SUKABUMIUPDATE.com - Perubahan komoditas perkebunan teh Parakansalak di Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, menjadi perkebunan kelapa sawit dinilai membawa dampak terhadap masyarakat dan lingkungan. Hal itu disampaikan Dawang, mantan karyawan yang bekerja di perkebunan tersebut sejak 1986 hingga 2017.
Menurut Dawang, saat Perkebunan Teh Parakansalak masih beroperasi, keberadaannya menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga. Perusahaan saat itu mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, baik untuk kegiatan di kebun maupun di pabrik pengolahan teh.
"Yang paling menguntungkan wilayah setempat adalah masyarakat. Tenaga kerja bisa menyerap banyak tenaga kerja," kata Dawang kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (25/7/2026).
Ia mengatakan, masyarakat Parakansalak pada masa itu banyak bergantung pada aktivitas perkebunan. Bahkan, pekerja tidak hanya berasal dari wilayah sekitar, tetapi juga dari berbagai daerah.
"Dulu masyarakat Parakansalak memang bergantung kepada perkebunan. Banyak orang dari mana-mana kerja di Perkebunan Parakansalak," ujarnya.
Baca Juga: Aksi Bersih-bersih di Sungai Cipamatutan, Warga Minta Pemkab Sukabumi Lakukan Normalisasi
Namun, setelah produksi teh terus menurun hingga akhirnya perkebunan beralih menjadi kelapa sawit, kondisi tersebut ikut berubah. Menurut Dawang, dampak perubahan itu dirasakan oleh masyarakat yang sebelumnya menggantungkan mata pencaharian dari perkebunan teh.
Selain berdampak terhadap tenaga kerja, Dawang menilai perubahan komoditas juga memengaruhi kondisi lingkungan. Ia mengaku merasakan perubahan suhu di kawasan Parakansalak setelah sebagian besar lahan teh diganti menjadi perkebunan sawit.
"Perubahan suhu sangat signifikan. Dulu Parakansalak tidak panas seperti sekarang. Ketika sudah diganti sawit, panas," katanya.
Menurut Dawang, secara topografi kawasan Parakansalak lebih sesuai untuk tanaman teh dibandingkan kelapa sawit. "Sebenarnya topografi kita tidak untuk sawit," ujarnya.
Perubahan tersebut juga meninggalkan kesan mendalam bagi Dawang. Sebab, sejak pertama bekerja pada 1986, ia ikut membuka lahan dan menanam pohon teh yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
"Secara pribadi menyayangkan sekali. Sedih, karena dari dulu ikut menanam pohon tehnya. Sekarang sudah tidak ada," tuturnya.
Baca Juga: John Herdman Waspadai Kamboja Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
Dawang bekerja di Perkebunan Teh Parakansalak hingga 2017. Saat itu, proses alih fungsi lahan menuju perkebunan kelapa sawit sudah berlangsung secara bertahap.
"Saya dibesarkan oleh teh. Ketika tehnya sudah tidak ada, kebun teh itu sangat berkesan buat saya. Dari mulai petik sampai produksi saya tahu. Dulu suasana di lingkungan pabrik ramai, sekarang sudah tidak ada lagi kegiatan seperti dulu," pungkasnya.
Editor : Syamsul Hidayat