Sukabumi Update

GISLI Edukasi Nelayan Palabuhanratu Keselamatan Berlayar hingga Salurkan BPJS Ketenagakerjaan

GISLI sendang melatih nelayan terkait simulasi penanganan kebakaran sederhana di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu. (Sumber : SU/Ilyas)

SUKABUMIUPDATE.com – Menjadi nelayan bukan sekadar menjemput rezeki di laut, melainkan juga bertaruh nyawa melawan tingginya risiko kecelakaan kerja. Berangkat dari keprihatinan terhadap nasib nelayan tradisional, Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI) turun ke Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Senin (13/7/2026) untuk menyalurkan program pemberdayaan keselamatan berlayar.

Program bertajuk "Fisher Women as Agent of Change" itu tidak hanya memberikan edukasi keselamatan berlayar kepada nelayan, tetapi juga melibatkan perempuan nelayan sebagai agen perubahan agar budaya keselamatan semakin kuat di lingkungan keluarga nelayan.

Ketua Pelaksana sekaligus Bidang Riset GISLI, Orima Melati Davey, mengatakan gerakan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masih tingginya angka kecelakaan yang melibatkan nelayan tradisional di Indonesia.

Baca Juga: Polling: 51 Persen Responden Setuju Nama Jawa Barat Diubah Menjadi Provinsi Sunda

"Motivasi kami berawal dari keprihatinan. Mayoritas nelayan di Indonesia merupakan nelayan tradisional, sementara berdasarkan data yang kami miliki sejak awal tahun 2000, angka kecelakaan masih cukup tinggi, bahkan setiap tahunnya di atas 100 kejadian. Banyak yang bukan karena mereka tidak tahu, tetapi karena belum mendapat dukungan yang memadai atau belum terbiasa menerapkan budaya keselamatan saat melaut," ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Senin (13/07/2026).

Menurut Orima, GISLI ingin membangun kesadaran bahwa keselamatan bukan hanya menjadi tanggung jawab nelayan, melainkan juga keluarga, terutama para istri nelayan yang memiliki peran penting dalam mengingatkan suami sebelum berangkat melaut.

"Hari ini fokus kami adalah keselamatan jiwa dan keselamatan kerja. Besok kami lanjutkan dengan keselamatan ekonomi melalui pelatihan pengolahan hasil perikanan dan pemasaran produk. Jadi program ini menyentuh dua sisi sekaligus, yaitu keselamatan nyawa dan kesejahteraan keluarga nelayan," katanya.

Baca Juga: Nomor WhatsApp Penipu Catut Nama Sekdis Pendidikan Sukabumi Herdiawan Waryadi

Pada hari pertama kegiatan, peserta mendapatkan berbagai materi mulai dari dasar-dasar keselamatan pelayaran, teknik penyelamatan diri, hingga simulasi penanganan kebakaran sederhana di atas kapal yang dipandu tim Kesyahbandaran PPN Palabuhanratu.

Selain itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) turut memberikan sosialisasi Program Desa Bersinar (Bersih dari Narkoba). Menurut GISLI, nelayan menjadi salah satu kelompok yang rentan dimanfaatkan dalam praktik penyelundupan ilegal sehingga pemahaman mengenai bahaya narkoba dan kejahatan lintas negara juga dinilai penting.

Sebagai bentuk dukungan nyata, GISLI juga memberikan bantuan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Bukan Penerima Upah (BPU) bagi sekitar 60 nelayan selama tiga bulan pertama.

Baca Juga: Wisata Hemat Buat Keluarga, Pemandian Cipalias Kolam Alami dengan Air Jernih Menyegarkan

Humas GISLI, Anggi Hakim, mengatakan bantuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal agar para nelayan memiliki perlindungan kerja secara berkelanjutan.

"Kami mendukung sekitar 60 nelayan melalui BPJS Ketenagakerjaan BPU selama tiga bulan pertama. Harapannya setelah itu bisa dilanjutkan secara mandiri oleh masing-masing nelayan," katanya.

Ia berharap langkah GISLI dapat menginspirasi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah maupun sektor swasta, untuk ikut memberikan perlindungan kepada nelayan.

Baca Juga: Gaji ASN Dipotong 30 Persen Agar PPPK Tidak di PHK, Komisi II DPR Nilai Berisiko

"Kami mengundang semua pihak, baik pemerintah maupun swasta, untuk bersama-sama berkontribusi. Hari ini kami memulai dengan memberikan dukungan BPJS Ketenagakerjaan, dan tentu kami berharap pemerintah daerah juga bisa melakukan hal serupa," ujarnya.

Sementara itu, Tim Kesyahbandaran PPN Palabuhanratu, Adyaska Zikri Robbi, mengungkapkan bahwa kepatuhan terhadap standar keselamatan sudah diterapkan secara ketat bagi kapal-kapal berukuran besar.

Menurutnya, setiap kapal wajib memenuhi seluruh persyaratan keselamatan sebelum memperoleh Surat Persetujuan Berlayar (SPB).

"Untuk kapal-kapal besar kami sangat ketat. Kalau alat keselamatannya belum lengkap, kami tidak akan mengeluarkan Surat Persetujuan Berlayar. Jumlah life jacket, life buoy, hingga APAR semuanya harus sesuai ketentuan dan diperiksa sebelum kapal berangkat," jelasnya.

Baca Juga: Kebocoran Pipa 8 Inci Ganggu Distribusi Air Bersih di Parakansalak, Perumda TJM Targetkan Normal Sore Ini

Namun, kondisi berbeda masih ditemui pada kapal-kapal nelayan kecil yang umumnya belum sepenuhnya melengkapi perlengkapan keselamatan.

Karena itu, Adyaska menilai kegiatan seperti yang dilakukan GISLI sangat membantu meningkatkan kesadaran sekaligus memenuhi kebutuhan alat keselamatan bagi nelayan tradisional.

"Masih ada nelayan yang menganggap alat keselamatan itu tidak terlalu penting karena merasa sudah terbiasa melaut sejak lama. Padahal insiden bisa terjadi kapan saja. Kami terus melakukan sosialisasi agar budaya keselamatan benar-benar tertanam," katanya.

Meski demikian, ia menyebut upaya pencegahan yang dilakukan selama ini membuahkan hasil positif. Berdasarkan catatan Kesyahbandaran PPN Palabuhanratu, sepanjang satu tahun terakhir tidak tercatat kecelakaan kapal nelayan di wilayah kerja PPN Palabuhanratu.

"Data kami selama satu tahun terakhir nol kecelakaan kapal nelayan di wilayah PPN Palabuhanratu. Kami ingin kondisi ini terus dipertahankan melalui pengawasan teknis yang ketat serta edukasi keselamatan kepada seluruh nelayan," pungkasnya.

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT