitar hutan Cikepuh. Sebuah hutan lindung Suaka Margasatwa yang berada di kecamatan Ciracap dan Ciemas, Kabupaten Sukabumi ini, menjadi benteng terakhir kerbau di Pajampangan.

Sempat menuai polemik pada Februari 2020 dimana Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat telah meminta masyarakat agar mengevakuasi kerbau milik mereka. Berkaitan dengan adanya rehabilitasi hutan dan lahan berupa penanaman bibit pohon endemik di Suaka Margasatwa Cikepuh.

Karwan petani di Desa Gunungbatu Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi, menjelaskan bahwa banyak kerbau berkeliaran di dalam hutan Cikepuh, bahkan hingga berkembang biak. Keberadaan kerbau liar ini sempat dikira banteng jawa. 

Baca Juga: Bedah Rumah dengan Skema Tender Rakyat, Program Gentengisasi 400 Ribu Hunian

Menurut Karwan, melepasliarkan kerbau di kawasan tersebut menjadi kebiasaan warga di Kecamatan Ciracap dan Ciemas. Mereka melepaskan kerbau peliharaannya hingga berkembang biak di hutan Suaka Margasatwa Cikepuh. 

Data polisi kehutanan di Suaka Margasatwa Cikepuh Iwan Setiawan mencatat masih banyaknya kerbau yang belum keluar dari kawasan tersebut. Saat dilakukan sosialisasi pada Februari 2020, ada sekira 700 ekor kerbau milik 200 peternak.

Tahun 2023 UPTD Peternakan Wilayah VI Jampangkulon Kabupaten Sukabumi mendata bahwa Populasi  kerbau di wilayah tersebut mencapai hampir 664 ekor. Kerbau-kerbau tersebut merupakan milik dari warga desa yang berada di sekitar hutan cikepuh.

Baca Juga: Prabowo Pastikan MBG Jalan Terus! Izinkan Semua Pihak Periksa Dapur SPPG

Pemda sempat mengalami kesulitan untuk vaksinasi, pengobatan dan pemberian vitamin untuk ternak kerbau ini. Hanya bisa dilakukan saat musim kemarau, saat rumput hutan mengering, kerbau-kerbau pulang keluar hutan, dekat pemukiman.

Dikutip dari laman Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Suaka Margasatwa Cikepuh yang berdekatan dengan Cagar Alam Cibanteng merupakan kawasan hutan konservasi di pesisir selatan Sukabumi yang memiliki fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. 

Yang dimaksud dengan penyangga kehidupan, kata laporan tersebut, adalah hutan sebagai penghasil oksigen, pengatur tata air, dan penyimpan plasma nutfah, serta menjaga kesuburan tanah.  Hutan yang lestari dapat menjamin kelangsungan seluruh makhluk hidup secara berkelanjutan.

Baca Juga: Jambore Nasional: 64 Kontingen Pramuka Kabupaten Sukabumi Training Center di Warungkiara

Secara faktual, kawasan ini menjadi tempat pengawetan satwa endemik Jawa Barat, di antaranya macan tutul Jawa dan penyu hijau. Kawasan ini juga tercatat sebagai habitat banteng dan merak hijau.

Selain sebagai habitat berbagai jenis kehidupan liar, kawasan hutan ini juga memiliki beberapa isu strategis nasional, antara lain sebagai calon habitat kedua badak Jawa, termasuk dalam zona Biodiversity dan Geodiversity Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark, sanctuary macan tutul Jawa, dan rencana lokasi reintroduksi banteng.

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT