Sukabumi Update

Cerita Meti di Kota Sukabumi: Korban KDRT, Bertahan Hidup di Musala-MCK Bersama 2 Anaknya

Meti (43) saat berada dikediamannya (mushala-MCK) di Kampung Sawahbera, RT 03/03, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Rabu (22/7/2026). (Sumber : SU/Asep Awaludin).

SUKABUMIUPDATE.com – Di sebuah bangunan musala berukuran sekitar 3 x 3 meter sekaligus MCK (Mandi Cuci Kakus) di Kampung Sawahbera RT 03/03, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, hidup seorang wanita bernama Meti Aryanti (43) yang menjalani hari-harinya bersama dua anaknya.

Sudah lebih dari tiga tahun, bangunan yang awalnya diperuntukkan bagi kepentingan umum itu menjadi tempat mereka berteduh setelah rumah tangganya hancur akibat dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Di ruangan sederhana itulah Meti membesarkan seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan seorang balita. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia hanya mengandalkan pekerjaan serabutan yang datang sewaktu-waktu.

"Ya, kesehariannya ya paling ngasuh anak. Kalau ada yang nyuruh baru kerja, kalau nggak mah ya diam wae di rumah. Kerja mah serabutan disuruh apa aja gitu. Yang penting kerja," ujar Meti kepada Sukabumiupdate.com di lokasi pada Rabu (22/7/2026).

Meti mengaku terpaksa tinggal di bangunan tersebut setelah ditinggalkan suaminya. Sebelum berpisah, ia mengaku sempat mengalami KDRT dan telah berupaya mencari keadilan dengan melapor hingga menjalani visum. Namun, menurutnya, tidak ada tindak lanjut yang dirasakan.

Baca Juga: 13 Formatur Sepakati KH Nadziri Pimpin Kembali MUI Sukabumi, Sekretaris KH Encep Assalam

"Ya karena suaminya kurang tanggung jawab. Dulu kan KDRT, sempat KDRT. Sudah laporan sana-sini sampai divisum, cuman enggak ada respon gitu, ya udah we diam di sini," tuturnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Meti tetap berusaha bertahan demi kedua anaknya. Penghasilannya yang tidak menentu membuatnya kerap kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga harus meminjam uang ketika tidak memiliki pekerjaan.

"Buat sehari-hari mah ya gitu kerja serabutan aja nunggu yang nyuruh bantu-bantu, paling ya kalau kekurangan enggak punya uang, pinjam," katanya.

Ia mengaku bersyukur masih menerima bantuan sosial dari pemerintah. Namun, bantuan tersebut belum mampu menjawab kebutuhan utamanya, yakni memiliki tempat tinggal yang layak.

"Ya yang penting mah ada tempat tinggal yang layak aja, bisa ditempati lah selayaknya," ucapnya.

Saat ditanya mengenai keinginannya memiliki rumah sendiri, Meti hanya bisa berharap.

Baca Juga: Sudaryono Jadi Kepala BGN Gantikan Nanik, Dilantik Prabowo Hari Ini

"Harapan mah ada, cuman ya nggak mungkin, apalagi keadaan sekarang kerja yang nyuruh cuman sekali-sekali gitu aja," ujarnya lirih.

Di lokasi yang sama, Ketua RW setempat, Saepuloh, menjelaskan bahwa bangunan yang kini ditempati Meti bukanlah toilet umum seperti yang kerap disangka masyarakat. Bangunan tersebut merupakan musala yang dahulu dibangun bersamaan dengan fasilitas MCK umum untuk kepentingan warga.

"Jadi bukan tinggal di WC sebenarnya mah ya. Ini teh musala, bahkan ini layak untuk dibikin kamar, ini ukurannya ada 3 x 3. Ya, jadi bukan tinggal WC ya. Ini sebenarnya mah layak gitu," jelas Saepuloh.

Ia mengatakan, Meti merupakan warga asli lingkungan tersebut. Setelah ditinggalkan suaminya, ia akhirnya menempati musala yang sudah lama tidak digunakan untuk kegiatan ibadah.

"Iya warga asli sini, jadi masih ada saudaranya juga di sini cuman sudah berkeluarga," katanya.

Menurut Saepuloh, bangunan tersebut awalnya dibangun sebagai fasilitas umum karena saat itu masih banyak warga yang belum memiliki toilet sendiri.

Baca Juga: Geger! Pria 27 Tahun di Pabuaran Sukabumi Tewas Tergantung di Rumahnya

"Sebetulnya ini dulu dibangun untuk kepentingan umum, jadi dulu masih banyak yang belum punya WC, jadi dibikin WC umum sekaligus ada mushalanya, cuman jarang dipake kalau mushala akhirnya dimanfaatkan sama Bu Meti," ungkapnya.

Meski tinggal dalam kondisi serba terbatas, Saepuloh memastikan Meti telah menerima berbagai program bantuan sosial dari pemerintah. "Kalau bansos dapet semuanya," pungkasnya.

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT