SUKABUMIUPDATE.com – Sekitar 300 hektare lahan sawah atau pertanian di wilayah Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, terancam gagal tanam akibat krisis pasokan air irigasi. Kondisi tersebut terjadi di Daerah Irigasi (DI) Cikolawing 1 yang melayani ribuan petani di empat desa.
Ketua P3A Mitra Cai DI Cikolawing 1, Basroh Ramdansyah, mengatakan saluran irigasi teknis sepanjang sekitar 11 kilometer tersebut mengairi lahan pertanian di Desa Cihanjawar, Nagrak Utara, Nagrak Selatan, dan Balekambang dengan total area layanan mencapai sekitar 600 hektare.
Namun saat ini, lebih dari separuh area layanan tidak lagi mendapatkan pasokan air secara optimal.
"Dari sekitar 600 hektare area layanan irigasi, lebih dari 50 persennya atau sekitar 300 hektare saat ini relatif tidak terairi," ujar Basroh kepada sukabumiupdate.com, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, aliran air masih relatif normal di wilayah hulu yang berada di Desa Cihanjawar. Namun saat memasuki wilayah Nagrak Utara, debit air yang mengalir hanya tersisa sekitar 20 hingga 30 persen.
Kondisi lebih parah terjadi di sebagian wilayah Nagrak Utara, Nagrak Selatan, dan Balekambang yang nyaris tidak lagi mendapatkan pasokan air.
Baca Juga: Usai Viral Tinggal di Musala-MCK Sukabumi, Meti dan 2 Anaknya Segera Punya Hunian Layak
Basroh menjelaskan, persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh musim kemarau. Penurunan debit air memang terjadi, namun pendangkalan saluran irigasi dan kerusakan jaringan yang belum tertangani menjadi faktor utama terganggunya distribusi air.
"Di hulu air masih ada meskipun debitnya turun karena kemarau. Tetapi yang paling utama itu pendangkalan dan beberapa kerusakan yang sudah lama tidak diperbaiki," ungkapnya.
Pihaknya mengaku telah telah berulang kali berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), mengenai kebutuhan normalisasi saluran irigasi. Bahkan, kata dia, sempat ada informasi bahwa penanganan DI Cikolawing 1 akan masuk dalam program bantuan pemerintah pusat.
"Kami mendapat informasi akan ada intervensi melalui program Banpres, tetapi sampai sekarang belum ada informasi yang jelas. Sementara kondisi ini sudah berlangsung cukup lama," tuturnya.
Akibat berkurangnya pasokan air, sejumlah komoditas pertanian, terutama tanaman padi dan palawija, mulai terdampak. Basroh menyebut banyak petani yang sudah menyiapkan bibit padi terancam tidak bisa melanjutkan masa tanam karena air tidak tersedia.
"Petani sudah menyiapkan bibit, tetapi ketika akan ditanam air malah tidak ada. Akhirnya bibit menjadi tidak termanfaatkan," ucapnya.
Selain berdampak pada sektor pertanian, kondisi saluran yang kering juga menimbulkan persoalan lingkungan. Pasalnya, saluran irigasi tersebut melintasi kawasan permukiman sehingga sampah yang terbawa dari hulu mengendap dan berpotensi memicu gangguan kesehatan masyarakat.
"Ini bukan hanya persoalan pertanian, tetapi juga kesehatan lingkungan karena saluran irigasi melintasi kawasan permukiman di Nagrak Utara, Nagrak Selatan, dan Balekambang," katanya.
Untuk mengurangi dampak yang lebih luas, P3A Mitra Cai bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan kelompok tani setempat melakukan berbagai upaya swadaya. Salah satunya dengan menutup sejumlah titik kebocoran saluran menggunakan sekitar 700 karung yang dibeli dan dipasang secara mandiri.
"Kami hampir setiap minggu turun ke hulu bersama Gapoktan dan kelompok tani. Karung yang digunakan untuk menutup kebocoran sudah sekitar 700 karung. Tetapi kemampuan masyarakat tentu terbatas, baik tenaga maupun biaya," ujarnya.
Basroh kemudian berharap pemerintah segera merealisasikan program normalisasi DI Cikolawing 1 agar pasokan air kembali normal dan aktivitas pertanian masyarakat tidak semakin terganggu.
Ia menambahkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait telah berulang kali dilakukan. Namun menurutnya, penanganan yang lebih menyeluruh melalui normalisasi saluran irigasi masih sangat dibutuhkan.
"Harapan kami program normalisasi DI Cikolawing 1 segera dilaksanakan. Perlu ada percepatan agar persoalan ini bisa segera tertangani," pungkasnya.
Editor : Denis Febrian