SUKABUMIUPDATE.com - Krisis air bersih di Kabupaten Sukabumi tak lagi soal kemarau panjang. Di Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, ratusan warga sudah lebih dari dua bulan hidup dengan sumur yang mengering, pasokan air pelan dari pipa swadaya, dan bantuan yang hanya sesekali. Sumber air lokal yang rapuh membuat kebutuhan berubah menjadi perjuangan.
Masyarakat sekarang bergiliran menggunakan pompa untuk mengalirkan air dari sungai kecil di dasar lembah. Dalam satu jam, air yang diperoleh hanya sekitar seperempat penampungan, sedangkan sebagian keluarga harus berjalan hampir satu kilometer untuk mengambil air atau mandi di kobakan kecil rembesan mata air. Air yang digunakan pun belum tentu layak konsumsi.
Baca Juga: Bayu Permana Tagih Janji Revisi Perbup Panas Bumi, Sinyal Positif untuk Desa di Lingkar PLTP Salak
Dua sumur bor bantuan pemerintah yang pernah menjadi harapan justru terbengkalai. Instalasi listrik rusak, bangunan tidak terawat, dan fasilitas yang sempat memasok air, berhenti berfungsi. Di tengah kondisi itu, warga mulai mengaitkan menyusutnya mata air dengan perubahan bentang alam di kawasan hulu yang sejak lama ditambang untuk kepentingan industri semen.
Namun, apa yang terjadi di Sekarwangi hanyalah satu fragmen dari krisis yang lebih luas. BPBD mencatat 11 kecamatan di Kabupaten Sukabumi telah melaporkan kekeringan. Lalu bagaimana warga bertahan ketika sumur mengering dan apa penjelasan Perumdam TJM soal ketahanan pasokan air di Sukabumi? Baca laporan selengkapnya dalam artikel di halaman teras.id.
Editor : Oksa Bachtiar Camsyah