Sukabumi Update

Kekeringan Kemarau, Warga Bojong Cibadak Gotong Royong Selamatkan Air Tersisah

warga RT 2 dan RT 3 RW 02 Kampung Bojong Jagal, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, bergotong royong memperbaiki saluran air yang bocor (Sumber: dok warga)

SUKABUMIUPDATE.com - Dua tahun terakhi saat musim kemarau, warga RT 2 dan RT 3 RW 02 Kampung Bojong Jagal, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, kerap mengalami kesulitan air bersih. Warga melakukan banyak upaya, salah satunya memperbaiki saluran air yang bocor sebagai upaya swadaya agar distribusi air ke pemukiman kembali lebih optimal.

Pada Sabtu (25/7/2026), sekitar 30 warga bergotong royong memperbaiki saluran air yang melintasi pemukiman. Supriyatna (51) mengatakan kekeringan juga dipicu saluran irigasi dari sumber air di bagian hulu belum diperbaiki secara menyeluruh. 

Meski sebagian sudah diperbaiki, masih ada sejumlah titik kebocoran sehingga aliran air ke Kampung Bojong Jagal belum maksimal. "Selama dua tahun ini setiap musim kemarau kami mengalami kekeringan karena irigasi di hulu rusak. Kami terus berusaha supaya air bisa mengalir ke wilayah kami, tetapi ketika air sudah mulai mengalir, ternyata saluran di wilayah warga juga jebol. Akhirnya kami harus terus berjuang supaya air bisa kembali," ujar Supriyatna.

Baca Juga: Cerita Mak Uwar Selamatkan Diri Saat Kasepuhan Ciptamulya Terbakar: Leuit Padi Simpanan Warga Adat Jadi Arang

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong warga menggelar kerja bakti karena dampaknya mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain sumur yang mengering, ia menyebut di lingkungannya juga sudah ada warga yang terserang demam berdarah dengue (DBD).

"Warga merasakan dampaknya, mulai dari sumur yang kering sampai ada warga yang terkena DBD. Makanya kami terus berjuang supaya air bisa normal kembali," katanya.

Dalam kegiatan itu, warga membongkar bagian saluran yang mengalami kebocoran cukup parah agar tidak semakin meluas dan merusak area permukiman. Sebelumnya, warga juga telah membersihkan saluran yang tersumbat di kawasan pertokoan agar aliran air lebih lancar.

Baca Juga: Tampil Apik di Piala Dunia 2026, Vozinha Selangkah Lagi Gabung Colo Colo

"Dibongkar dulu karena kebocorannya sangat parah. Kalau dibiarkan bisa merusak perumahan warga," ucapnya.

"Alhamdulillah antusiasnya cukup baik karena sama-sama membutuhkan," ujarnya.

Selama musim kemarau, warga mengandalkan mata air yang berada di bawah kampung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk mengambil air, mereka harus berjalan sekitar 500 meter sambil membawa jerigen maupun galon.

Baca Juga: Partai Golkar Peduli Korban Kebakaran di Nyalindung Sukabumi

"Untuk minum, masak, mandi, dan mencuci masih mengandalkan mata air di bawah. Jaraknya sekitar 500 meter, jadi warga membawa jerigen atau galon untuk mengambil air," katanya.

Supriyatna mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab bantuan air bersih belum menjangkau kampungnya. Menurutnya, kemungkinan salah satu penyebabnya karena kebutuhan tersebut belum tersampaikan kepada pemerintah.

Sebagai solusi sementara, warga berharap air dari mata air di bawah dapat dipompa menuju bak penampungan di atas kampung sebelum disalurkan ke rumah-rumah warga. Sementara untuk jangka panjang, mereka berharap perbaikan saluran irigasi dapat dilakukan secara menyeluruh agar pasokan air kembali normal setiap musim kemarau.

Baca Juga: Korsleting MCK Umum, Saksi Ungkap Asal Api Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi

Ia mengatakan, keterbatasan debit air membuat aktivitas warga menjadi lebih berat. Untuk mandi dan mencuci, warga harus bergantian mengambil air dari mata air karena debitnya terbatas. "Kadang mau mandi atau mencuci jadi susah karena air terbatas. Ada yang mengambil air malam hari, ada juga yang subuh. Tetap harus antri," katanya.

Seluruh proses perbaikan saluran dilakukan secara swadaya. Warga menyumbangkan tenaga dan peralatan dengan harapan kebutuhan air bersih dapat kembali terpenuhi dan kondisi lingkungan menjadi lebih baik. "Dengan air mengalir lagi, kami berharap lingkungan lebih bersih dan dampak DBD bisa hilang. Di lingkungan kami sudah ada dua orang yang terkena DBD," pungkasnya.

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT