SUKABUMIUPDATE.com – Warga Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, yang sebelumnya terpaksa memanfaatkan air kobak di aliran kali atau sungai akibat kekeringan akhirnya mendapat bantuan air bersih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi menyalurkan sekitar 15 ribu liter air bersih ke wilayah terdampak, Rabu (22/7/2026).
Bantuan tersebut disalurkan ke Kampung Babakansari RW 17 dan Kampung Bantar Muncang RW 06, Desa Sekarwangi, sebagai tindak lanjut atas laporan kekeringan yang sebelumnya disampaikan pemerintah desa kepada BPBD dan PMI.
Anggota Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC PB) BPBD Kabupaten Sukabumi, Imam Ihsani Kamal, mengatakan distribusi dilakukan menggunakan dua unit mobil tangki, masing-masing milik BPBD dan PMI Kabupaten Sukabumi.
"Hari ini kita mengirim dua unit. BPBD satu (10 ribu liter), dari PMI Kabupaten satu (5 ribu liter). Jadi total sekitar 15 ribu liter air bersih," ujar Imam kepada sukabumiupdate.com.
Baca Juga: 530 KK di Cibadak Terdampak Kekeringan, Warga Terpaksa Bikin Kobak untuk MCK
Menurutnya, pendistribusian dilakukan dengan melibatkan kepala dusun dan ketua RW setempat agar bantuan dapat diterima secara merata oleh warga yang membutuhkan.
"Untuk mekanisme pendistribusian air bersih ini, kami berkoordinasi dengan kadus dan juga Ketua RW setempat supaya pelaksanaannya tertib dan semua masyarakat bisa menerima bantuan air bersih ini," jelasnya.
Imam menjelaskan, Desa Sekarwangi menjadi salah satu lokasi prioritas setelah laporan kekeringan masuk beberapa hari lalu. Namun karena sejumlah wilayah lain di Kabupaten Sukabumi juga mengalami kondisi serupa, pendistribusian bantuan dilakukan secara bertahap.
"Laporan sudah masuk beberapa hari yang lalu. Karena memang banyak kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang terdampak, jadi pendistribusiannya bergiliran. Alhamdulillah hari ini bisa dilaksanakan di Desa Sekarwangi," ucapnya.
Ia menuturkan, bantuan air bersih tersebut mulai mengurangi ketergantungan warga terhadap sumber air darurat yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Alhamdulillah warga sudah mulai menggunakan air bersih, tidak menggunakan air kobakan lagi. Kami juga terus berkoordinasi dengan PDAM dan PMI Kabupaten Sukabumi agar distribusi air bersih bisa segera dilakukan ketika ada kebutuhan," katanya.
Selain bantuan air bersih, lanjut Imam, warga juga menyampaikan usulan agar tersedia solusi jangka panjang berupa pembangunan sumur bor di wilayah terdampak.
"Ada permintaan berupa sumur bor karena memang di lokasi terdampak ini sangat dibutuhkan," ujarnya.
BPBD Kabupaten Sukabumi juga mengimbau masyarakat agar menghemat penggunaan air selama musim kemarau. Selain itu, warga diminta segera melapor kepada petugas di tingkat desa, kecamatan, maupun BPBD apabila mengalami kesulitan air bersih.
"Selama masyarakat membutuhkan, kami akan terus berupaya memberikan pelayanan distribusi air bersih. Kami juga mengimbau masyarakat untuk selalu hemat menggunakan air. Jika sumber air di wilayahnya sudah tidak ada, silakan segera menghubungi petugas agar bisa segera ditindaklanjuti," tuturnya.
Baca Juga: Rekaman Kijang Biru Pelaku Begal, Warga Sukabumi Dibacok! Motor Dibawa Kabur
Warga Sudah Dua Bulan Dilanda Kekeringan
Ketua RW 17 Kampung Babakansari, Edi Supredi, mengatakan krisis air bersih di wilayahnya telah berlangsung hampir dua bulan. Selain menyulitkan kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga berdampak pada sektor pertanian warga.
"Ya, hampir dua bulanan. Dampak dari kemarau ini hasil tani juga gagal, sawah-sawah kering, termasuk air juga kering," kata Edi.
Edi merinci, di RW 17 sendiri terdapat sekitar 218 kepala keluarga atau 700 jiwa yang terdampak. Selama sumber air mengering, warga terpaksa mengambil air dari aliran sungai yang berjarak sekitar 500 meter dari permukiman.
"Kalau untuk konsumsi tidak layak. Tapi untuk cuci dan mandi, mau tidak mau menggunakan air dari kali. Untuk minum beli air galon atau isi ulang," ungkapnya.
Menurut Edi, sumur gali milik warga dengan kedalaman sekitar enam hingga 10 meter mulai mengering setiap musim kemarau karena kondisi tanah yang didominasi batuan.
"Di sini tekstur tanahnya cepat kering. Kalau seminggu tidak hujan, sumur sudah mulai kering," ucapnya.
Ia mengungkapkan, wilayahnya sebenarnya pernah memiliki fasilitas sumur bor dan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Namun keduanya kini tidak berfungsi karena kerusakan mesin.
"Sumur bor ada, tapi mesinnya mati. Pamsimas juga tidak jalan karena mesinnya rusak," katanya.
Meski bantuan air bersih yang diterima cukup membantu kebutuhan warga untuk sementara waktu, Edi berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi permanen agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
"Alhamdulillah untuk hari ini cukup. Tapi ke depannya mudah-mudahan ada bantuan sumur bor yang lebih dalam supaya masyarakat benar-benar terbantu," pungkasnya.
Editor : Denis Febrian